Hiburan Rakyat Ini Mirip Film Para Perasuk, Gunakan Roh Halus

Gaya Hidup8 Views

DermayuMagz.com – Film “Para Perasuk” yang kini tayang di bioskop Indonesia, mengangkat sebuah konsep hiburan rakyat yang unik dan sarat akan unsur mistis, yaitu Pesta Sambetan. Konsep ini, yang digambarkan dalam film sebagai tradisi turun-temurun di Desa Latas, sebuah desa fiksi di pinggiran Jakarta, melibatkan ritual pemanggilan roh hewan untuk merasuki para penari.

Sutradara film, Wregas Bhanuteja, menjelaskan bahwa meskipun filmnya bukan bergenre horor, inspirasi utamanya datang dari pengalaman adiknya yang memiliki kemampuan indra keenam sejak kecil. Sang adik sering mengaku melihat atau mengoleksi roh binatang dari tempat yang pernah dikunjunginya.

Pesta Sambetan sendiri digambarkan sebagai sebuah permainan alat musik yang bertujuan merasuki penari dengan roh hewan. Dalam film tersebut, disebutkan ada total 20 jenis roh hewan yang terlibat dalam hiburan rakyat ini. Meskipun film ini bergenre fiksi, konsep hiburan rakyat yang melibatkan unsur roh ternyata banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.

Berikut adalah beberapa contoh hiburan rakyat berupa tarian yang dipercaya melibatkan pemanggilan roh:

  • Jaran Kepang atau Kuda Lumping

    Berasal dari Jawa, tarian ini sangat kental dengan nuansa mistis, di mana roh leluhur dipercaya dipanggil. Penari yang kesurupan kerap melakukan atraksi luar biasa, seperti menyayat tubuh dengan benda tajam tanpa terluka, atau memakan beling dan berjalan di atas bara api.

  • Tari Seblang

    Dari Banyuwangi, Jawa Timur, Tari Seblang adalah hiburan rakyat yang konon telah ada sejak ratusan tahun lalu. Tarian ini biasanya dipentaskan saat ritual bersih desa oleh Suku Osing. Tujuannya adalah untuk menolak bala dan melindungi desa dari mara bahaya, baik dari alam maupun ulah manusia.

    Penari Seblang haruslah keturunan penari sebelumnya dan dipilih oleh tetua adat. Biasanya, penari adalah perempuan suci yang belum menstruasi atau perempuan yang sudah menopause. Pertunjukan ini berlangsung selama tujuh hari berturut-turut, dan para penari mampu melakukannya tanpa henti karena dipercaya telah dirasuki roh leluhur.

  • Tari Sintren

    Tari Sintren berasal dari Jawa Barat dan juga melibatkan ritual khusus untuk memanggil roh. Penari dipercaya akan kerasukan Dewi Lanjarsari dan akan terus menari hingga pawangnya menghentikannya. Syarat utama bagi penari Sintren adalah ia harus masih perawan.

    Tarian ini diangkat dari legenda Dewi Lanjarsari, ratu penguasa pantai utara Jawa. Kisahnya berpusat pada hubungan asmara Ki Joko Bahu dengan Rantamsari yang ditentang oleh Sultan Agung. Untuk mencari kekasihnya, Rantamsari kemudian menyamar sebagai penari.

  • Tari Dongkrek

    Kesenian tradisional dari Madiun, Jawa Timur ini diciptakan oleh Raden Tumenggung Prawirodipero III sekitar tahun 1867. Tujuannya adalah untuk mengusir wabah penyakit dan menolak bala.

    Tari Dongkrek menampilkan penari yang menggunakan topeng dengan karakter tertentu, seperti orang tua bijak, genderuwo (roh jahat), dan putri. Dalam pementasannya, karakter genderuwo terkadang benar-benar kerasukan roh, sehingga gerakannya menjadi tak terkendali.

  • Tari Calonarang

    Berasal dari Bali, Tari Calonarang dipersembahkan untuk roh leluhur demi menjaga keamanan dan ketentraman desa. Tarian ini berawal dari kemurkaan Calonarang, seorang janda sakti yang menyebarkan kutukan karena permintaannya ditolak.

    Calonarang kemudian berubah menjadi sosok Rangda yang mengerikan, dan Mpu Bharada, sang penasihat raja, menjadi Barong untuk melawannya. Tarian ini sangat kental dengan unsur mistis, termasuk adegan kekerasan seperti penusukan, namun para penari diyakini tidak terluka karena kerasukan roh kebal.

  • Tari Sigale-gale

    Tarian yang berasal dari Suku Batak ini sangat terkenal karena menggunakan boneka kayu yang didandani menyerupai seorang anak laki-laki dan dapat menari sendiri. Dipercaya, boneka kayu Sigale-gale telah dirasuki roh.

    Kisah Sigale-gale berawal dari kesedihan Raja Rahat atas meninggalnya putra tunggalnya, Sigale-gale, karena sakit. Raja kemudian memerintahkan pembuatan boneka kayu yang mirip Sigale-gale untuk mengobati kerinduannya. Sebelum pementasan, para penggerak boneka harus melakukan ritual pemanggilan arwah Sigale-gale.

  • Tari Selai Jin

    Tari Selai Jin berasal dari Ternate, Maluku Utara, dan berfungsi sebagai sarana komunikasi antara leluhur dengan bangsa jin. Tarian ini dilakukan secara berkelompok oleh laki-laki dan perempuan.

    Penari laki-laki membawa asap kemenyan, sementara penari perempuan membawa daun palem kering sebagai pelindung dari roh jahat. Perlahan, penari laki-laki akan bergerak ke tengah dan menari secara tak terkendali, sementara penari perempuan tetap berada di luar lingkaran.

  • Tari Bambu Gila

    Masih dari Ternate, Tari Bambu Gila juga digerakkan oleh roh. Atraksi budaya ini berasal dari kaki Gunung Gamalama dan dilakukan oleh tujuh pemuda yang memegang bambu berukuran panjang sekitar 2,5 meter.

    Sang pawang akan melakukan ritual khusus dengan membaca mantra sambil menyalakan kemenyan. Bambu yang tadinya tenang mendadak akan bergerak sendiri, membuat para pemuda kewalahan mengendalikannya.

    Baca juga di sini: Inter Milan Hempaskan Barcelona dalam Drama 13 Gol di San Siro

Berbagai hiburan rakyat yang melibatkan roh dalam pementasannya ini memang memiliki kemiripan dengan cerita dalam film “Para Perasuk”. Film yang dibintangi oleh Maudy Ayunda, Angga Yunanda, Anggun, Chicco Kurniawan, dan Bryan Domani ini sedang tayang di bioskop kesayangan Anda.