Malaysia Siap Tingkatkan Industri Kendaraan Listrik dengan Teknologi Baterai Graphene

Otomotif2 Dilihat

DermayuMagz.com – Malaysia bersiap untuk membuat gebrakan signifikan di industri kendaraan listrik (EV) global dengan meluncurkan produksi baterai lithium-ion yang diperkuat teknologi graphene.

Inisiatif ambisius ini diinisiasi oleh NanoMalaysia, sebuah badan pemerintah yang berfokus pada pengembangan teknologi nano, melalui anak usahanya, Gigafactory Malaysia.

Fasilitas produksi yang rencananya akan menjadi yang pertama di Malaysia ini, dikembangkan secara mandiri dengan teknologi dalam negeri. Hal ini menandai langkah strategis Malaysia untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga merambah pasar yang lebih luas di kawasan ASEAN.

Rezal Khairi Ahmad, Chief Executive Officer NanoMalaysia, menekankan bahwa proyek ini merupakan tonggak sejarah dalam upaya membangun ekosistem EV nasional yang kuat dan mandiri. Keberadaan pabrik ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Malaysia.

Keunggulan utama dari baterai terbaru ini terletak pada penggunaan material graphene pada elektroda negatif, menggantikan grafit yang umum digunakan pada baterai lithium-ion konvensional. Graphene dikenal memiliki sifat konduktivitas yang superior dan kekuatan mekanis yang tinggi.

Penggunaan graphene dalam baterai ini diklaim mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibandingkan teknologi baterai grafit. Peningkatan ini berpotensi besar dalam memperluas jangkauan kendaraan listrik.

Lebih lanjut, baterai ini diproyeksikan dapat menghasilkan jarak tempuh mencapai 640 kilometer dalam sekali pengisian daya. Kemampuan pengisian daya cepat juga menjadi salah satu fitur unggulan, dengan target kepadatan energi yang melebihi 200 Wh/kg.

Meskipun spesifikasi detail mengenai kapasitas baterai dan model kendaraan pengujian belum diungkapkan sepenuhnya, inovasi ini menunjukkan komitmen Malaysia untuk mendorong batas-batas teknologi baterai EV.

Proyek pengembangan baterai graphene ini didukung oleh investasi yang cukup besar, yaitu sekitar RM20 juta, yang setara dengan Rp 89 miliar. NanoMalaysia telah menerima pesanan awal untuk baterai berkapasitas 25 kWh dari sebuah organisasi lokal, sembari menjajaki berbagai potensi kerja sama lainnya.

Fasilitas produksi perdana akan beroperasi di sebuah pabrik seluas kurang lebih 15.000 kaki persegi yang berlokasi di Kawasan Industri Suria, Sepang. Target awal adalah mencapai kapasitas produksi skala megawatt-jam (MWh) paling cepat pada September 2026.

Ketika beroperasi secara penuh, pabrik ini diperkirakan mampu memproduksi sekitar satu MWh kapasitas baterai per tahun. Jumlah ini setara dengan produksi kurang lebih 92.000 sel baterai, sebuah angka yang signifikan dalam memenuhi permintaan pasar.

Untuk memperkuat rantai pasok bahan baku, NanoMalaysia juga memiliki rencana strategis untuk menjalin kemitraan dengan Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Langkah ini penting untuk memastikan pasokan material yang stabil dan berkelanjutan.

Selain itu, perusahaan juga tengah menyiapkan program daur ulang baterai. Inisiatif ini tidak hanya penting untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk menjaga ketersediaan sumber daya material baterai di masa depan.

Meskipun harga resmi baterai graphene ini belum diumumkan, NanoMalaysia optimis bahwa produksi lokal akan memberikan dampak positif pada biaya kendaraan listrik. Pengurangan biaya impor, logistik, dan penyimpanan diharapkan dapat membuat EV lebih terjangkau bagi konsumen.

Dengan langkah ini, Malaysia tidak hanya berambisi menjadi pemain kunci dalam industri baterai EV, tetapi juga memposisikan diri sebagai pusat inovasi teknologi di kawasan Asia Tenggara.