Waspada Kebakaran Hutan, Bandara Tjilik Riwut Siaga Penuh

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh fenomena iklim global El Nino kini menjadi perhatian serius bagi sektor transportasi udara di Kalimantan Tengah. Otoritas Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, telah meningkatkan keWaspadaan guna memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga di tengah potensi penurunan jarak pandang akibat kabut asap.

General Manager Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan penyesuaian operasional yang dinamis. Keputusan untuk menjalankan atau menunda penerbangan kini sangat bergantung pada pemantauan kondisi cuaca secara real-time demi mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat.

“Penyesuaian operasional dilakukan berdasarkan kondisi cuaca dan mengutamakan aspek keselamatan penerbangan,” ujar I Made Darmawan pada Senin (27/7/2026).

Langkah preventif ini diambil menyusul adanya dampak nyata di lapangan, di mana kabut asap mulai memengaruhi jarak pandang (visibility). Sebagai contoh, operasional maskapai Susi Air dengan rute Palangka Raya menuju Hampapak (PKY-HMS) sempat terdampak oleh kondisi cuaca tersebut. Hingga saat ini, pihak bandara terus menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), AirNav Indonesia, serta pihak maskapai terkait.

Prosedur Darurat dan Kesiapsiagaan Bandara

Untuk mengantisipasi memburuknya situasi, Bandara Tjilik Riwut telah mengaktifkan prosedur penanganan kondisi darurat. Selain itu, manajemen bandara juga telah menyiagakan personel khusus untuk melakukan patroli rutin di area bandara serta memantau kondisi lingkungan sekitar secara berkala. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi dini potensi ancaman asap yang dapat mengganggu alur keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Secara operasional, bandara ini melayani lalu lintas penerbangan yang cukup padat dengan rata-rata 20 hingga 30 pergerakan pesawat setiap harinya. Dengan volume penumpang mencapai 2.500 hingga 3.000 orang per hari, konektivitas dari Palangka Raya menuju kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Banjarmasin, serta kota lokal lainnya seperti Sampit dan Muara Teweh menjadi prioritas layanan yang harus tetap terjaga.

Dampak El Nino dan Mitigasi Nasional

Kekhawatiran terhadap karhutla di tahun 2026 ini sejalan dengan peringatan BMKG mengenai potensi fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini. Fenomena ini diprediksi membawa kondisi iklim yang lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa meskipun kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase netral, namun tanda-tanda penguatan tetap harus diwaspadai. Sinergi antara musim kemarau dan El Nino dapat mengakibatkan curah hujan berkurang drastis, yang secara otomatis memicu lonjakan titik panas (hotspot).

Data BMKG mencatat hingga awal April 2026, jumlah titik panas di Indonesia telah mencapai 1.601 titik. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah melalui BMKG telah menerapkan beberapa pendekatan preventif, di antaranya:

  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): Dilakukan untuk pembasahan lahan (rewetting) di area rawan gambut.
  • Pemantauan Intensif: Melakukan pengawasan ketat terhadap tinggi muka air tanah di lahan gambut agar tetap lembap.
  • Koordinasi Lintas Sektor: Memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.

Wilayah-wilayah seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Kalimantan Barat dan Selatan dipetakan sebagai zona yang perlu mendapatkan perhatian ekstra selama periode Juli hingga Agustus. Dengan adanya koordinasi yang solid antara pengelola bandara dan otoritas terkait, diharapkan dampak negatif dari karhutla terhadap transportasi udara dapat diminimalisasi secara maksimal.