DermayuMagz.com – Dentuman suara rebana yang bersahutan dengan lantunan selawat memenuhi udara di Desa Kedungwungu, Indramayu, pada Senin, 20 Juli 2026. Masyarakat setempat berkumpul dengan khidmat, merayakan tradisi Marhabanan yang telah mendarah daging sebagai warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu.
Kegiatan yang berlangsung tepat pada pukul 14.45 WIB ini bukan sekadar rutinitas keagamaan biasa. Bagi warga Indramayu, Marhabanan adalah simbol kerukunan, rasa syukur, dan upaya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Mengenal Tradisi Marhabanan di Tanah Dermayu
Marhabanan atau yang sering disebut sebagai pembacaan Kitab Al-Barzanji merupakan tradisi pembacaan riwayat hidup serta puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Di wilayah Indramayu, tradisi ini memiliki keunikan tersendiri karena sering kali dibalut dengan nuansa kearifan lokal yang kental.
Biasanya, acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan syair-syair pujian dalam kitab Al-Barzanji. Puncak dari acara ini adalah momen “Marhaban”, di mana seluruh jamaah berdiri sambil melantunkan selawat sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Rasulullah.
Kedungwungu: Benteng Tradisi yang Terjaga
Desa Kedungwungu dikenal sebagai salah satu wilayah di Indramayu yang masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi. Keberlangsungan Marhabanan di desa ini membuktikan bahwa masyarakat setempat memiliki komitmen kuat untuk tidak meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Partisipasi masyarakat, mulai dari generasi tua hingga anak muda, menjadi pemandangan yang menyejukkan. Hal ini menunjukkan adanya estafet nilai yang berjalan dengan baik. Para tokoh agama dan sesepuh desa memegang peran krusial dalam memastikan bahwa tata cara serta kekhusyukan tradisi ini tetap terjaga sesuai pakemnya.
Nilai Sosial dan Spiritual yang Terkandung
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Marhabanan di Kedungwungu menyimpan nilai-nilai sosial yang mendalam. Berikut adalah beberapa aspek penting yang menjadikan tradisi ini tetap relevan di masa kini:
- Mempererat Tali Silaturahmi: Kegiatan ini menjadi ruang temu bagi warga untuk saling bertukar kabar, memperkuat ikatan persaudaraan, dan meminimalisir konflik sosial melalui kebersamaan.
- Media Edukasi Moral: Melalui syair-syair yang dibacakan, masyarakat diajak untuk meneladani sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
- Pelestarian Kesenian Rebana: Tradisi ini secara tidak langsung menjaga eksistensi kesenian rebana atau terbangan yang menjadi identitas musik tradisional masyarakat Indramayu.
- Ekspresi Syukur: Banyak warga yang mengadakan Marhabanan sebagai bentuk syukur atas keberhasilan panen, keselamatan keluarga, atau hajatan lainnya.
Tantangan Menjaga Tradisi di Era Modern
Di tengah gempuran teknologi informasi dan perubahan gaya hidup, tradisi komunal seperti Marhabanan sering kali mendapatkan tantangan berupa pergeseran minat dari generasi muda. Namun, di Kedungwungu, upaya adaptasi dilakukan tanpa menghilangkan esensi dari tradisi tersebut.
“Tradisi bukanlah abu, melainkan api yang harus terus dijaga agar tetap menyala. Marhabanan adalah cara kami menyalakan api kebaikan dan persaudaraan di Indramayu,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat yang hadir dalam acara tersebut.
Kehadiran generasi muda yang antusias dalam melantunkan selawat memberikan sinyal positif bahwa tradisi ini memiliki masa depan yang cerah. Mereka tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga belajar tentang pentingnya memiliki rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.
Kesimpulan
Peristiwa Marhabanan di Kedungwungu pada 20 Juli 2026 ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya mengikis kekayaan budaya lokal. Indramayu dengan segala keunikannya terus membuktikan diri sebagai daerah yang mampu menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan kekokohan spiritualitas.
Bagi masyarakat luar, melihat tradisi ini secara langsung tentu memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah komunitas dapat tetap solid melalui ritual yang telah bertahan lintas generasi. Semoga tradisi Marhabanan ini terus lestari dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Indramayu.
DermayuMagz.com akan terus mengawal dan meliput kegiatan-kegiatan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Indramayu di masa depan.






