Pengusaha Khawatir PHK Mengancam Akibat Ketidakpastian Pasokan Gas Industri

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Kekhawatiran pemutusan hubungan kerja (PHK) membayangi industri keramik Indonesia akibat ketidakpastian pasokan gas industri. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyoroti pentingnya ketersediaan gas dengan harga yang kompetitif untuk menjaga keberlangsungan operasional dan daya saing.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, menegaskan bahwa pasokan energi yang stabil dan terjangkau merupakan fondasi utama bagi industri keramik. Hal ini tidak hanya penting untuk menjaga utilisasi produksi, tetapi juga untuk mempertahankan lapangan kerja dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Kondisi pasokan gas industri tercatat mengkhawatirkan. Realisasi Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) pada periode Januari hingga Mei 2026 hanya mencapai 47,5 persen dari target yang ditetapkan. Akibatnya, industri terpaksa mengandalkan pasokan dari regasifikasi LNG yang harganya jauh lebih mahal.

Menurut Edy, harga LNG hasil regasifikasi saat ini berada di kisaran US$ 20,5 per MMBTU. Hal ini menyebabkan biaya gas rata-rata industri keramik melonjak menjadi US$ 15–16 per MMBTU. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan harga gas industri bersubsidi melalui Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang hanya US$ 7 per MMBTU.

Informasi yang dihimpun dari pelaku industri menunjukkan potensi penurunan lebih lanjut pada realisasi AGIT di bulan Juni 2026, diperkirakan akan berada di bawah 30 persen. Situasi ini tidak hanya berdampak pada harga, tetapi juga pada jaminan pasokan energi yang krusial untuk operasional pabrik.

Industri keramik, yang tergabung dalam Asaki, merupakan sektor padat modal yang menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja. Kepastian pasokan gas industri dengan harga yang wajar menjadi permintaan mendesak dari para pengusaha.

“Kami tidak meminta keistimewaan. Yang dibutuhkan adalah kepastian ketersediaan pasokan gas dengan harga kompetitif agar industri dapat tumbuh, menyerap tenaga kerja, dan terus berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ujar Edy, seperti dikutip dari Antara pada Rabu (24/6/2026).

Asaki memperkirakan daya saing industri keramik dapat terjaga jika harga gas rata-rata berada di kisaran US$ 7–9 per MMBTU. Angka ini setara dengan harga gas industri di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Target ini dinilai dapat tercapai jika realisasi AGIT mencapai minimal 80 persen, dengan sisanya dipenuhi melalui pasokan LNG.

Jadi Kebutuhan Mendesak

Senada dengan Asaki, Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan, juga menekankan bahwa kepastian pasokan gas adalah kebutuhan mendesak bagi sektor manufaktur. Ia mengkhawatirkan ketidakpastian pasokan saat ini mulai mengganggu kelancaran aktivitas produksi industri.

“Satu-satunya cara adalah realisasi pasokan gas bumi minimal 80 persen dari volume yang ditetapkan dalam Kepmen ESDM Nomor 76.K/2025,” tegas Yustinus.

Yustinus menambahkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima, realisasi AGIT saat ini hanya sekitar 27,5 persen dari alokasi yang telah ditetapkan. Sementara itu, penggunaan gas di luar AGIT dikenakan tarif yang jauh lebih tinggi, yaitu sekitar US$ 20 per MMBTU per Juni 2026.