DermayuMagz.com – Konflik yang tengah berkecamuk di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah memberikan dampak finansial yang signifikan terhadap Uni Eropa, dengan lonjakan biaya impor bahan bakar fosil yang mencapai angka fantastis.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan bahwa krisis yang terjadi di Timur Tengah telah mengakibatkan peningkatan pengeluaran sebesar 25 miliar euro, atau setara dengan Rp505 triliun, untuk impor bahan bakar fosil tanpa adanya penambahan pasokan energi.
Pernyataan ini disampaikan oleh von der Leyen dalam sebuah konferensi pers yang digelar setelah pertemuan informal para pemimpin negara Uni Eropa di Siprus. Pertemuan tersebut berlangsung selama dua hari, pada Kamis dan Jumat, dan membahas berbagai isu geopolitik, termasuk perkembangan terkini di Timur Tengah dan Ukraina, serta Kerangka Keuangan Multitahunan (MFF) untuk periode 2028-2034.
“Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata,” ujar von der Leyen pada Jumat, 24 Mei 2026. “Sejak awal konflik ini, tagihan kita untuk impor bahan bakar fosil telah melonjak lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan energi sedikit pun.”
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, Uni Eropa disebut tengah mempersiapkan berbagai langkah antisipasi. Upaya ini dilakukan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, seperti memburuknya kondisi ekonomi dan potensi kekurangan pasokan listrik di tengah krisis energi yang sedang berlangsung. Meskipun demikian, von der Leyen menyatakan bahwa situasi saat ini belum dianggap sebagai kondisi yang mengerikan.
Konteks konflik di Timur Tengah yang disebutkan dalam laporan ini merujuk pada serangkaian peristiwa yang terjadi sebelumnya. Berdasarkan informasi dari Sputnik/RIA Novosti-OANA, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan gabungan ke berbagai target di Iran. Serangan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur vital dan mengakibatkan jatuhnya korban sipil.
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran dikabarkan membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah. Tindakan ini dikemukakan sebagai bentuk pertahanan diri dari Iran. Pada 7 April, baik Washington maupun Teheran secara resmi mengumumkan adanya gencatan senjata yang berlaku selama dua pekan.
Baca juga di sini: Detektif Conan Dongkrak Perekonomian Jepang
Peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah ini juga memberikan dampak langsung pada jalur pelayaran internasional. Kekhawatiran akan gangguan keamanan hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz. Selat ini merupakan koridor maritim yang sangat krusial bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Akibat dari potensi terganggunya pasokan ini, harga bahan bakar di pasar internasional pun mengalami kenaikan.












