DermayuMagz.com – Amerika Serikat dikabarkan tengah menginisiasi langkah diplomatik guna membuka kembali akses jalur pipa gas Rusia yang melintasi wilayah Ukraina menuju Eropa. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi Washington untuk menciptakan insentif ekonomi yang dapat mendorong Presiden Vladimir Putin menghentikan konflik bersenjata.

Laporan dari The Wall Street Journal mengindikasikan bahwa perwakilan dari pihak AS, termasuk Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah melakukan diskusi intensif mengenai proposal tersebut dalam kunjungan mereka ke Moskow dan Kyiv pada September 2026. Skema ini dirancang sebagai bentuk komersialisasi energi yang melibatkan perantara asal AS untuk memfasilitasi aliran gas Rusia ke pasar Eropa.

Mekanisme Transaksi dan Keamanan Pendapatan

Dalam rancangan proposal tersebut, Pemerintah AS mengusulkan sebuah mekanisme teknis untuk mengelola pendapatan dari penjualan gas. Dana yang diperoleh nantinya tidak akan langsung diserahkan kepada pemerintah Rusia, melainkan ditempatkan dalam sebuah akun penampungan (escrow account) di negara ketiga. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi agar pendapatan tersebut tidak disalahgunakan untuk mendanai operasi militer Rusia.

Bagi Ukraina, pembukaan kembali jalur pipa peninggalan era Uni Soviet yang menghubungkan ladang gas Urengoy di Siberia ke Eropa ini menjanjikan keuntungan ekonomi berupa pendapatan dari biaya transit (transit fee) yang cukup signifikan. Selain itu, peluang investasi juga terbuka bagi perusahaan energi asal Amerika untuk berpartisipasi dalam skema komersial tersebut.

Respon Dingin dari Uni Eropa

Kendati Amerika Serikat memandang proposal ini sebagai solusi untuk menurunkan harga energi di Eropa menjelang musim dingin, respons dari pihak Uni Eropa cenderung negatif. Sejumlah pejabat tinggi Eropa menegaskan bahwa rencana tersebut bertentangan dengan target jangka panjang kawasan untuk mengakhiri ketergantungan energi dari Rusia pada akhir 2027.

Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, menyatakan ketidakpercayaan mendalam terhadap Rusia. Menurutnya, transaksi gas dengan Moskow tidak lagi relevan, bahkan jika kesepakatan damai tercapai. Sejak invasi dimulai, porsi pasokan gas Rusia ke Eropa telah anjlok dari 45% menjadi hanya 11%, sementara pangsa pasar gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat kini telah meningkat hingga 30%.

Jalur Ukraina sebagai Opsi Paling Realistis

Sebelum melirik jalur Ukraina, Washington sempat memPertimbangkan pengaktifan kembali jaringan pipa Nord Stream. Namun, opsi tersebut dinilai tidak praktis karena kerusakan fisik berat akibat ledakan pada September 2022 serta status Nord Stream 2 yang memang belum pernah beroperasi secara komersial.

Jalur pipa melalui Ukraina dinilai sebagai alternatif yang lebih cepat dan teknis untuk diaktifkan, mengingat infrastruktur tersebut terhubung langsung ke Slovakia, Austria, dan Jerman. Urgensi ini didorong oleh kekhawatiran akan krisis energi global, terutama setelah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi LNG dari Qatar.

Berdasarkan data Uni Eropa, biaya energi di kawasan tersebut telah membengkak hingga €100 miliar atau setara dengan Rp2.028 triliun. Saat ini, fasilitas penyimpanan gas bawah tanah di Eropa tercatat berada di level 75%, angka yang berada di bawah rata-rata historis sembilan tahun terakhir.

Meski proposal ini telah dipaparkan, pihak Moskow dilaporkan masih menunjukkan sikap enggan terhadap tawaran gencatan senjata di sektor energi tersebut. Pembahasan lebih lanjut mengenai isu ini dijadwalkan akan dilakukan dalam pertemuan trilateral antara AS, Rusia, dan Ukraina yang akan berlangsung di Abu Dhabi pada pertengahan November 2026.