DermayuMagz.com – Survei terbaru yang dirilis oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura menunjukkan pergeseran sentimen di Asia Tenggara terkait preferensi antara Tiongkok dan Amerika Serikat, dengan Tiongkok kembali mendominasi jika negara-negara di kawasan ini dipaksa untuk memilih.
Temuan ini mencerminkan dinamika kompleks di kawasan yang terus menerus menjadi medan persaingan antara dua kekuatan besar dunia tersebut. Hasil survei yang dipublikasikan pada awal April lalu ini menempatkan Tiongkok di posisi terdepan, sebuah perubahan signifikan setelah sempat tertinggal dari AS pada tahun sebelumnya.
Secara spesifik, laporan State of Southeast Asia 2026 yang dikeluarkan oleh lembaga pemikir tersebut pada 7 April lalu, mengungkapkan bahwa 52 persen responden di Asia Tenggara cenderung memilih Tiongkok jika dihadapkan pada skenario pilihan hipotetis antara kedua negara. Angka ini sedikit mengungguli Amerika Serikat yang dipilih oleh 48 persen responden.
Hasil ini menandai kembalinya dominasi Tiongkok dalam persepsi kawasan setelah sebelumnya AS lebih unggul dalam survei yang sama pada periode 2020 hingga 2023. Pada tahun 2024, Tiongkok sempat memimpin dengan 50,5 persen, namun kemudian mengalami penurunan pada tahun 2025 menjadi 47,7 persen, sebelum kembali merangkak naik pada survei terbaru.
Pertanyaan mengenai pilihan antara AS dan Tiongkok ini sendiri baru dimasukkan dalam survei sejak edisi tahun 2020. Laporan tersebut menyoroti betapa tipisnya keseimbangan sentimen di kawasan ini, dengan selisih yang relatif kecil antara kedua negara dalam setiap pelaksanaannya.
“Selisih regional yang sempit (52–48) mencerminkan lanskap strategis yang terbelah, bukan pergeseran tegas ke salah satu kubu,” demikian dijelaskan dalam laporan tersebut, mengindikasikan bahwa kawasan ini belum sepenuhnya membuat keputusan final.
Laporan tahunan yang memasuki edisi kedelapan ini secara rutin mengkaji pandangan kawasan terhadap berbagai isu strategis dan pengaruh dari negara-negara adidaya. Survei tahun ini dilaksanakan mulai 5 Januari hingga 20 Februari, melibatkan 2.008 responden dari seluruh 11 negara anggota ASEAN, termasuk Timor-Leste yang secara resmi bergabung pada Oktober 2025.
Para responden survei berasal dari spektrum latar belakang yang luas, mencakup akademisi, perwakilan media, organisasi non-pemerintah (LSM), aparatur pemerintah, pelaku sektor swasta, hingga berbagai elemen masyarakat sipil.
Dukungan yang Bervariasi di Setiap Negara
Di balik angka rata-rata yang menunjukkan preferensi terhadap Tiongkok, respons terhadap skenario “pilihan paksa” ini menunjukkan variasi yang cukup signifikan antarnegara di Asia Tenggara. Perbedaan ini mencerminkan adanya perbedaan sudut pandang dan kepentingan nasional masing-masing negara.
Negara-negara seperti Indonesia (80,1 persen), Malaysia (68 persen), Singapura (66,3 persen), Timor-Leste (58,2 persen), Thailand (55 persen), dan Brunei (53,5 persen) menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk memilih Tiongkok.
Sebaliknya, dukungan terhadap Amerika Serikat tetap kokoh di Filipina (76,8 persen), yang merupakan salah satu sekutu dekat AS. Negara lain yang juga menunjukkan preferensi kuat terhadap AS adalah Myanmar (61,4 persen), Kamboja (61 persen), dan Vietnam (59,2 persen). Sementara itu, Laos menunjukkan hasil yang hampir berimbang.
Laporan tersebut menyimpulkan, “Negara-negara dengan ketergantungan ekonomi yang erat pada China cenderung lebih condong ke Beijing, sementara mitra keamanan tradisional AS, terutama Filipina, tetap berpihak kuat pada Washington.”
Temuan ini juga menegaskan bahwa meskipun responden pada prinsipnya masih menginginkan netralitas, realitas struktural dan ekonomi dapat memengaruhi pilihan mereka jika memang harus menentukan sikap.
Optimisme Terhadap Hubungan dengan Tiongkok
Pada saat yang bersamaan, ekspektasi mengenai membaiknya hubungan antara negara-negara ASEAN dengan Tiongkok juga dilaporkan mengalami peningkatan di kawasan tersebut.
Ketika responden ditanya mengenai prospek hubungan negara mereka dengan Tiongkok dalam tiga tahun mendatang, mayoritas, yaitu 55,6 persen, memperkirakan bahwa hubungan tersebut akan membaik atau bahkan membaik secara signifikan. Ini menunjukkan pandangan yang secara umum optimis terhadap arah hubungan bilateral dengan Beijing, meskipun ketegangan strategis masih ada di beberapa wilayah.
Tingkat keyakinan ini dilaporkan sangat tinggi di Timor-Leste, Laos, Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Kamboja. Laporan ini juga menyoroti bahwa Tiongkok masih dipandang sebagai “mitra yang tak tergantikan” dan pengaruhnya diperkirakan akan tetap konstruktif atau setidaknya dapat dikelola.
Namun demikian, data survei juga menunjukkan adanya “perbedaan yang jelas” di dalam ASEAN. Filipina menjadi pengecualian yang mencolok, dengan mayoritas responden (55 persen) memperkirakan hubungan dengan Tiongkok akan memburuk atau memburuk secara signifikan, terutama akibat ketegangan yang terus berlanjut di Laut China Selatan.
Baca juga di sini: Gunung Semeru Siaga, Alat Pantau di Malang Hilang Dicuri
Bahkan di kalangan responden yang melihat hubungan dengan Beijing akan membaik, sejumlah faktor kekhawatiran tetap berpotensi menggerus persepsi positif terhadap Tiongkok. Campur tangan Tiongkok dalam urusan domestik negara-negara anggota ASEAN menjadi kekhawatiran utama di kawasan (30,3 persen).
Hal ini disusul oleh taktik keras Beijing di Laut China Selatan dan kawasan Mekong (28 persen), serta tekanan ekonomi melalui perdagangan dan pariwisata yang berada di peringkat ketiga (22,1 persen).
“Menonjolnya isu campur tangan domestik menunjukkan bahwa kekhawatiran kini semakin bersifat internal, bukan semata geopolitik,” demikian catatan dalam laporan tersebut. Responden di Myanmar, Indonesia, Laos, Thailand, dan Singapura secara khusus melaporkan tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi terhadap operasi pengaruh, termasuk melalui media sosial dan pendekatan terhadap komunitas etnis Tionghoa.
Pandangan Terhadap Amerika Serikat
Mengenai hubungan dengan Amerika Serikat, terutama dengan kemungkinan berlanjutnya kepemimpinan Donald Trump, hasil survei menunjukkan adanya “pandangan yang lebih hati-hati dan penuh ketidakpastian” di seluruh ASEAN.
Secara regional, 37,7 persen responden memprediksi hubungan akan tetap sama, menjadikannya pandangan yang paling dominan. Sebanyak 32,8 persen memperkirakan hubungan akan membaik, sementara 29,5 persen memprediksi akan memburuk. Angka ini menunjukkan penurunan optimisme dibandingkan survei tahun sebelumnya, di mana lebih banyak responden yang melihat adanya perbaikan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa persepsi mengenai faktor-faktor yang dapat merusak citra positif AS sangat didominasi oleh kekhawatiran ekonomi. Penggunaan sanksi, tarif, dan instrumen perdagangan lainnya oleh Washington untuk menghukum negara lain menjadi kekhawatiran utama (43,4 persen).
Angka ini jauh melampaui kekhawatiran terkait aktivitas militer, campur tangan domestik, maupun dukungan terhadap Israel atau Taiwan. Hal ini menandai pergeseran signifikan menuju kekhawatiran geoekonomi sebagai sumber utama ketidaknyamanan terhadap peran Washington di kawasan.
Ekspektasi kawasan untuk perbaikan hubungan dengan AS secara jelas mengarah pada pendekatan yang berbasis aturan dan konstruktif secara ekonomi. Jawaban terbanyak (38,5 persen) menyatakan bahwa Washington perlu menghormati hukum internasional dan lembaga-lembaganya, serta tidak merusak tatanan global.
Ini diikuti oleh harapan agar AS mendorong perdagangan bebas dan kemitraan strategis, bukan menerapkan tarif yang menghukum (24,9 persen), serta menghormati kedaulatan nasional dan otonomi kebijakan luar negeri (19,6 persen).
Kepercayaan dan Netralitas ASEAN
Untuk pertama kalinya sejak survei ini dilaksanakan pada tahun 2019, lebih dari sepertiga responden di ASEAN menyatakan percaya bahwa Tiongkok akan “melakukan hal yang benar” demi kepentingan komunitas global yang lebih luas. Sebanyak 39,8 persen responden yakin Tiongkok akan berperan positif dalam menjaga perdamaian, keamanan, kemakmuran, dan tata kelola global.
Tingkat kepercayaan yang tinggi ini terlihat di Laos, Brunei, Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Timor-Leste. Sebaliknya, ketidakpercayaan lebih dominan di Filipina, Vietnam, Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Di sisi lain, tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat relatif stabil, meskipun sedikit menurun menjadi 44 persen dari 47,2 persen pada tahun sebelumnya. Kepercayaan terhadap AS masih lebih tinggi daripada ketidakpercayaan di sebagian besar negara ASEAN, kecuali di Singapura, Indonesia, dan Malaysia.
Faktor utama yang mendorong kepercayaan terhadap AS adalah persepsi bahwa Washington memiliki sumber daya ekonomi besar dan kemauan politik untuk memimpin dunia (32,5 persen). Kekuatan militer AS sebagai penopang perdamaian dan keamanan global berada di posisi kedua (31,4 persen).
Namun demikian, lebih dari sepertiga responden yang tidak percaya pada AS (35 persen) menilai kekuatan ekonomi dan militernya bisa menjadi ancaman bagi kepentingan dan kedaulatan negara mereka. Persepsi ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh sikap intervensif Washington di kawasan lain.
Meskipun rivalitas kekuatan besar semakin menguat, responden “secara tegas menolak anggapan bahwa netralitas tidak lagi relevan”. Mayoritas (55,2 persen) menilai ASEAN perlu memperkuat ketahanan dan soliditas internalnya untuk menahan tekanan dari AS dan Tiongkok. Sikap ini menegaskan preferensi kawasan untuk memperkuat organisasinya sendiri daripada berpihak ke luar.










