DermayuMagz – Menghidupkan kembali api semangat Dasasila Bandung yang pernah menginspirasi dunia, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dengan bangga menggelar serangkaian perayaan akbar untuk memperingati 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Acara monumental ini bukan sekadar kilas balik sejarah, melainkan sebuah seruan kuat untuk menengok kembali nilai-nilai luhur yang lahir dari pertemuan bersejarah tersebut dan menerapkannya di era modern yang penuh tantangan.
Perayaan 71 Tahun KAA yang dipusatkan di kota Bandung, kota tempat Kongres Asia Afrika bersejarah itu dilaksanakan, mengusung tema sentral “Menghidupkan Semangat Dasasila Bandung untuk Perdamaian Dunia”. Tema ini dipilih secara strategis untuk menegaskan relevansi Dasasila Bandung yang meliputi prinsip-prinsip anti-kolonialisme, anti-rasisme, promosi kerja sama damai, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara Asia dan Afrika.
Dalam pidatonya yang menginspirasi, Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, menekankan betapa krusialnya peran budaya dalam membangun fondasi perdamaian yang kokoh. Beliau menyatakan bahwa KAA bukan hanya sebuah peristiwa politik, tetapi juga sebuah manifestasi kekuatan budaya dan semangat persatuan bangsa-bangsa yang tertindas untuk meraih kemerdekaan dan martabat.
“Kekuatan budaya adalah perekat peradaban. Di tengah kompleksitas isu global saat ini, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Dasasila Bandung, seperti saling menghormati, kesetaraan, dan solidaritas, menjadi semakin relevan dan mendesak untuk diinternalisasi,” ujar Bapak Fadli Zon dengan penuh keyakinan. Beliau menambahkan bahwa perayaan ini adalah momentum untuk merajut kembali benang-benang persahabatan antarbudaya dan mempromosikan dialog yang konstruktif demi terciptanya dunia yang lebih adil dan damai.
Dasasila Bandung sendiri merupakan hasil kompromi dan kesepakatan dari 29 negara yang hadir pada KAA tahun 1955. Prinsip-prinsip ini menjadi landasan penting dalam perjuangan dekolonisasi dan gerakan non-blok, serta memberikan inspirasi bagi banyak negara berkembang dalam upaya membangun identitas nasional dan kedaulatan mereka. Ke-sepuluh prinsip tersebut mencakup:
- Penghormatan terhadap hak asasi manusia dan tujuan-tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- Penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
- Pengakuan kesetaraan semua ras dan kesetaraan semua bangsa, besar maupun kecil.
- Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam urusan-urusan dalam negeri negara lain.
- Penghormatan terhadap hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri atau secara sendiri-sendiri maupun secara kolektif, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk melayani kepentingan-kepentingan khusus dari salah satu negara besar.
- Tidak melakukan tindakan-tindakan maupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
- Penyelesaian segala perselisihan internasional diselesaikan dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, maupun penyelesaian hukum, serta cara-cara damai lainnya, sesuai pilihan pihak-pihak yang bersangkutan.
- Memajukan kepentingan-kepentingan bersama dan kerja sama.
- Penghormatan terhadap keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.
Perayaan 71 Tahun KAA ini tidak hanya diisi dengan pidato kenegaraan, tetapi juga berbagai kegiatan budaya yang kaya makna. Pameran seni kontemporer yang mengangkat tema perjuangan dan persatuan, pertunjukan teater yang merefleksikan semangat KAA, serta diskusi panel yang menghadirkan para akademisi, budayawan, dan diplomat, menjadi bagian integral dari rangkaian acara. Semuanya dirancang untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya sejarah dan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendahulu.
Melalui perayaan ini, Kemenbud berharap dapat menumbuhkan kembali kesadaran kolektif akan pentingnya solidaritas internasional dan semangat kemandirian. Lebih dari sekadar peringatan, ini adalah sebuah panggilan untuk bertindak, untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip Dasasila Bandung dalam kehidupan sehari-hari dan dalam relasi antarnegara di tingkat global.
Kemenbud berkomitmen untuk terus mempromosikan nilai-nilai perdamaian, kerja sama, dan saling menghormati yang merupakan warisan berharga dari Konferensi Asia Afrika. Dengan menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara yang senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh bangsa di dunia.
“Perayaan 71 Tahun KAA bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik, berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang telah teruji oleh zaman.”
