Studi: Baterai Mobil Listrik Ternyata Lebih Awet

Otomotif17 Dilihat

DermayuMagz.com – Kekhawatiran mengenai umur pakai baterai mobil listrik yang terbatas dan biaya penggantian yang mahal seringkali menjadi batu sandungan bagi calon konsumen. Namun, sebuah studi terbaru memberikan kabar baik yang berpotensi mengubah persepsi tersebut, menunjukkan bahwa baterai kendaraan listrik modern ternyata memiliki daya tahan yang jauh lebih impresif dari perkiraan banyak orang.

Temuan ini, yang mengutip laporan dari The Wall Street Journal, mengindikasikan bahwa baterai mobil listrik masa kini mampu bertahan lebih lama dari estimasi industri. Sejumlah kendaraan listrik bahkan masih mampu mempertahankan sebagian besar kapasitas jelajah aslinya setelah menempuh jarak ratusan ribu kilometer.

Salah satu bukti nyata datang dari Richard Symons, seorang pengusaha mobil listrik bekas di Inggris. Mobil Tesla Model 3 miliknya, yang telah digunakan selama lima tahun, tercatat telah menempuh jarak fantastis yaitu 397.000 kilometer. Meskipun telah menempuh jarak yang sangat jauh, mobil listrik tersebut dikabarkan masih berfungsi optimal dan sanggup digunakan untuk perjalanan jarak jauh tanpa kendala berarti.

Fenomena ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh para peneliti dan analis industri. Mereka menemukan bahwa penurunan kapasitas baterai pada generasi mobil listrik terbaru cenderung jauh lebih lambat dibandingkan dengan prediksi awal. Perusahaan analitik baterai, Recurrent, memperkirakan bahwa rata-rata mobil listrik masih dapat mempertahankan hingga 95 persen dari jarak tempuh awalnya setelah lima tahun penggunaan.

Peningkatan signifikan dalam daya tahan baterai ini didorong oleh berbagai faktor kemajuan teknologi. Inovasi dalam kimia baterai, pengembangan sistem manajemen termal yang lebih efisien untuk menjaga suhu optimal, serta perangkat lunak yang semakin canggih untuk mengelola kesehatan sel baterai dalam jangka panjang, semuanya berkontribusi pada performa yang lebih awet.

Data dari Recurrent juga menyoroti perbandingan yang mencolok. Pada mobil listrik yang diproduksi antara tahun 2011 hingga 2016, sekitar satu dari setiap 12 unit membutuhkan penggantian baterai. Namun, angka ini turun drastis pada kendaraan yang diproduksi mulai tahun 2022, di mana hanya sekitar 0,3 persen yang dilaporkan memerlukan penggantian baterai.

Meskipun demikian, narasi mengenai daya tahan baterai yang superior ini belum sepenuhnya meresap di benak konsumen. Sebuah survei yang dilakukan oleh AutoPacific pada tahun 2025 menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap biaya penggantian baterai yang mahal masih menjadi alasan utama bagi banyak calon pembeli untuk menunda peralihan ke mobil listrik.

Jessica Caldwell, Head of Insights di Edmunds, mengungkapkan kepada The Wall Street Journal bahwa banyak konsumen masih memandang baterai kendaraan listrik dengan keraguan, meskipun data keandalannya terus menunjukkan peningkatan. Persepsi yang terbentuk di masa lalu, ketika teknologi baterai belum secanggih sekarang, masih membayangi pandangan sebagian masyarakat.

Penting untuk dicatat bahwa baterai mobil listrik, meskipun semakin tangguh, tetap memiliki faktor-faktor yang dapat mempercepat degradasi performanya. Salah satu kebiasaan yang dapat memengaruhi umur baterai adalah penggunaan pengisian daya cepat DC (DC fast charging) berdaya tinggi secara rutin. Dibandingkan dengan metode pengisian yang lebih lambat, pengisian cepat yang terlalu sering dapat menyebabkan baterai mengalami penurunan kapasitas lebih cepat.

Data dari Geotab menunjukkan perbedaan yang signifikan: baterai yang sering menerima pengisian cepat berdaya tinggi rata-rata memiliki kapasitas sekitar 89,7 persen setelah beberapa tahun. Sebaliknya, kendaraan yang lebih jarang menggunakan pengisian cepat mampu mempertahankan sekitar 94,9 persen kapasitas awalnya dalam periode yang sama.

Selain itu, beberapa kebiasaan lain yang perlu dihindari untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang meliputi: mengisi daya hingga 100 persen secara terus-menerus, membiarkan baterai dalam kondisi kosong terlalu lama, serta paparan terhadap suhu ekstrem, baik panas maupun dingin.

Meskipun demikian, jika penggantian baterai memang diperlukan di luar masa garansi, biayanya memang masih tergolong tinggi, berkisar antara US$ 5.000 hingga US$ 16.000 (sekitar Rp 90 juta hingga Rp 288 juta, tergantung kurs). Namun, tren positif mulai terlihat dari produsen mobil listrik yang kini banyak merancang paket baterai sedemikian rupa sehingga modul tertentu dapat diperbaiki secara individual tanpa harus mengganti seluruh unit. Hal ini berpotensi menekan biaya perawatan dan perbaikan di masa mendatang.

Dengan temuan studi yang terus menerus menunjukkan peningkatan daya tahan dan efisiensi baterai, serta inovasi dalam strategi perbaikan, masa depan mobil listrik terlihat semakin cerah. Harapannya, informasi ini dapat membantu mematahkan keraguan konsumen dan mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan ini secara lebih luas.