Iran Bukan Venezuela, AS Tak Bisa Mendikte Intimidasi di Selat Hormuz

Berita10 Views

DermayuMagz.com – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas seiring dengan pernyataan tegas dari pihak Iran yang menolak keras upaya intimidasi oleh Amerika Serikat. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika agresi kembali terjadi, dan AS tidak memiliki hak untuk mendiktekan kebijakan di jalur perairan strategis tersebut.

Menurut seorang wakil komandan Markas Besar Umum Khatam al-Anbia Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Jafar Assadi, AS telah mencoba untuk memaksakan kehendaknya melalui intimidasi di Selat Hormuz. Namun, upaya tersebut dipastikan tidak akan berhasil.

Assadi menekankan bahwa Selat Hormuz dan Teluk Persia adalah milik negara-negara di kawasan tersebut. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak memiliki otoritas untuk memberikan komentar atau mendiktekan apa pun mengenai wilayah itu. “Masalah regional sama sekali bukan urusan Amerika Serikat,” tegas jenderal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ini.

Lebih lanjut, Brigadir Jenderal Assadi memberikan peringatan langsung kepada Amerika Serikat dengan membandingkan Iran dengan Venezuela. Ia menyatakan bahwa Iran bukanlah negara seperti Venezuela yang kekayaan minyaknya dapat dikendalikan oleh pihak luar. Ini menyiratkan bahwa Iran memiliki kedaulatan dan kemampuan untuk mempertahankan kepentingannya.

Di akhir pernyataannya, Assadi menyampaikan ancaman yang jelas kepada AS dan Israel. Ia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran dan seluruh Front Perlawanan telah sepenuhnya siap untuk memberikan respons yang jauh lebih berat apabila agresi kembali diulang. Kesiapan ini menunjukkan tekad Iran untuk membalas setiap tindakan permusuhan yang diarahkan kepada mereka.

Baca juga di sini: Jemaah Termuda Embarkasi Surabaya Didaftarkan Sejak Bayi

Pernyataan senada juga datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menyoroti bahwa kehadiran militer AS di kawasan Teluk justru tidak membawa keamanan bagi negara-negara tuan rumah. Pengalaman pahit dari perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran telah membuktikan hal ini.

Araghchi berpendapat bahwa kehadiran militer AS di kawasan tersebut justru hanya menimbulkan ketidakamanan dan memicu perpecahan di antara negara-negara regional. Pernyataan ini disampaikan saat ia bertemu dengan Sultan Haitham bin Tariq dari Oman di Muscat.

Dalam pertemuan tersebut, Araghchi dan Sultan Oman membahas berbagai isu penting, termasuk hubungan bilateral antara kedua negara, perkembangan terkini di kawasan, serta upaya-upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk menyelesaikan krisis regional. Pertemuan ini menjadi forum penting untuk menyelaraskan pandangan dan mencari solusi damai.

Menteri Luar Negeri Iran juga secara tegas mendesak negara-negara di kawasan untuk meninjau kembali kebijakan keamanan mereka. Ia menganjurkan agar negara-negara di Timur Tengah kembali pada pendekatan kolektif untuk menjaga keamanan internal kawasan tanpa campur tangan dari Amerika Serikat. Ini adalah seruan untuk kemandirian keamanan regional.

Selama kunjungannya ke Oman, diplomat senior Iran ini memberikan penjelasan kepada Sultan Oman mengenai perspektif Iran terhadap perkembangan terkini di Asia Barat. Penjelasan ini mencakup respons Iran terhadap agresi yang dilakukan oleh AS dan Israel.

Iran juga menyampaikan apresiasinya kepada Kesultanan Oman atas sikapnya yang mendukung dialog dan mempromosikan upaya-upaya untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan. Peran Oman sebagai mediator dan pendukung perdamaian sangat dihargai oleh Teheran.

Araghchi juga membagikan informasi mengenai kunjungannya ke Pakistan. Ia menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, Iran telah mempresentasikan sebuah “kerangka kerja yang dapat diterapkan” kepada para mediator Pakistan. Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengakhiri perang melawan Iran secara permanen dan menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

Menanggapi hal ini, Sultan Oman memaparkan pandangan negaranya mengenai upaya mediasi. Beliau menekankan pentingnya memajukan proses mediasi dengan cara yang dapat meningkatkan peluang tercapainya solusi politik yang berkelanjutan. Selain itu, beliau juga menyoroti perlunya mengurangi dampak negatif krisis terhadap masyarakat di kawasan.

Sultan Oman juga menegaskan kembali pentingnya dialog dan diplomasi sebagai pendekatan utama dalam menangani berbagai permasalahan. Menurutnya, pendekatan ini akan menjadi fondasi yang kuat untuk membangun perdamaian di kawasan yang sering dilanda konflik.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang meningkat tajam menyusul serangkaian serangan yang dilancarkan oleh AS bersama Israel terhadap Republik Islam Iran. Serangan-serangan ini dilaporkan terjadi pada 28 Februari, yang juga mengakibatkan tewasnya Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta beberapa komandan militer tinggi.

Sebagai respons, Iran dan AS sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 8 April. Perundingan untuk mencapai kesepakatan yang lebih permanen diadakan di Islamabad, ibu kota Pakistan. Namun, perundingan tersebut dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Kegagalan ini disebabkan oleh tuntutan berlebihan dari pihak Amerika Serikat dan penolakan mereka terhadap posisi-posisi yang dianggap tidak masuk akal oleh Iran.