Dairi Prima Mineral Garap Tambang Anjing Hitam 1 Juta Ton

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – PT Dairi Prima Mineral (DPM) kembali menegaskan kesiapannya untuk mengoperasikan tambang bawah tanah di wilayah Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Proyek yang berfokus pada komoditas timah hitam (Pb) dan seng (Zn) ini diproyeksikan mampu mengolah hingga 1 juta ton bijih per tahun, menandai langkah besar perusahaan dalam mengoptimalkan potensi mineral di kawasan tersebut.

Technical Manager DPM, Widianto, mengungkapkan dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (27/7/2026) bahwa perjalanan menuju tahap operasional ini bukanlah proses yang singkat. Perusahaan telah melalui dinamika panjang sejak Kontrak Karya ditandatangani pada tahun 1998. Prospek yang kini dikenal dengan nama “Anjing Hitam” ditemukan pertama kali antara tahun 1998 hingga 2002 dengan kandungan mineral yang sangat menjanjikan.

Berikut adalah catatan perjalanan administratif dan operasional proyek DPM:

  • Studi Kelayakan & Perizinan Awal: Studi kelayakan pertama disusun pada 2004, disusul dengan pengesahan AMDAL oleh Bupati Dairi pada 2005.
  • Izin Kawasan Hutan: Pada 2012, perusahaan berhasil mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) seluas 53,11 hektare.
  • Tantangan Regulasi: Meski sempat ada revisi studi kelayakan pada 2015 dan persetujuan adendum AMDAL pada 2022, dinamika hukum sempat terjadi ketika Mahkamah Agung memenangkan gugatan masyarakat pada 2024. Hal ini menyebabkan pencabutan persetujuan adendum AMDAL oleh Menteri Lingkungan Hidup pada 2025.
  • Status Kontrak: Terlepas dari tantangan tersebut, perusahaan memastikan bahwa Kontrak Karya tetap sah dan berlaku hingga 29 Desember 2047.

Berdasarkan kajian terbaru, DPM memiliki dua fokus utama yaitu Prospek Anjing Hitam dan Prospek Lae Jehe. Prospek Anjing Hitam memiliki cadangan sebesar 7,7 juta ton dengan kadar seng mencapai 12,5 persen dan timah hitam 7,3 persen. Sementara itu, Prospek Lae Jehe tercatat memiliki cadangan sekitar 10 juta ton dengan kadar seng 6,4 persen dan timah hitam 3,8 persen.

“Untuk tahap awal kami akan mengembangkan Prospek Anjing Hitam terlebih dahulu, sedangkan Lae Jehe masih akan dilakukan pengeboran lanjutan untuk memperoleh data kadar mineral yang lebih detail,” jelas Widianto.

Dalam aspek teknis operasional, DPM berkomitmen menerapkan metode penambangan bawah tanah yang ramah lingkungan dengan pendekatan longhole stoping dan cut and fill. Inovasi utama yang diusung adalah penggunaan material tailing sebagai bahan pengisi kembali (backfill) ke dalam lubang tambang.

Proses ini memisahkan cairan dan padatan dari limbah tambang. Cairan akan didaur ulang untuk proses pengolahan, sementara bagian padatnya akan dicampur dengan semen untuk kemudian dipompa kembali ke dalam tambang. Dengan metode ini, perusahaan tidak lagi memerlukan bendungan tailing (Tailing Storage Facility), yang secara signifikan menekan dampak lingkungan di permukaan lahan.

DPM juga menargetkan pemisahan sulfur untuk menghasilkan konsentrat tambahan, sehingga hampir seluruh sisa proses pengolahan dapat dimanfaatkan kembali. Dengan kapasitas produksi 1 juta ton bijih kering per tahun, perusahaan memperkirakan total produksi selama masa operasi akan mencapai sekitar 2,43 juta ton konsentrat kering, yang mencakup kandungan logam seng sebesar 821.150 ton dan timah hitam sebesar 473.895 ton.