Ketegangan AS-Iran Meningkat, Harga Minyak Dunia Malah Turun 4%

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Dinamika pasar energi global saat ini tengah menunjukkan fenomena yang cukup kontradiktif di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Meskipun eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran semakin intensif, harga minyak mentah dunia justru mengalami tekanan penurunan sebesar 4% pada penutupan perdagangan akhir pekan, Sabtu (25/7/2026).

Berdasarkan data pasar terbaru, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global tercatat melemah ke level US$ 96,78 per barel. Tren serupa juga dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat yang terkoreksi 3% menjadi US$ 89,31 per barel. Menariknya, penurunan ini terjadi di tengah spekulasi pasar mengenai potensi negosiasi diplomatik yang melibatkan pihak ketiga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya upaya diplomasi dari Pakistan yang berusaha menengahi hubungan antara Washington dan Teheran. Upaya ini dikabarkan mendapat dukungan penuh dari China. Beijing ditengarai merasa terganggu dengan stabilitas kawasan yang terancam akibat tindakan Iran terhadap negara-negara Teluk serta penutupan Selat Hormuz yang berdampak buruk pada kepentingan ekonomi global, khususnya China.

Meskipun terjadi pelemahan pada penutupan perdagangan, volatilitas harga minyak sepanjang pekan ini tetap tinggi. Secara akumulatif, harga minyak mentah AS masih mencatatkan kenaikan sekitar 8%, sementara Brent melonjak hingga hampir 10% dalam kurun waktu satu minggu terakhir. Hal ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap perkembangan konflik di wilayah penghasil minyak utama dunia tersebut.

Operasi Militer dan Ketegangan di Selat Hormuz

Di lapangan, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) secara konsisten melaporkan kelanjutan operasi militer mereka. Hingga saat ini, AS telah melancarkan serangan selama 13 malam berturut-turut terhadap target-target strategis di Iran. Operasi ini menyasar infrastruktur krusial, mulai dari pusat komando militer, fasilitas penyimpanan drone, hingga jaringan komunikasi dan pertahanan maritim milik Iran.

Pihak militer AS menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman Iran terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia, di mana sebagian besar pasokan minyak mentah dari negara-negara Teluk harus melintasinya. CENTCOM menjamin bahwa jalur pelayaran internasional di selat tersebut tetap terbuka dan aman bagi kapal-kapal niaga berkat perlindungan militer Amerika Serikat.

Saat ini, kehadiran militer AS di Timur Tengah semakin diperkuat dengan pengerahan lebih dari 50.000 personel. Eskalasi ini semakin kompleks dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan kemungkinan serangan berskala lebih besar. Trump menegaskan bahwa ia tengah mempertimbangkan tindakan yang jauh lebih masif dari sebelumnya guna merespons serangan yang melibatkan kelompok Houthi, yang oleh AS dianggap sebagai proksi Iran.

Respon Pasar dan Risiko Geopolitik

Ketegangan yang meluas hingga ke kawasan Laut Merah, pasca-klaim serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi, telah meningkatkan premi risiko geopolitik secara signifikan. Analis senior dari Capital.com, Daniela Hathorn, menilai bahwa gangguan pada jalur perdagangan utama ini menciptakan ketidakpastian tinggi bagi para investor.

Menurut Hathorn, ketidakstabilan di Laut Merah dan Selat Hormuz secara langsung mengancam keamanan pasokan energi global. “Kondisi ini membuat pasar energi tetap dalam posisi ketat. Selama risiko geopolitik ini tidak mereda, potensi tekanan inflasi akan terus menghantui ekonomi dunia,” jelasnya.

Strategi pemerintahan Trump yang oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio disebut sebagai pendekatan “a head for an eye” atau “kepala dibalas kepala,” menunjukkan betapa kerasnya sikap Washington saat ini. Di sisi lain, laporan dari media pemerintah Iran yang menyebut adanya serangan balik terhadap pangkalan militer AS di Yordania semakin memperumit situasi. Pasar dunia kini tengah menanti langkah selanjutnya, apakah ketegangan ini akan berujung pada eskalasi konflik terbuka yang lebih besar atau justru membuka celah bagi negosiasi perdamaian yang lebih serius.