DermayuMagz.com – Pemerintah Indonesia secara tegas menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas ketersediaan dan harga beras di pasar domestik. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menekankan bahwa dengan status Indonesia yang telah mencapai swasembada beras sejak tahun 2025, tidak ada alasan bagi komoditas pangan pokok ini untuk mengalami kelangkaan atau lonjakan harga yang tidak wajar.
Dalam keterangannya pada Sabtu (25/7/2026), Mentan Amran menegaskan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini berada dalam posisi yang sangat aman. Melalui pengawasan ketat, pemerintah berupaya memastikan distribusi beras tetap lancar hingga ke tangan konsumen.
“Beras kita melimpah. Jangan ada yang mencoba mempermainkan harga di lapangan. Kami telah meminta Satgas Pangan Polri untuk turun langsung melakukan pengawasan secara berkala. Pangan, terutama beras, tidak boleh langka,” ujar Amran dalam pernyataan resminya.
Capaian Stok Tertinggi Sepanjang Sejarah
Amran memaparkan data bahwa saat ini terdapat 5,2 juta ton beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog. Jumlah ini melampaui kapasitas gudang standar yang hanya mampu menampung 3 juta ton, sehingga pemerintah harus menyewa gudang tambahan sebesar 2,3 juta ton untuk menampung kelebihan stok tersebut.
Pihaknya menegaskan bahwa kondisi surplus ini merupakan capaian luar biasa bagi Indonesia. Ia pun memberikan Peringatan keras kepada para pelaku usaha perberasan agar tidak mengambil keuntungan secara sepihak dengan menaikkan harga di luar kewajaran. Pemerintah tidak akan segan-segan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan spekulasi harga.
Kondisi di Tingkat Ritel dan Hulu
Senada dengan Mentan, pihak Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga memberikan klarifikasi terkait isu kelangkaan beras premium di beberapa ritel modern. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pasokan beras premium sebenarnya tetap tersedia dan aman.
- Bapanas terus melakukan penyaluran beras ke berbagai lini, termasuk ritel modern.
- Beras produksi BUMN, seperti merek Rania, tetap tersedia di pasar.
- Harga rata-rata nasional per 24 Juli 2026 tercatat di angka Rp 15.966 per kilogram, yang merupakan akumulasi dari berbagai zonasi HET di Indonesia.
Ketut menjelaskan bahwa penyesuaian harga yang terjadi di tingkat konsumen saat ini masih dalam batas wajar. Menurutnya, dinamika ini perlu dilihat secara holistik, tidak hanya dari sudut pandang konsumen, tetapi juga dari sisi kesejahteraan petani di hulu.
Keseimbangan antara Hilir dan Hulu
Pemerintah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekonomi bagi para petani. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, swasembada pangan harus dibarengi dengan posisi petani yang sejahtera agar produksi tetap berkelanjutan.
“Jika kita ingin swasembada, petani kita harus berada dalam posisi yang nyaman untuk terus berproduksi. Kenaikan harga di hilir memberikan ruang keuntungan yang adil bagi petani di hulu. Ini adalah langkah agar sektor pertanian kita tidak kembali mengalami keterpurukan seperti yang pernah terjadi pada sektor peternakan,” tambah Ketut.
Dengan sinergi antara Kementerian Pertanian, Bapanas, dan Satgas Pangan Polri, pemerintah optimistis bahwa stabilitas pangan nasional akan tetap terjaga. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena ketersediaan stok beras nasional saat ini dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian di seluruh pelosok negeri.






