DermayuMagz.com – Sektor perumahan rakyat di Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru yang signifikan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi berhasil menembus angka capaian tertinggi dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, sebuah pencapaian yang disebut sebagai keberlanjutan dari visi pembangunan yang telah dirintis jauh sebelumnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, memberikan apresiasi mendalam atas perjalanan panjang program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Menurutnya, fondasi kebijakan ini telah diletakkan sejak masa pemerintahan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat posisi Menteri Perumahan Rakyat dijabat oleh Suharso Monoarfa.
“Bapak (Presiden Prabowo) selalu mengajarkan kita untuk tidak melupakan jasa para pendahulu. Apa yang telah dirintis oleh Pak SBY dan Pak Suharso Monoarfa sangat berarti bagi rakyat, dan kami di sini hanya melanjutkan serta menambah porsinya agar lebih berdampak luas,” ujar Maruarar dalam acara Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Data menunjukkan tren kenaikan yang konsisten dalam penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika pada tahun 2023 realisasi rumah subsidi mencapai 228 ribu unit, angka tersebut melonjak drastis di era Presiden Prabowo. Tercatat, hanya dalam satu tahun masa pemerintahannya, rekor baru tercipta dengan total 278 ribu unit rumah subsidi yang berhasil disalurkan.
Transformasi Pengembang dari Sektor Akar Rumput
Keberhasilan program perumahan ini juga diwarnai dengan kisah inspiratif para pengembang yang terlibat. Dalam peresmian di Batang, Maruarar menyoroti sosok Widodo, seorang pengembang yang dulunya berprofesi sebagai tenaga pemasar atau sales. Kini, Widodo sukses mengelola proyek perumahan dengan skala akad massal mencapai 62.000 unit, dengan potensi keuntungan yang signifikan bagi pengembangan usahanya.
Fenomena ini serupa dengan kisah sukses pengembang lain yang sebelumnya telah diresmikan oleh Presiden Prabowo. Maruarar memaparkan beberapa contoh nyata bagaimana sektor perumahan menjadi pintu masuk bagi pemerataan ekonomi:
- Angga, seorang mantan office boy (OB), kini sukses menjadi pengembang rumah subsidi di Cileungsi, Jawa Barat, dengan capaian keuntungan mencapai Rp 50 miliar.
- Wawan, yang dulunya berprofesi sebagai pengemudi ojek di Batam, kini sukses membangun 50.000 unit rumah di Serang, Banten, sebuah pencapaian yang membanggakan keluarganya.
Maruarar menegaskan bahwa kisah-kisah di atas merupakan bukti nyata dari arahan Presiden Prabowo agar distribusi ekonomi dilakukan secara merata dan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pemerintah berkomitmen penuh untuk terus mendorong pengusaha-pengusaha daerah agar mampu berkembang dan naik kelas melalui sektor perumahan rakyat.
“Ekonomi harus terdistribusi. Kami berusaha menjalankan arahan Bapak Presiden dengan sungguh-sungguh. Ke depan, kami akan terus menunjukkan potensi pengusaha-pengusaha daerah yang berproses dari bawah, seperti yang akan kami tampilkan nanti di Jawa Timur,” tutup Maruarar.
Program KPR Subsidi ini tidak hanya menjadi solusi atas kebutuhan hunian bagi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi nasional yang inklusif, membuktikan bahwa kebijakan yang berkelanjutan dapat membuka peluang sukses bagi siapa saja yang gigih berusaha.






