Harga Minyak Dunia Turun 5% Usai Iran Beri Sinyal Hentikan Serangan

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Gejolak geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran kembali memberikan dampak signifikan terhadap pasar komoditas global. Pada perdagangan Senin (27/7/2026), Harga Minyak Dunia tercatat mengalami penurunan tajam hingga menyentuh angka 5 persen, merespons sinyal positif terkait potensi penghentian eskalasi militer di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman September terkoreksi sebesar 4,88 persen ke level US$ 92 per barel. Tren serupa juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk periode pengiriman yang sama, yang anjlok lebih dari 5 persen menjadi US$ 84,84 per barel.

Sinyal De-eskalasi dari Teheran

Penurunan harga ini dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah Iran telah memberikan sinyal kesediaan untuk menghentikan serangannya. Langkah ini diambil dengan syarat bahwa Amerika Serikat juga bersedia menahan diri dari tindakan militer lebih lanjut. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa kebijakan mereka saat ini berbasis pada prinsip “serangan untuk serangan”.

“Jika pihak Amerika Serikat menghentikan operasi militernya, maka Iran juga akan melakukan hal yang sama. Pesan tersebut telah secara resmi dikomunikasikan kepada pihak Washington,” ujar sumber pejabat tersebut.

Keputusan ini muncul di tengah laporan bahwa Amerika Serikat sempat menangguhkan kampanye pengebomannya. Para penasihat Presiden Donald Trump dikabarkan telah memberikan peringatan mengenai keterbatasan target yang layak, serta kekhawatiran mendalam terkait menipisnya persediaan senjata strategis milik militer AS.

Konteks Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Dhiraj Narula, seorang ahli strategi suku bunga AS di HSBC, menyoroti bahwa lonjakan harga energi sebelumnya memang sempat menciptakan tekanan inflasi. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve) akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam durasi yang lebih panjang.

Namun, Narula mencatat bahwa meskipun terjadi fluktuasi harga energi, ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada dalam batas yang relatif terkendali. Hal ini didorong oleh komunikasi yang konsisten dari para pejabat The Fed yang menegaskan komitmen mereka terhadap stabilitas harga, sehingga mampu meredam kekhawatiran pasar akan guncangan ekonomi yang lebih luas.

Upaya Diplomasi di Balik Layar

Sebelum penurunan harga pada hari Senin, pasar minyak dunia sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada akhir pekan lalu (24/7/2026). Sentimen ini didorong oleh kabar keterlibatan pihak ketiga dalam upaya mendamaikan kedua negara yang berseteru.

  • Pakistan dilaporkan tengah aktif mengupayakan perundingan kembali antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Upaya diplomatik ini disebut-sebut mendapatkan dukungan dari China, yang merasa dirugikan oleh gangguan stabilitas di kawasan Teluk.
  • Penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap negara-negara Teluk telah mengganggu kepentingan ekonomi Beijing, sehingga mendorong mereka untuk ikut menekan terciptanya dialog.

Meskipun terjadi penurunan harga dalam dua hari terakhir, perlu dicatat bahwa sepanjang pekan tersebut, harga minyak dunia sempat mencatatkan reli yang signifikan. Minyak mentah AS tercatat sempat menguat sekitar 8 persen, sementara Brent melonjak hampir 10 persen akibat memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Dinamika pasar ini menunjukkan betapa sensitifnya harga energi global terhadap setiap perubahan kecil dalam peta politik internasional.