Kisah Tragis Istri Korban Tragedi KRL-Argo Bromo Bekasi: Suami Menunggu di Stasiun Tanpa Bertemu

Berita10 Views

DermayuMagz.com – Tragedi kecelakaan kereta api antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam, 2026, tidak hanya menyisakan luka fisik bagi para korban selamat, tetapi juga kisah pilu yang mengharukan.

Salah satu cerita yang paling menyayat hati adalah tentang Ristuti Kustirahayu, seorang penumpang yang menjadi korban tewas dalam peristiwa nahas tersebut. Malam itu, Ristuti baru saja pulang dari Jakarta menuju Cikarang menggunakan KRL, seperti rutinitasnya sehari-hari.

Suaminya, Suyatno, sudah menunggu di stasiun sekitar pukul 21.00 WIB untuk menjemput. Namun, Ristuti tak kunjung muncul, menimbulkan kekhawatiran di hati Suyatno.

“Suaminya sempat tanya ke petugas, lalu dapat informasi ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur,” ujar Ponco, tetangga korban, seperti dikutip dari Wartakota.

Dalam kepanikan dan kecemasan, Suyatno sempat pulang untuk menitipkan anak mereka. Ia kemudian kembali ke lokasi kejadian bersama Ponco untuk mencari informasi tentang keberadaan istrinya.

Pencarian berlangsung selama berjam-jam. Akhirnya, kabar yang mereka terima adalah Ristuti berada di RS Bella Bekasi. Namun, kedatangan mereka di rumah sakit disambut dengan kenyataan pahit.

Ristuti ditemukan telah meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Suyatno yang mendengar kabar ini mengalami syok berat.

“Syok berat, karena meninggalnya akibat kecelakaan. Saya coba tenangkan suaminya dan bantu urus kepulangan jenazah,” tutur Ponco dengan nada sedih.

Perempuan berusia 37 tahun itu diduga meninggal di lokasi kejadian. Kabar duka ini juga dibenarkan oleh Ketua RT setempat, Prio Budiarto.

“Iya benar warga kami, subuh tadi saya dapat kabarnya,” kata Prio.

Prio menambahkan bahwa Ristuti adalah sosok yang ramah dan telah lama bekerja di Jakarta. Ia rutin menggunakan KRL untuk pulang pergi kerja, dan suaminya yang selalu mengantarnya.

“Yang antar jemput juga suaminya. Saya komunikasi sama suaminya juga syok enggak nyangka. Enggak ada firasat apa pun,” ungkap Prio.

Di lini masa media sosial, ucapan duka dan doa membanjiri para korban. Salah satu warganet membagikan cerita bahwa kakaknya menjadi korban tewas, padahal baru saja kembali bekerja setelah cuti melahirkan selama tiga bulan.

Menurut keterangan saksi mata, benturan kedua kereta sangat keras. Munir, salah seorang penumpang, menggambarkan suara tabrakan itu seperti ledakan.

“Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai nembus gerbong,” kata Munir, 33 tahun, di lokasi kejadian.

Baca juga di sini: Setelah kecelakaan KRL maut di Bekasi, Menteri PPPA usulkan perubahan posisi gerbong perempuan

Ia menambahkan bahwa banyak penumpang yang terjebak dan terluka di dalam gerbong yang ringsek. “Banyak itu korban di dalam terjebak, kalau saya pas kejadian langsung ke luar gerbong,” ucapnya.

Munir juga menjelaskan bahwa sebelum tabrakan terjadi, KRL yang ditumpanginya sempat berhenti karena ada insiden di jalur lain, termasuk dugaan KRL menabrak taksi daring.

Saat kondisi belum sepenuhnya normal, KA Argo Bromo Anggrek datang dari belakang dan langsung menghantam rangkaian KRL.

Kesaksian serupa datang dari Hendri. Ia menggambarkan suara benturan yang sangat keras, bahkan terdengar seperti suara bom.

“Ya kalau kedengerannya seperti suara bom, saking kencangnya,” ujar Hendri.

Ia menambahkan bahwa KRL sempat berhenti cukup lama sebelum akhirnya ditabrak. Bagian gerbong khusus perempuan menjadi titik benturan paling parah, hingga lokomotif kereta jarak jauh itu “menabrak” dan masuk ke dalam gerbong tersebut.

Situasi berubah kacau seketika. Asap tebal membubung disusul suara sirene yang menambah kepanikan. “Sekitar jam 8. Karena itu berasap, tabrakan kencang. Saya tinggal lari,” katanya.

Puluhan ambulans segera berdatangan ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban di tengah kondisi gerbong yang rusak parah dan saling bertumpukan.

Penumpang lain, Maksus, mengaku selamat karena ia sempat turun dari kereta beberapa saat sebelum kejadian. Ia keluar untuk melihat kondisi di depan setelah kereta berhenti.

“Baru saya melangkah berapa langkah, kereta jalan sendiri tapi kenceng. Tiba-tiba duss! Lampu KRL mati,” ujar Maksus, 39 tahun.

Dari luar, ia menyaksikan langsung bagaimana lokomotif kereta jarak jauh mendorong rangkaian KRL hingga masuk ke dalam gerbong. “Gerbong yang terkena paling parah itu gerbong 12 atau gerbong khusus perempuan dan gerbong 11,” katanya.

Ia juga melihat dampak benturan yang membuat penumpang terpental dan terjepit di dalam gerbong. “Ada yang nyangkut di atas, ada yang ke bawah juga. Saya sudah eggak tega lihatnya,” ujarnya.

Setelah kejadian, Maksus mengaku masih gemetar karena syok. “Ya Allah, untung aja tadi keluar. Habis itu saya mau ngambil HP aja sampai gemeteran,” katanya.

Kecelakaan ini sendiri menyebabkan 14 orang tewas dan 84 lainnya luka-luka. Pihak kepolisian dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih melakukan investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab pasti dari tragedi ini.