DermayuMagz.com – Upaya memperkuat kedaulatan energi di kawasan Asia Tenggara kini memasuki babak baru melalui usulan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) terkait pembentukan skema cadangan minyak bersama. Langkah Strategis ini dinilai mampu menekan biaya operasional penyimpanan energi hingga 22 persen dibandingkan dengan pengelolaan yang dilakukan secara mandiri oleh masing-masing negara.

Dalam forum 2nd East Asia Media Caucus yang berlangsung di Jakarta, Jumat (6/11/2026), Senior Energy Economist ERIA, Han Phoumin, memaparkan urgensi dari kebijakan ini. Mengingat ketergantungan tinggi ASEAN terhadap impor minyak serta kerentanan jalur distribusi maritim, stabilitas pasokan menjadi variabel kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi regional.

Han menegaskan bahwa konsep ketahanan energi kontemporer tidak lagi sekadar berpatokan pada volume produksi atau kepemilikan aset fisik semata. Faktor krusial yang harus dipenuhi adalah jaminan aksesibilitas pasokan secara cepat saat terjadi guncangan pasar atau gangguan distribusi global.

“Ketahanan energi adalah tentang seberapa besar kemampuan Anda mengakses minyak ketika hal itu menjadi krusial dan mendesak pada saat dibutuhkan,” ujar Han dalam paparannya.

Efisiensi Melalui Skema Kolaborasi

Dalam kajian mendalam yang dilakukan ERIA, terdapat tiga pemodelan skenario untuk mencapai target cadangan minyak selama 60 hari. Analisis ini menyoroti potensi efisiensi biaya tahunan yang signifikan melalui integrasi kebijakan:

Melalui skema kerja sama, terdapat selisih penghematan mencapai US$ 610 juta per tahun jika dibandingkan dengan skema yang dipimpin secara nasional. ERIA memberikan catatan bahwa angka tersebut merupakan hasil pemodelan berbasis asumsi teknis dan bukan merupakan jaminan nilai penghematan mutlak bagi setiap negara anggota.

Syarat Operasional dan Implementasi

Model yang diusulkan ERIA menggunakan acuan 90 hari kebutuhan, yang terdiri dari 30 hari stok kilang atau komersial, ditambah 60 hari cadangan strategis. Namun, kebijakan ini tidak bersifat mengikat sebagai kuota wajib, melainkan sebagai referensi strategis yang dapat diadopsi sesuai kesiapan otoritas masing-masing negara ASEAN.

Keberhasilan skema ini sangat bergantung pada aspek teknis pendukung, seperti:

1. Aksesibilitas dan Logistik: Kelancaran prosedur pelepasan cadangan harus didukung oleh kesiapan infrastruktur, mulai dari kapasitas tangki penyimpanan, pelabuhan, hingga ketersediaan armada transportasi laut.

2. Standardisasi Kualitas: Kesesuaian spesifikasi minyak antarnegara menjadi syarat mutlak agar cadangan dapat segera disalurkan tanpa hambatan teknis saat keadaan darurat.

3. Uji Coba Proyek Percontohan: ERIA mendorong inisiatif sukarela yang melibatkan pemerintah dan pelaku industri untuk memvalidasi alur kerja, mulai dari pengajuan permintaan darurat hingga tahap pengisian kembali (refilling) cadangan.

Chief Operating Officer ERIA, Dr. Takayuki Yamanaka, menambahkan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik global, ketahanan energi telah menjadi prioritas utama. Inisiatif ini diharapkan mampu menjadi landasan bagi negara-negara ASEAN untuk membangun sistem pertahanan energi yang lebih kolaboratif dan efisien secara ekonomi.