Diabetes Indonesia: Peringkat 5 Dunia, Warga Sering Tak Sadar

Indonesia1 Views

DermayuMagz.com – Indonesia kembali mencatatkan rekor yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, negara kita menduduki peringkat kelima di dunia dalam jumlah penderita diabetes. Ironisnya, banyak dari warga yang mengidap penyakit kronis ini bahkan belum menyadari kondisi kesehatannya.

Situasi ini jelas menjadi alarm bagi kita semua. Pola makan tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok menjadi tiga faktor utama yang secara signifikan memperbesar risiko seseorang untuk terjangkit diabetes.

Diabetes, yang kerap disebut sebagai penyakit gula, bukanlah penyakit yang muncul begitu saja. Ia adalah akumulasi dari berbagai gaya hidup yang kurang sehat. Mari kita bedah lebih dalam satu per satu faktor risiko tersebut.

Pertama, pola makan tinggi gula. Di era modern ini, asupan gula dalam makanan dan minuman semakin tak terhindarkan. Mulai dari minuman manis kemasan, kue-kue modern, hingga makanan olahan yang sering kita konsumsi, semuanya bisa mengandung gula tambahan dalam jumlah yang mengejutkan. Gula, ketika dikonsumsi berlebihan, akan diubah tubuh menjadi glukosa. Jika glukosa ini tidak segera digunakan sebagai energi, ia akan menumpuk dalam darah, menyebabkan kadar gula darah meningkat.

Gula berlebih ini memaksa pankreas untuk bekerja ekstra keras memproduksi insulin, hormon yang bertugas menurunkan kadar gula darah. Seiring waktu, sel-sel tubuh bisa menjadi resisten terhadap insulin, artinya insulin tidak lagi efektif dalam menjalankan fungsinya. Inilah yang kemudian memicu terjadinya diabetes tipe 2, jenis diabetes yang paling umum diderita.

Bayangkan saja, satu gelas minuman bersoda saja bisa mengandung gula setara dengan beberapa sendok makan. Jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari, dampaknya tentu sangat besar bagi kesehatan jangka panjang. Banyaknya jajanan dan minuman manis yang mudah diakses, ditambah promosi gencar dari industri makanan dan minuman, semakin memperparah kondisi ini.

Kedua, kurangnya aktivitas fisik atau kurang gerak. Gaya hidup sedentari telah menjadi ciri khas masyarakat perkotaan saat ini. Jam kerja yang panjang di depan komputer, penggunaan kendaraan pribadi untuk jarak dekat, hingga minimnya waktu luang untuk berolahraga, semuanya berkontribusi pada rendahnya tingkat aktivitas fisik. Padahal, gerak adalah kunci utama tubuh kita berfungsi optimal.

Saat kita beraktivitas fisik, otot-otot kita menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Dengan kata lain, olahraga membantu menurunkan kadar gula darah secara alami. Selain itu, aktivitas fisik juga membantu menjaga berat badan ideal, yang mana obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes.

Perubahan pola kerja menjadi lebih banyak di dalam ruangan, kemudahan akses hiburan digital yang membuat orang enggan bergerak, serta minimnya fasilitas publik yang memadai untuk berolahraga, menjadi tantangan besar dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya bergerak. Banyak orang beralasan tidak punya waktu, padahal sebenarnya bisa diselipkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti berjalan kaki saat istirahat makan siang atau memilih naik tangga daripada lift.

Ketiga, kebiasaan merokok. Siapa sangka, kebiasaan yang sering dianggap sebagai gaya hidup ini ternyata memiliki dampak yang sangat merusak bagi kesehatan, termasuk meningkatkan risiko diabetes. Nikotin dalam rokok dapat mengganggu kerja insulin, membuat sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. Selain itu, merokok juga merusak pembuluh darah, yang dapat memperburuk komplikasi diabetes.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan dengan non-perokok. Dampak buruk merokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga perokok pasif. Paparan asap rokok secara terus-menerus dapat memicu peradangan dalam tubuh dan memengaruhi metabolisme glukosa.

Kombinasi ketiga faktor ini, yaitu pola makan tinggi gula, kurang gerak, dan kebiasaan merokok, menciptakan “badai sempurna” yang sangat rentan memicu diabetes. Seseorang yang memiliki ketiga kebiasaan ini secara bersamaan, maka risiko terkena diabetesnya akan berlipat ganda.

Yang paling mengkhawatirkan adalah banyaknya warga yang belum sadar mengidapnya. Diabetes seringkali berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Banyak orang baru menyadari ketika penyakit ini sudah memasuki stadium lanjut dan mulai menimbulkan komplikasi yang serius, seperti kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, penyakit jantung, hingga amputasi.

Kurangnya edukasi kesehatan yang merata, stigma negatif terhadap pemeriksaan kesehatan rutin, serta anggapan bahwa diabetes adalah penyakit orang tua, menjadi beberapa alasan mengapa banyak orang tidak menyadari kondisinya. Padahal, deteksi dini adalah kunci untuk mengelola diabetes dengan baik dan mencegah komplikasi.

Penting untuk diingat bahwa diabetes bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Biaya pengobatan diabetes dan komplikasinya sangat besar, baik bagi penderita maupun bagi sistem kesehatan negara. Selain itu, diabetes dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, membatasi aktivitas, dan bahkan menyebabkan kecacatan.

Oleh karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama. Pemerintah, institusi kesehatan, media massa, hingga tokoh masyarakat, perlu bersinergi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya diabetes dan pentingnya gaya hidup sehat. Edukasi harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan, menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pemeriksaan gula darah secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes atau memiliki faktor risiko lainnya, sangatlah krusial. Jangan menunggu sampai timbul gejala. Mengubah pola makan menjadi lebih sehat dengan mengurangi asupan gula dan makanan olahan, meningkatkan aktivitas fisik setiap hari, serta berhenti merokok adalah langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh setiap individu untuk melindungi diri dari ancaman diabetes.

Mencapai peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes adalah sebuah prestasi yang sangat tidak diinginkan. Namun, dengan kesadaran dan tindakan nyata dari kita semua, peringkat ini bisa kita ubah. Masa depan kesehatan bangsa ada di tangan kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *