Arab Saudi Tambah Pasokan via Oman, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Dinamika pasar energi global kembali menunjukkan fluktuasi setelah harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tipis. Kondisi ini terjadi seiring dengan langkah strategis Arab Saudi yang berupaya memulihkan pasokan melalui jalur alternatif di Oman, merespons gangguan logistik yang sempat memicu kecemasan pelaku pasar.

Hingga pukul 09.26 GMT, harga minyak mentah Brent tercatat melemah 59 sen atau sekitar 0,54 persen ke level US$ 108,16 per barel. Tren serupa juga dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang terkoreksi US$ 1,20 atau 1,13 persen, menetap di posisi US$ 104,63 per barel.

Sebelumnya, harga sempat mengalami lonjakan signifikan hingga menembus angka US$ 3. Kenaikan tajam tersebut dipicu oleh laporan penghentian sementara aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan ekspor Laut Merah, Yanbu. Keputusan Arab Saudi untuk membatalkan sejumlah pengiriman kargo ke Eropa sempat memicu kekhawatiran global akan adanya hambatan jangka panjang pada jalur ekspor vital tersebut.

Upaya Pemulihan Pasokan

Untuk menjaga stabilitas distribusi, Arab Saudi kini mulai menawarkan pengiriman minyak mentah tambahan kepada kilang-kilang di Asia. Metode yang digunakan adalah pemindahan antarkapal atau ship-to-ship transfer yang berlokasi di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman. Langkah taktis ini diambil sebagai mitigasi setelah serangan drone dilaporkan merusak jalur pipa minyak utama yang mengarah ke Laut Merah.

“Kabar mengenai ekspor Arab Saudi dari wilayah Teluk mengindikasikan bahwa kekhawatiran atas gangguan pasokan yang lebih luas mulai mereda,” ujar Giovanni Staunovo, analis dari UBS, Rabu (16/9/2026).

Data pelayaran per Rabu menunjukkan adanya penurunan aktivitas di Selat Hormuz. Tercatat hanya empat unit kapal yang melintas pada Selasa, jauh di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir yang biasanya mencapai 18 kapal. Sebagai informasi, Selat Hormuz memegang peranan krusial karena melayani sepertujuh dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Meski demikian, analis dari Macquarie menilai arus pengiriman minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Mereka memproyeksikan arus pengiriman tetap terjaga di atas 7,5 juta barel per hari, menunjukkan bahwa keterkaitan antara eskalasi di wilayah tersebut dengan kelancaran arus minyak mulai melonggar.

Tantangan Sektor Bahan Bakar

Di luar isu minyak mentah, pasar global masih dihadapkan pada ketatnya pasokan solar. Frank Walbaum, analis pasar di Naga.com, menjelaskan bahwa penguatan harga solar merefleksikan kelangkaan produk secara spesifik. Eropa dilaporkan kehilangan pasokan solar dan avtur dalam jumlah besar dari Timur Tengah, yang diperparah dengan gangguan produksi kilang akibat ketegangan di Eropa Timur.

Indikator ketatnya pasokan ini terlihat dari harga minyak gas berjangka Eropa yang sempat menyentuh rekor tertinggi pada Selasa. Di Amerika Serikat, kondisi serupa terjadi di mana rata-rata harga solar secara nasional mencatatkan sejarah dengan menembus level US$ 6 per galon.

Faktor Stok Amerika Serikat

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan American Petroleum Institute (API) yang mencatat kenaikan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat di AS pada pekan yang berakhir 11 September. Stok minyak mentah dilaporkan melonjak hingga 7,1 juta barel, angka yang bertolak belakang dengan proyeksi analis sebelumnya yang memperkirakan penurunan sebesar 1,6 juta barel.

Meskipun lonjakan stok tersebut memberikan tekanan pada harga, para pelaku pasar tetap memantau kondisi mendasar di Timur Tengah. Citi memprediksi bahwa eskalasi jangka pendek di kawasan tersebut masih akan menopang harga bahan bakar olahan, setidaknya hingga adanya dukungan diplomasi regional yang memungkinkan normalisasi penuh pada kuartal IV 2026.