DermayuMagz.com – Tren bepergian ke luar negeri di kalangan warga negara Indonesia (WNI) mengalami tekanan pada kuartal ketiga tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan volume perjalanan internasional sebesar 6,69% pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026), menjelaskan bahwa pergeseran perilaku masyarakat ini dipicu oleh dua faktor utama yang saling berkaitan: fluktuasi harga tiket transportasi udara dan kondisi lingkungan.
Faktor Ekonomi dan Lingkungan
Kenaikan harga tiket penerbangan internasional menjadi hambatan signifikan bagi mobilitas warga negara Indonesia. Ateng memberikan contoh nyata pada rute penerbangan Aceh menuju Malaysia yang mengalami lonjakan harga, sehingga secara langsung menekan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan lintas negara.
Selain kendala biaya, fenomena kabut asap yang terjadi sepanjang September 2026 turut memperburuk situasi. Kondisi atmosfer yang terganggu oleh kabut asap tidak hanya berDampak pada aktivitas domestik, tetapi juga mengganggu operasional penerbangan internasional, yang mengakibatkan terhambatnya arus mobilitas penumpang.
Data Kumulatif dan Kontras Wisata Domestik
Jika ditarik dalam periode yang lebih panjang, yakni Januari hingga September 2026, total perjalanan WNI ke luar negeri tercatat sebanyak 6,51 juta perjalanan. Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar 4,60% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Menariknya, penurunan minat bepergian ke luar negeri ini berbanding terbalik dengan tren pariwisata dalam negeri. BPS melaporkan bahwa aktivitas wisata domestik justru menunjukkan pertumbuhan positif dengan total 938,84 juta perjalanan sepanjang Januari-September 2026, atau meningkat 4,10% secara tahunan (year-on-year).
Posisi Indonesia dalam Industri Wisata Halal
Di tengah dinamika mobilitas tersebut, Indonesia mencatatkan prestasi dalam sektor industri pariwisata. Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang dirilis pada 30 Oktober 2026, Indonesia berhasil menempati peringkat kedua sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia.
Indonesia meraih skor 79 dari 100, sejajar dengan Turki dan Arab Saudi. Pencapaian ini merupakan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya, di mana Indonesia berada di urutan kelima. Malaysia masih memimpin di posisi puncak dengan perolehan skor 83.
Metodologi Penilaian GMTI 2026
Laporan GMTI edisi ke-11 ini mengevaluasi 150 destinasi global menggunakan lebih dari 60 kumpulan data yang dikelompokkan ke dalam empat pilar utama, yaitu:
Keberhasilan Indonesia masuk dalam jajaran atas GMTI selama bertahun-tahun mencerminkan konsistensi dalam pengembangan infrastruktur dan layanan pariwisata. Sejak 2019, Indonesia secara rutin menduduki enam besar, bahkan pernah berbagi posisi puncak dengan Malaysia pada periode 2019, 2023, dan 2024. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi industri pariwisata nasional di tengah tantangan ekonomi global.

















