Tantangan Utama Penjualan Mobil Terbang XPeng di Indonesia

Otomotif7 Dilihat

DermayuMagz.com – XPeng, produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, mengungkapkan bahwa regulasi menjadi hambatan utama dalam penjualan mobil terbang di Indonesia.

Perusahaan ini telah mengembangkan beberapa model mobil terbang, termasuk X2 yang merupakan kendaraan electric vertical take-off and landing (e-VTOL), yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal.

Model X2 ini sempat diperkenalkan di Indonesia dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 pada Februari lalu.

Selain X2, XPeng juga memiliki model Aridge A868, sebuah kendaraan terbang yang menyerupai pesawat. Kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 500 km dengan kecepatan maksimal 360 km/jam.

Aridge A868 menggunakan sistem penggerak hibrida listrik dan dilengkapi dengan enam baling-baling tilt-rotor.

Menanggapi pertanyaan mengenai kapan XPeng Indonesia akan mulai memasarkan mobil terbang ini, Chief Executive Officer (CEO) XPeng Indonesia, Iki Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap mempelajari regulasi yang berlaku.

“Mobil terbang kan ada road worthiness dan air worthiness, regulasi-regulasi itu lagi dipelajari semua,” ujar Iki saat ditemui di Summarecon Bogor.

Baca juga : Rumput Haurgeulis Melimpah: Peternak Kambing Optimistis Produktivitas & Keuntungan

Menurut Iki, meskipun teknologi dan perangkat pendukung untuk mobil terbang sudah canggih, realisasi penggunaannya di langit Indonesia masih membutuhkan waktu.

Hal ini dikarenakan belum adanya pengujian nyata di Indonesia untuk penggunaan mobil terbang.

“Kalau bisa fulfill regulasinya, why not? Tapi at the moment, kita masih di tahap pelajari terus,” tegasnya.

Iki juga belum dapat memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar mobil terbang dapat beroperasi secara legal di Indonesia. Ia menyebutkan kemungkinan bisa memakan waktu 5 hingga 10 tahun, atau bahkan lebih.

Studi mendalam mengenai mobil terbang di Indonesia juga belum dilakukan secara spesifik, terutama karena belum ada unit sampel yang dibawa untuk diuji coba.

“Belum indept (studinya di Indonesia), karena kita belum bawa unit sample untuk dicoba. Jadi, belum (dalam waktu dekat),” pungkasnya.