Tren Putus di Gunung: #AlpineDivorce Viral

Berita17 Views

DermayuMagz.com – Sebuah fenomena baru yang mengkhawatirkan tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Fenomena yang dikenal dengan hashtag #AlpineDivorce ini menyoroti tren putus hubungan yang ekstrem, bahkan membahayakan, di lokasi terpencil seperti pegunungan.

Tren ini dengan cepat menyebar, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram, memicu diskusi serius mengenai keselamatan dalam menjalin hubungan romantis di era digital. Dampak budaya digital yang serba cepat dan viral ini terlihat jelas dalam bagaimana istilah-istilah baru dapat terbentuk dan memengaruhi persepsi publik.

Seringkali, banyak orang belum sepenuhnya memahami konteks dan dampak dari tren semacam ini sebelum ikut serta menyebarkannya. #AlpineDivorce bukan sekadar cerminan perubahan cara berkomunikasi dalam hubungan, tetapi juga mengungkap sisi gelap interaksi manusia yang tersembunyi di balik konten yang viral.

Apa Sebenarnya ‘Alpine Divorce’?

Alpine divorce merujuk pada sebuah skenario di mana salah satu pihak dalam sebuah hubungan, yang umum dilakukan oleh pria, meninggalkan pasangannya di lokasi yang terpencil dan berpotensi berbahaya. Lokasi yang dimaksud biasanya adalah gunung atau jalur pendakian yang sulit.

Dalam situasi ini, korban seringkali berada dalam kondisi yang sangat rentan. Kerentanan ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengalaman mendaki, minimnya perlengkapan yang memadai, atau bahkan kondisi alam yang ekstrem di lokasi tersebut.

Fenomena ini juga sering digambarkan sebagai sebuah cara ekstrem untuk mengakhiri sebuah hubungan. Alih-alih melakukan komunikasi yang jelas dan dewasa, pasangan tersebut memilih untuk meninggalkan pasangannya begitu saja dalam situasi yang membahayakan nyawa.

Berawal dari Kasus Nyata yang Mengerikan

Perbincangan mengenai tren ini semakin intens setelah sebuah kasus nyata di Austria menarik perhatian publik secara luas. Dilansir dari laporan CNN, seorang pria dilaporkan meninggalkan pacarnya di puncak gunung tertinggi di Austria.

Tragisnya, wanita tersebut kemudian meninggal dunia akibat hipotermia. Peristiwa mengerikan ini memicu diskusi publik yang meluas, dan banyak perempuan mulai berbagi pengalaman serupa di media sosial.

Sejak kasus tersebut mencuat, berbagai cerita lainnya bermunculan. Mulai dari kisah ditinggalkan saat sedang mendaki hingga pengalaman di mana seseorang sengaja diuji dalam situasi berbahaya oleh pasangannya. Salah satu contohnya adalah kisah seorang gadis yang diunggah oleh akun TikTok @gratefulforthegym.

Baca juga di sini: Arirang BTS Jadi Album Grup Terlaris Sepanjang Masa

Video singkat yang diunggah akun tersebut menampilkan seorang gadis yang menangis sambil berjalan menuruni gunung. Ia ditinggalkan oleh pasangan kencan yang baru pertama kali ditemuinya. Gadis tersebut mengungkapkan penyesalannya karena bersedia diajak mendaki oleh orang yang baru dikenalnya dari internet.

“Ini Sabtu terburuk bagiku, seharusnya tiduran saja di rumah dari pada kayak gini (naik gunung dan ditinggalkan oleh pasangan kencannya),” ungkap gadis yang identitasnya tidak disebutkan dalam video tersebut.

Beberapa video lain yang menggambarkan fenomena serupa bahkan berhasil meraih jutaan penonton. Video-video tersebut menunjukkan situasi di mana seseorang ditinggalkan sendirian di jalur pegunungan tanpa ada bantuan sama sekali. Fenomena ini telah memicu diskusi luas mengenai tanda-tanda bahaya (red flag) dalam sebuah hubungan, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan dan keamanan diri.

Lebih dari Sekadar Tren Kencan Biasa

Bruce Y Lee M.D, M.B.A., seorang pakar psikologi, menegaskan bahwa Alpine divorce bukanlah sebuah cara yang bijak untuk mengakhiri sebuah hubungan. Tindakan semacam ini hanya akan menimbulkan luka mendalam dan menempatkan korban dalam bahaya serius.

Beliau menekankan, jika korban tidak memiliki pengalaman mendaki atau tidak mengenal area yang dikunjungi, risikonya menjadi sangat tinggi. Menurutnya, dalam banyak kasus, tindakan ini mencerminkan kurangnya empati, upaya kontrol, atau bahkan perilaku manipulatif dalam sebuah hubungan.

Alpine divorce juga seringkali dikaitkan dengan perilaku penghindaran konflik. Alih-alih menyelesaikan hubungan secara dewasa dan bertanggung jawab, pelaku justru memilih cara yang ekstrem dan berisiko tinggi bagi keselamatan pasangannya.

Bruce Y Lee M.D menambahkan, “Kalau sekedar melampiaskan emosi, bisa dialihkan ke yang lainnya. Atur emosi Anda dan temukan solusi cerdas yang tidak menyakiti orang lain.” Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah opini yang diterbitkan di laman Psychology Today pada tanggal 2 April 2026.

Fenomena #AlpineDivorce ini menjadi pengingat yang sangat penting. Aktivitas romantis seperti mendaki gunung atau bepergian bersama pasangan tidak selalu aman jika dilakukan dengan orang yang tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Kesadaran diri, komunikasi yang terbuka, dan persiapan yang matang menjadi sangat krusial, terutama ketika berada di lingkungan yang berisiko tinggi.