DermayuMagz.com – Setelah tiga hari penuh hiruk pikuk diskusi, pameran karya, dan pertukaran gagasan, Festival Media (Fesmed) 2025 yang megah di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya merampungkan rangkaian acaranya. Panggung utama di lokasi bersejarah ini menjadi saksi bisu penutupan resmi Fesmed 2025 pada Minggu (14/9/2025) malam, menandai berakhirnya sebuah perhelatan akbar yang mengumpulkan para insan media, pegiat literasi digital, dan masyarakat umum dari berbagai penjuru negeri.
Perhelatan akbar ini bukan sekadar ajang pamer inovasi media atau ruang temu para profesional. Lebih dari itu, Fesmed 2025 telah menjadi medan pertempuran gagasan, arena refleksi mendalam mengenai peran media di era disrupsi, serta wadah penting untuk menyuarakan keprihatinan dan harapan masa depan jurnalisme Indonesia. Puncak acara penutupan ini pun turut diwarnai dengan penegasan krusial dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengenai urgensi perlindungan jurnalis di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Benteng Rotterdam Berdenyut dengan Energi Kreatif dan Intelektual
Selama tiga hari penyelenggaraannya, Benteng Rotterdam yang megah bertransformasi menjadi pusat aktivitas yang tak pernah padam. Mulai dari pagi hingga malam, berbagai sesi diskusi panel, lokakarya, pameran foto jurnalistik, hingga pemutaran film dokumenter bergantian memanjakan para pengunjung. Para pembicara yang hadir pun tidak main-main, mulai dari akademisi terkemuka, jurnalis senior yang telah malang melintang di dunia pemberitaan, hingga praktisi media dari berbagai platform, baik cetak, digital, maupun audiovisual.
Bukan hanya sekadar mendengarkan, Fesmed 2025 juga membuka ruang interaksi yang sangat berharga. Para peserta berkesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber, berbagi pengalaman, bahkan beradu argumen yang konstruktif. Suasana ini menciptakan ekosistem belajar yang dinamis, di mana setiap individu merasa didengarkan dan dihargai kontribusinya dalam memajukan dunia media di Indonesia.
Refleksi Mendalam Peran Media di Era Digital
Salah satu benang merah yang paling kuat terasa sepanjang Fesmed 2025 adalah refleksi mendalam mengenai peran media di era digital yang serba cepat dan penuh dengan disinformasi. Para pembicara secara konsisten menyoroti bagaimana lanskap media telah berubah drastis. Kehadiran media sosial, algoritma yang kompleks, serta maraknya berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalisme yang kredibel dan bertanggung jawab.
Diskusi-diskusi hangat membahas tentang bagaimana media perlu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasarnya. Strategi untuk membangun kepercayaan publik di tengah banjir informasi, pentingnya literasi digital bagi masyarakat, serta inovasi model bisnis media di era digital menjadi topik-topik yang tak henti-hentinya dibahas. Ada kesadaran kolektif bahwa media tidak bisa lagi hanya menjadi penyampai informasi, melainkan harus menjadi filter, pemandu, dan penjaga akal sehat di tengah derasnya arus informasi.
AJI Tegaskan Urgensi Perlindungan Jurnalis: Fondasi Demokrasi yang Rapuh
Di tengah euforia penutupan Fesmed 2025, sebuah pesan penting dan mendesak disuarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ketua Umum AJI Indonesia, yang hadir dalam acara penutupan, secara tegas menekankan bahwa kemajuan dunia media tidak akan pernah bisa optimal tanpa adanya jaminan perlindungan yang memadai bagi para jurnalis. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi dari berbagai kasus kekerasan, intimidasi, dan kriminalisasi yang masih sering dialami oleh pekerja media di lapangan.
“Tanpa jurnalis yang merasa aman dan dilindungi, maka pilar-pilar demokrasi kita akan semakin rapuh,” ujar Ketua Umum AJI. Ia memaparkan bahwa ancaman terhadap jurnalis tidak hanya datang dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, tetapi juga kadang muncul dari regulasi yang belum sepenuhnya berpihak atau bahkan dari lingkungan kerja yang tidak memberikan dukungan memadai.
AJI menyoroti beberapa poin krusial terkait perlindungan jurnalis:
- Keamanan Fisik dan Psikologis: Jurnalis seringkali berada di garis depan dalam melaporkan isu-isu sensitif, mulai dari bencana alam, konflik sosial, hingga kasus korupsi. Hal ini membuat mereka rentan terhadap ancaman fisik, teror, hingga tekanan psikologis. Perlindungan hukum dan dukungan dari institusi sangatlah vital.
- Kebebasan Berekspresi Tanpa Intimidasi: Intimidasi, baik dalam bentuk ancaman langsung, serangan siber, maupun tuntutan hukum yang berlebihan (SLAPP – Strategic Lawsuit Against Public Participation), dapat membungkam suara jurnalis dan menghambat kerja jurnalistik yang independen. AJI mendorong agar undang-undang yang ada dapat melindungi jurnalis dari praktik-praktik semacam ini.
- Akses Informasi yang Terjamin: Kebebasan untuk mengakses informasi adalah hak fundamental jurnalis. Kendala birokrasi, penolakan sepihak, atau bahkan penghalangan fisik untuk mendapatkan data dan narasumber dapat menghambat proses jurnalistik dan pada akhirnya merugikan publik yang berhak mendapatkan informasi yang akurat.
- Kesejahteraan dan Profesionalisme: Perlindungan jurnalis juga mencakup aspek kesejahteraan dan profesionalisme. Gaji yang layak, jaminan kesehatan, dan kesempatan pengembangan diri adalah bagian dari ekosistem kerja yang sehat yang memungkinkan jurnalis menjalankan tugasnya dengan optimal dan tanpa tekanan finansial yang berlebihan.
Harapan Baru untuk Jurnalisme Indonesia
Penutupan Fesmed 2025 di Benteng Rotterdam ini tidak hanya menjadi akhir dari sebuah festival, melainkan juga menjadi titik awal untuk semangat baru. Pesan dari AJI tentang perlindungan jurnalis menjadi pengingat penting bahwa di balik setiap berita yang tersaji, ada individu-individu tangguh yang berjuang demi kebenaran dan kepentingan publik. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan industri media itu sendiri, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa jurnalis dapat bekerja dengan aman dan bebas.
Fesmed 2025 telah membuktikan bahwa media Indonesia terus berinovasi dan beradaptasi. Namun, inovasi tersebut harus dibarengi dengan komitmen kuat untuk melindungi para pejuangnya. Dengan demikian, jurnalisme di Indonesia dapat terus tumbuh, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dan memperkuat fondasi demokrasi yang sehat.
Baca juga di sini: Kerja & Magang Jepang: LPK IndraWijaya Indramayu
Kini, setelah Fesmed 2025 usai, harapan besar tertuju pada bagaimana semangat dan diskusi yang terbangun di Benteng Rotterdam dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata. Perlindungan jurnalis bukan lagi sekadar isu, melainkan sebuah keharusan demi masa depan media yang lebih baik dan masyarakat yang lebih tercerahkan.






