Ardhito Pramono Ciptakan Jingle Liputan6 SCTV untuk Perayaan 30 Tahun

showbiz5 Dilihat

DermayuMagz.com – Liputan6 SCTV merayakan momen penting dalam sejarahnya dengan mencapai usia 30 tahun pada 20 Mei 2026. Untuk menandai pencapaian ini, sebuah jingle baru telah diciptakan untuk program berita yang dikenal dengan moto “Selalu Aktual, Tajam, Terpercaya” ini.

Jingle spesial ini merupakan hasil kolaborasi antara musisi Ardhito Pramono bersama Erikson Jayanto dan Hezky Joe, yang dikenal sebagai duo Wijaya 80s. Penciptaan jingle ini tidak terlepas dari permintaan seorang sahabat Ardhito, yaitu Azizah Hanum, yang merupakan seorang news anchor di Liputan6.

Ardhito Pramono mengungkapkan alasannya bersedia menggarap jingle tersebut. “Yang pertama, karena yang minta Hanum, jadi gue enggak mungkin menolak ha ha ha!” ucapnya sambil tertawa. Ia menambahkan bahwa ia telah lama menjadi penonton setia Liputan6 SCTV sejak tahun 1998, dan program berita ini dianggapnya sebagai suara masyarakat.

Keputusan untuk menerima tawaran ini juga didasari oleh kecintaannya pada program berita tersebut. Ardhito dan rekan-rekannya di Wijaya 80s merasa terhormat dapat berkontribusi pada Liputan6 SCTV.

Proses kreatif dalam pembuatan jingle ini melibatkan kolaborasi yang erat. Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe bekerja sama dengan dua jurnalis Liputan6 SCTV, Azizah Hanum dan Djati Dharma. Mereka bersama-sama meracik melodi dan lirik yang diharapkan dapat mewakili semangat Liputan6.

Bagi Ardhito Pramono, yang terbiasa menciptakan lagu cinta dan soundtrack film, tantangan untuk membuat jingle program berita legendaris ini ternyata memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ia mengakui bahwa prosesnya tidak mudah.

“Sebenarnya bikin jingle lebih susah karena bahasa-bahasanya (lirik lagu) harus mengobrol langsung dengan yang benar-benar bekerja di sana dan yang tahu seluk beluk (perjalanan) Liputan6,” jelasnya.

Namun, hasil akhirnya dianggap sangat memuaskan. Jingle baru ini berhasil merefleksikan semangat dan dedikasi yang selama ini diusung oleh Liputan6 SCTV. Jingle tersebut menggambarkan bagaimana Liputan6, layaknya SCTV, hadir untuk semua kalangan masyarakat.

Semangat yang terkandung dalam jingle baru ini adalah kesiapan untuk selalu mengabarkan informasi yang aktual, tajam, dan terpercaya kepada publik.

Di tengah maraknya berita palsu atau hoaks, Ardhito Pramono menekankan peran penting media televisi seperti Liputan6 SCTV. Ia mengakui bahwa di era digital yang serba cepat dan penuh dengan informasi dari berbagai sumber, termasuk kecerdasan buatan, media massa tetap memegang peranan krusial dalam mencerdaskan masyarakat.

“Saya senang Liputan6 tetap semangat memberikan berita-berita yang benar di tengah maraknya fake news (hoaks) dan terus menyuarakan kebenaran,” ujar Ardhito Pramono.

Ia menambahkan bahwa peran media yang terpercaya sangatlah penting bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Azizah Hanum, sang penggagas jingle, melalui unggahan di akun Instagramnya pada Selasa (19/5/2026), menceritakan bahwa nama Wijaya 80s langsung terlintas di benaknya saat pertama kali memikirkan proyek jingle untuk Liputan6 SCTV.

Proses produksi jingle ini berjalan cukup cepat dan intens. Mulai dari tahap workshop, revisi, hingga rekaman vokal, semuanya harus diselesaikan dalam waktu singkat. Hal ini dikarenakan Azizah Hanum harus segera berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan tugas sebagai petugas haji.

Meskipun dalam keadaan terburu-buru, proses tersebut justru menghasilkan sebuah karya yang hangat dan menyentuh hati. “Tapi justru dari proses itu lahir sebuah jingle yang hangat dan ngena di hati,” tulis Azizah Hanum.

Menyambut usia 30 tahun Liputan6 SCTV, Ardhito Pramono memberikan apresiasi atas kiprah panjang program berita ikonik ini. Ia menegaskan bahwa selama ini Liputan6 SCTV telah berhasil menyajikan informasi yang valid, terpercaya, dan reliable bagi para pemirsanya di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, para penggemar grup idola K-Pop ternama, BTS, baru-baru ini mengungkapkan kekecewaan mereka terkait lonjakan harga penginapan di Busan, Korea Selatan. Kenaikan harga ini terjadi menjelang konser besar yang akan digelar oleh BTS di kota tersebut.

Menurut laporan dari Korea Times pada Sabtu (23/5/2026), beberapa kamar hotel yang biasanya disewa dengan harga sekitar 60.000 won per malam dilaporkan melonjak drastis hingga mencapai 760.000 won selama periode konser. Fenomena ini memicu kemarahan di kalangan penggemar.

BTS dijadwalkan untuk tampil di Busan pada tanggal 12 dan 13 Juni. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari debut grup K-Pop tersebut, yang diperkirakan akan menarik banyak penggemar dari dalam negeri maupun mancanegara untuk datang ke kota itu. Pemerintah Metropolitan Busan sendiri tengah mempersiapkan berbagai acara pendukung untuk menyambut kedatangan para penggemar.

Para penggemar merasa bahwa pihak penginapan sengaja memanfaatkan momen konser ini untuk menaikkan harga secara berlebihan demi meraup keuntungan.

Komisi Perdagangan Adil Korea dan Badan Konsumen Korea telah melakukan pemeriksaan terhadap 135 hotel dan motel di Busan. Hasil inspeksi menunjukkan bahwa tarif kamar selama pekan konser rata-rata meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan akhir pekan sebelum dan sesudah acara tersebut.

Tarif kamar di motel bahkan dilaporkan mengalami kenaikan lebih dari tiga kali lipat dari harga normal. Sementara itu, tarif hotel juga melonjak hampir tiga kali lipat. Beberapa penginapan dilaporkan menetapkan harga lebih dari lima kali lipat dari harga awal, di mana kamar seharga 100.000 won bisa mencapai 750.000 won, dan kamar seharga 300.000 won bisa mencapai 1,8 juta won.

Kemarahan para penggemar semakin memuncak ketika muncul laporan bahwa beberapa penginapan membatalkan reservasi yang sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pengumuman konser. Penggemar menuduh operator penginapan menggunakan alasan seperti overbooking atau renovasi untuk menjual kembali kamar dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Saya sudah memesan kamar beberapa bulan yang lalu, namun tiba-tiba mereka membatalkannya dengan alasan overbooking atau renovasi, lalu kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih mahal,” keluh salah seorang penggemar.

Akibat praktik kenaikan harga yang dianggap tidak wajar ini, sebagian penggemar mulai mempertimbangkan opsi lain. Beberapa di antaranya berpikir untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Busan tanpa menginap, atau bahkan memutuskan untuk tidak melakukan pengeluaran apa pun di Busan selama konser berlangsung.

Komentar-komentar bernada kekecewaan dan ancaman boikot pun bermunculan di berbagai forum daring. “Saya tidak akan menghabiskan satu won pun di Busan,” tulis seorang penggemar. Ada pula yang berkomentar, “Saya bahkan akan membeli air minum di Seoul lalu membawanya,” hingga “Nol pengeluaran di Busan!”

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kota Busan telah mengambil langkah tegas. Mereka meluncurkan inspeksi gabungan yang berfokus pada kemungkinan pelanggaran terhadap Undang-Undang Pengendalian Sanitasi Publik. Undang-undang ini mengatur standar-standar yang harus dipenuhi oleh fasilitas akomodasi.

Baca juga : Toyota Pamer Konsep Motor Listrik Roda Tiga ala Land Cruiser

Pejabat kota juga telah memberikan peringatan kepada para pelaku usaha perhotelan agar tidak menaikkan tarif secara berlebihan. Rencana inspeksi khusus terhadap penginapan yang banyak menerima keluhan dari pengunjung juga akan dilakukan.