Peran Ghefira Agisha: Dari Farmasi ke Gerakan Tasik Kota Resik

Hiburan7 Views

DermayuMagz.com – Ghefira Agisha Nurazizah, seorang mahasiswi jurusan farmasi semester enam di BTH Tasikmalaya, tak hanya mengejar prestasi akademis, namun juga aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial dan inovasi. Di usianya yang ke-20 tahun, ia telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam memadukan ilmu sains dengan seni, serta kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Perempuan yang akrab disapa Gege ini memiliki pandangan bahwa setiap peran yang dijalani merupakan kesempatan berharga untuk memberikan manfaat bagi tanah kelahiran dan masyarakat luas. Melalui akun Instagramnya, @ghefiragisha, ia kerap membagikan berbagai aktivitasnya, mulai dari keterlibatannya dalam dunia pageant hingga aksi sosial yang dilakukannya di lapangan.

Perpaduan Bakat Seni dan Prestasi Gemilang

Minat Ghefira di dunia seni, khususnya tari, telah mengantarkannya pada berbagai pencapaian membanggakan. Ia berhasil meraih Juara 1 Duo Kpop Dance dan memenangkan ajang Sampurasoen Got Talent pada tahun 2023. Selain itu, bakat menarinya juga membawanya meraih Juara 2 pada ajang Glamz Fiesta 2023, Kompeni Fest 2023, serta Kpop Saehae Volume 3 di tahun 2022.

Di tingkat nasional, Ghefira juga berhasil menorehkan prestasi dengan masuk dalam jajaran Big 5 Modern Dance U-Nusa Mandiri pada tahun 2022. Puncak dari dedikasinya terhadap budaya lokal adalah terpilihnya ia sebagai Mojang Kameumeut Kota Tasikmalaya 2025. Gelar ini ia maknai sebagai sebuah tanggung jawab besar untuk berkontribusi lebih aktif bagi masyarakat.

Baca juga di sini: Adaptasi Film Animasi Modern dari Cerita Klasik Cinderella

Inovasi Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas

Sebagai calon farmasis, Ghefira juga menunjukkan kiprahnya dalam dunia kewirausahaan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Di bawah bimbingan apt. Ai Riyan Julyanti, M.Farm, ia memimpin sebuah tim yang mengembangkan inovasi minuman instan kaya antioksidan yang memanfaatkan limbah kulit nanas.

Proyek ini memiliki tujuan ganda, yaitu mengurangi jumlah limbah pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang selama ini terbuang di Kota Tasikmalaya. Timnya saat ini sedang menantikan proses seleksi pendanaan yang diharapkan dapat mendukung produksi massal minuman tersebut. Ghefira melihat potensi besar dalam limbah kulit nanas yang belum banyak dimanfaatkan untuk dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat.

Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah membangun konsistensi dalam riset dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar inovasi ini dapat memberikan dampak yang luas, baik di sektor kesehatan maupun ekonomi. Ia percaya bahwa potensi dari limbah tersebut sangat besar dan dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai.

Gerakan Nyata untuk “Tasik Kota Resik”

Kepedulian sosial Ghefira juga terlihat jelas melalui keterlibatannya dalam aksi “Clean The City” pada awal Januari 2026. Bersama ratusan relawan dari Gentra, ia turut serta membersihkan sampah di area publik, mulai dari Masjid Agung hingga Asia Plaza. Kegiatan ini bukan hanya sekadar membersihkan lingkungan fisik, tetapi juga upaya untuk menanamkan karakter peduli lingkungan pada generasi muda secara berkelanjutan.

Ghefira menekankan bahwa mewujudkan “Tasik Kota Resik” memerlukan upaya berkelanjutan dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Ia meyakini bahwa edukasi kepada generasi muda merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah yang efektif dan optimal. Dengan semangat gotong royong, ia berharap julukan kota resik dapat menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh warga Tasikmalaya.

Berbagi Ilmu dan Menginspirasi Sesama

Dalam perannya sebagai mentor di kelas modelling, Ghefira tidak hanya mengajarkan teknik catwalk, public speaking, dan etika berpenampilan, tetapi juga menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan pentingnya personal branding bagi masa depan kaum muda. Dukungan penuh dari keluarga dan teman-teman menjadi sumber semangat baginya untuk terus aktif di tengah kesibukan perkuliahan.

Berpegang teguh pada filosofi Sunda, “ulah cicingen di cai herang, kudu bisa nyebarkeun caang” (jangan berdiam diri di air jernih, harus bisa menyebarkan cahaya), Ghefira berharap langkahnya dapat menginspirasi orang lain. Ia berpesan agar ilmu dan kesempatan yang dimiliki tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan agar menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar. Ia mengajak seluruh warga Tasikmalaya, khususnya generasi muda, untuk tidak ragu terlibat dalam aksi sosial maupun inovasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi diri sendiri dan daerah.