DermayuMagz.com – Tren berwisata ke luar negeri saat musim dingin telah mendorong pertumbuhan signifikan pada industri penyewaan busana khusus, seperti jaket bulu angsa atau down jacket. Fenomena ini menjadi ladang bisnis potensial bagi para pelaku usaha di Indonesia, seiring dengan tingginya minat masyarakat untuk berkunjung ke destinasi bersalju seperti Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan Eropa dan Rusia.
Namun, di balik lonjakan permintaan yang mulai terasa sejak akhir Oktober hingga puncak liburan akhir tahun pada Januari, para pengusaha dihadapkan pada realitas operasional yang cukup menantang. Bisnis ini bukan sekadar menyediakan pakaian, melainkan memerlukan manajemen aset yang presisi.
Kebutuhan akan kualitas produk yang terjaga membuat pelaku usaha penyewaan harus ekstra cermat. Berbeda dengan pakaian sehari-hari, jaket bulu angsa memerlukan prosedur pencucian khusus agar daya tahan material dan fungsinya sebagai penghangat tetap optimal.
Selain biaya perawatan (maintenance) yang tinggi, para pemilik usaha juga harus mengantisipasi risiko kerusakan atau kehilangan barang. Untuk meminimalisir kerugian, pelaku bisnis seperti Vina dan Riani—pemilik usaha penyewaan jaket—memilih untuk tidak menggunakan sistem konsinyasi. Mereka lebih memilih melakukan kurasi mandiri dengan pengadaan stok langsung dari jaringan ritel resmi atau berburu koleksi secara pribadi di negara tujuan wisata.
Strategi ini diterapkan untuk memastikan bahwa setiap unit yang disewakan memenuhi standar kenyamanan pelancong. Preferensi konsumen saat ini cenderung mengarah pada produk yang modis namun tetap fungsional, menghindari model yang terlalu besar (bulky) namun mampu menahan suhu ekstrem.
Dari sisi konsumen, menyewa jaket tebal dianggap sebagai langkah efisiensi finansial yang rasional. Bagi wisatawan yang tidak rutin bepergian ke negara empat musim, membeli jaket berkualitas tinggi dinilai kurang ekonomis dibandingkan dengan menyewanya.
Beberapa poin pertimbangan konsumen meliputi:
Selain itu, terdapat batasan praktis yang dilakukan wisatawan. Banyak yang memilih hanya menyewa outerwear utama dan enggan menyewa aksesori pelengkap seperti sarung tangan atau sepatu karena pertimbangan beban bawaan saat bepergian.
Meskipun permintaan musiman tetap tinggi, para pelaku usaha kini mulai mengamati perubahan pola perilaku konsumen akibat tekanan ekonomi. Riani, yang telah menggeluti bisnis ini sejak 2016, mencatat bahwa fleksibilitas masyarakat dalam melakukan perjalanan ke luar negeri mulai terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut mengonfirmasi tren ini. Jumlah perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri pada September 2026 tercatat sebanyak 600.605 perjalanan, yang menunjukkan penurunan sebesar 6,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa meskipun sektor penyewaan jaket musim dingin tetap memiliki pasar yang stabil, pelaku usaha harus terus beradaptasi dengan dinamika daya beli dan perubahan tren destinasi wisata global. Keberlanjutan bisnis di sektor ini kini sangat bergantung pada kemampuan pengusaha dalam menjaga efisiensi operasional di tengah fluktuasi jumlah wisatawan nasional.

















