Rupiah Tembus 18.009 per Dolar AS, Ini Analisis Penyebab Utamanya

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Tekanan berat tengah menyelimuti pasar keuangan Indonesia setelah nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Pada perdagangan Senin (27/7/2026), mata uang Garuda mencatatkan pelemahan signifikan dengan menembus level Rp 18.009 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan penurunan sebesar 46 poin atau sekitar 0,26 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.963 per dolar AS. Tren serupa juga terlihat pada data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia, di mana posisi rupiah berada di level Rp 17.995 per dolar AS, melemah dari angka sebelumnya di Rp 17.973 per dolar AS.

Faktor Global dan Geopolitik

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pelemahan rupiah ini tidak berdiri sendiri. Ia menegaskan bahwa pergerakan negatif ini lebih banyak dipicu oleh kombinasi ketidakpastian ekonomi global serta berbagai tantangan domestik yang cukup berat.

Salah satu pemicu utama dari sisi eksternal adalah tensi geopolitik yang terus memanas, terutama di Timur Tengah dan Eropa Timur. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dengan Iran, serta ketegangan antara Houthi Yaman dengan Arab Saudi, telah mengganggu stabilitas rantai pasok global.

“Gangguan ini menyebabkan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur vital seperti Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb mengalami perlambatan, yang pada akhirnya menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Ibrahim.

Bayang-bayang Kebijakan The Fed

Sentimen pasar juga masih sangat dipengaruhi oleh narasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang cenderung bersifat hawkish. Meskipun ada ekspektasi mengenai potensi perubahan suku bunga, ruang gerak untuk penguatan mata uang diprediksi tetap terbatas.

Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 78 persen akan adanya kenaikan suku bunga pada September 2026. Sementara itu, untuk pertemuan The Fed pada 28-29 Juli 2026, para analis memprediksi bahwa suku bunga kemungkinan besar masih akan dipertahankan.

Situasi Internal Bank Indonesia

Di level domestik, pasar merespons dinamika kepemimpinan di otoritas moneter. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia menjadi sorotan tersendiri. Saat ini, tugas-tugas strategis dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga terpilihnya gubernur definitif.

Menanggapi hal tersebut, Ibrahim menilai bahwa mundurnya Perry Warjiyo bukanlah penyebab utama dari tekanan nilai tukar saat ini. Ia justru memberikan apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan selama masa jabatan Perry.

  • Tantangan menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang tinggi.
  • Kebutuhan koordinasi yang lebih erat antara Bank Indonesia dan pemerintah.
  • Kondisi fiskal dalam negeri yang menghadapi tekanan dari berbagai program belanja pemerintah.

Ibrahim menambahkan bahwa target pemerintah untuk membawa rupiah kembali menguat ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS merupakan tantangan yang tidak mudah. Mengingat kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, kepemimpinan baru di Bank Indonesia nantinya akan memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus menavigasi ekonomi nasional agar tetap stabil di tengah situasi yang menantang.