Melukis Karya Bermakna, Bukan Sekadar Indah

hot8 Dilihat

DermayuMagz.com – Lukisan, bagi sebagian orang, hanya dipandang sebagai objek yang indah secara visual. Namun, bagi para seniman, karya seni lebih dari sekadar keindahan estetika. Sebuah lukisan yang baik sejatinya mampu menyampaikan pesan yang kuat, menggugah pikiran, dan mengajak penikmatnya untuk merenung.

Pandangan ini dipegang teguh oleh dua seniman rupa, Chrisna Fernand (32) dan Agus Nuryanto (55). Meskipun memiliki gaya dan pendekatan yang berbeda, keduanya sepakat bahwa gagasan atau pesan adalah inti dari sebuah karya seni lukis. Seni rupa bagi mereka bukan hanya tentang menciptakan gambar yang menarik, melainkan tentang bagaimana karya tersebut dapat memicu pemikiran dan perspektif baru.

“Di semester-semester lanjut itu karya harus mempunyai konsep. Jadi enggak sekadar melukis pemandangan atau potret saja. Di balik visual itu pengin menyampaikan apa, itu yang penting. Jadi bukan lagi soal gambarnya bagus atau jelek, tetapi pesan yang ingin disampaikan itu yang lebih utama. Menurut saya, karya seni harus punya sesuatu yang ingin dibicarakan kepada masyarakat,” ungkap Chrisna Fernand saat ditemui Liputan6.com.

Pernyataan Chrisna menegaskan bahwa kedalaman makna sebuah lukisan jauh melampaui keindahan permukaannya. Ia menekankan bahwa seni seharusnya menjadi medium komunikasi yang efektif untuk menyuarakan gagasan dan menginspirasi audiens.

1. Mulailah dari Ketertarikan dan Penguasaan Teknik Dasar

Untuk menciptakan lukisan yang bermakna, langkah awal yang krusial adalah menguasai dasar-dasar seni rupa. Chrisna Fernand menyarankan agar para pemula fokus pada menemukan area seni yang paling mereka minati. Ketika seseorang menemukan kesenangan dalam proses menggambar dan melukis, ia akan lebih termotivasi untuk mendalami berbagai teknik yang fundamental.

Penguasaan teknik seperti komposisi, pemahaman warna, perspektif, dan berbagai metode melukis lainnya akan mempermudah seniman dalam mewujudkan ide-ide yang ada di benaknya. Teknik yang mumpuni menjadi jembatan agar gagasan dapat tersampaikan secara visual dengan baik.

“Kalau pemula banget itu ya harus menemukan kesukaan dulu. Kalau suka melukis, ya mendalami teknik-tekniknya dulu sebelum ke ide. Pahami komposisi, campuran warna, dan berbagai dasar melukis. Setelah suka, biasanya orang akan mengulik lebih dalam lagi. Di bidang apa pun, termasuk seni rupa, rasa suka itu yang menjadi awal dari proses belajar yang panjang,” terang Chrisna.

Rasa suka yang mendalam akan mendorong seorang seniman untuk terus belajar dan berlatih, membentuk fondasi yang kokoh untuk perjalanan seni yang panjang dan bermakna.

2. Temukan Gagasan yang Ingin Disampaikan kepada Publik

Perbedaan mendasar antara sekadar membuat gambar dan menciptakan karya seni yang sarat makna terletak pada keberadaan sebuah gagasan atau konsep. Chrisna Fernand menjelaskan bahwa di awal perjalanannya, ia mungkin hanya melukis objek yang menarik secara visual. Namun, seiring bertambahnya pengalaman dan pemahaman tentang seni, ia menyadari pentingnya memiliki konsep yang jelas di balik setiap karyanya.

Konsep ini berfungsi sebagai penghubung antara pengalaman personal seniman dengan pesan yang ingin ia sampaikan kepada para penikmat karyanya. Melalui konsep, lukisan tidak hanya menjadi pajangan, tetapi menjadi sebuah narasi yang mengajak audiens untuk berpikir.

“Saya menemukan bahwa seni rupa itu ternyata kompleks. Ada sejarah, ada dinamika sosial, ada problematika sosial, dan banyak hal yang bisa disuarakan lewat karya lukisan. Karena itu saya merasa karya seni sebaiknya tidak berhenti pada bentuk visual saja. Di balik gambar yang dilihat orang, harus ada sesuatu yang ingin kita bicarakan atau renungkan bersama,” ujar Chrisna.

Pernyataan ini menggarisbawahi peran seni sebagai cermin masyarakat dan sarana untuk dialog. Seniman memiliki kekuatan untuk mengangkat isu-isu penting dan memicu diskusi melalui karya visual mereka.

3. Gunakan Simbol untuk Memperkuat Makna Lukisan

Salah satu strategi efektif untuk membuat lukisan memiliki pesan yang lebih mendalam adalah dengan mengintegrasikan simbol visual. Chrisna Fernand, dalam salah satu karyanya yang terinspirasi dari dunia jurnalisme, menggunakan simbol seperti burung untuk melambangkan pembawa pesan dan lampion sebagai representasi cahaya kebenaran. Pilihan simbol ini tidak hanya didasarkan pada daya tarik visualnya, tetapi juga pada kemampuannya untuk memperkaya makna.

Baca juga : Pembangunan Ekonomi Dirasakan Langsung Rakyat, Bukan Sekadar Angka

Penggunaan simbol memberikan lapisan interpretasi yang lebih dalam pada sebuah karya, memungkinkan penikmat seni untuk menggali berbagai makna tersembunyi. Pendekatan yang serupa juga diadopsi oleh Agus Nuryanto melalui ciri khasnya menggunakan karakter wayang. Wayang baginya bukan sekadar objek gambar, melainkan simbol yang menghubungkan isu-isu kontemporer dengan kearifan budaya masa lalu.

Dengan memanfaatkan simbol yang konsisten, pesan yang disampaikan menjadi lebih mudah dikenali dan pada saat yang sama, memberikan ruang bagi penonton untuk melakukan interpretasi pribadi mereka. Ini menciptakan pengalaman seni yang lebih interaktif dan personal.

“Kalau burung itu saya simbolkan sebagai pengirim pesan. Sedangkan lampion saya simbolkan sebagai cahaya yang tetap menyala di tengah kegelapan. Saya ingin menggambarkan bahwa di balik berbagai persoalan yang terjadi, masih ada jurnalis atau pers yang berusaha menjaga kebenaran. Jadi setiap elemen yang muncul dalam lukisan itu sebenarnya punya makna tertentu,” terang Chrisna Fernand terkait makna dari karyanya.

4. Jadikan Isu Sosial sebagai Sumber Inspirasi Berkarya

Lukisan yang mampu menyampaikan pesan kuat sering kali lahir dari kepekaan seniman terhadap realitas sosial di sekitarnya. Chrisna Fernand secara konsisten mengangkat tema-tema seperti aktivisme, kebebasan pers, dan isu-isu lingkungan hidup ke dalam karya-karyanya. Salah satu lukisan yang membawanya meraih penghargaan bergengsi, UOB Painting of the Year, terinspirasi dari pengamatannya terhadap kerusakan terumbu karang akibat aktivitas kapal tongkang.

Pengalaman ini kemudian ia olah menjadi sebuah karya seni yang tidak hanya menggambarkan masalah, tetapi juga mengajak publik untuk merenungkan pentingnya energi terbarukan. Bagi Chrisna, seniman memiliki peran sebagai agen perubahan, meskipun mungkin tidak secara langsung.

“Bagiku seniman juga bisa menjadi agen perubahan. Mungkin tidak secara langsung, tetapi selalu ada di balik perubahan itu. Yang bisa kami lakukan adalah menyampaikan gagasan melalui karya. Ketika ada persoalan lingkungan, sosial, atau kemanusiaan, saya merasa itu bisa menjadi bahan untuk berdialog dengan masyarakat lewat lukisan,” katanya.

Dengan menjadikan isu sosial sebagai sumber inspirasi, lukisan dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong refleksi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.

5. Bangun Konsistensi dan Ruang Berbagi dengan Sesama Seniman

Pesan yang kuat dalam sebuah karya seni tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang dibangun dengan konsistensi. Chrisna menargetkan kuantitas karya tertentu setiap bulannya untuk terus mengasah kemampuan teknis dan kreativitasnya. Ia meyakini bahwa produktivitas adalah kunci untuk menemukan berbagai kemungkinan baru dalam penyampaian gagasan.

Agus Nuryanto menambahkan bahwa komunitas seni memainkan peran vital dalam menjaga semangat berkreasi. Seniman membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar ide, dan menerima masukan dari rekan-rekan sejawat. Interaksi semacam ini sering kali melahirkan perspektif baru yang pada gilirannya memperkaya isi karya.

Oleh karena itu, selain menjaga komitmen pribadi, penting juga untuk menciptakan lingkungan kreatif yang suportif. Lingkungan seperti ini akan mendorong seniman untuk terus berkembang dan berinovasi dalam menyampaikan pesan melalui karya-karya mereka.

“Kalau seniman tidak punya niat, tidak punya komitmen, dan tidak punya teman yang sehobi, biasanya proses berkaryanya akan berhenti. Teman-teman sesama seniman itu penting karena kita bisa berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan saling memotivasi. Dari situ ide-ide baru sering muncul dan membuat kita tetap ingin terus berkarya,” tutur Agus Nuryanto.

Dengan demikian, kombinasi antara ketekunan pribadi, kepekaan terhadap isu sosial, pemanfaatan simbol, serta dukungan dari komunitas, dapat menghasilkan lukisan yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna dan mampu memberikan dampak yang kuat bagi penikmatnya.