DermayuMagz.com – Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Desa Kedungwungu, Senin 18 Mei 2026, ketika warga setempat menggelar acara aqiqah dan puputan bayi. Acara yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi keluarga yang merayakannya, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga.
Tradisi syukuran bayi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi pengingat akan pentingnya kekeluargaan dan kebersamaan dalam masyarakat. Di Desa Kedungwungu, tradisi ini dijalankan dengan penuh suka cita dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Acara aqiqah merupakan salah satu bentuk rasa syukur orang tua atas kelahiran buah hati. Dalam tradisi Islam, aqiqah dilaksanakan dengan menyembelih hewan kurban, biasanya kambing atau domba, sebagai tanda terima kasih kepada Allah SWT. Daging hasil sembelihan kemudian dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan fakir miskin.
Selain aqiqah, acara puputan bayi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari syukuran ini. Puputan adalah tradisi memotong sebagian kecil rambut bayi yang baru lahir. Momen ini melambangkan pembersihan diri dan harapan agar bayi tumbuh menjadi pribadi yang bersih lahir batin.
Yang membuat acara di Kedungwungu semakin istimewa adalah keterlibatan aktif seluruh warga. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, tetangga turut serta membantu, menunjukkan rasa kekeluargaan yang kental. Gotong royong menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan acara ini.
Para ibu-ibu menyiapkan hidangan dan kue tradisional, sementara para bapak-bapak membantu urusan teknis dan logistik. Anak-anak pun ikut serta dalam kemeriahan dengan berbagai permainan yang disiapkan.
Tawa riang, obrolan santai, dan senyum kebahagiaan terpancar di wajah setiap orang yang hadir. Momen ini menjadi sarana yang sangat baik untuk mempererat tali silaturahmi, saling bertukar kabar, dan berbagi kebahagiaan.
Kepala Desa Kedungwungu, Bapak [Nama Kepala Desa, jika ada dalam sumber asli – abaikan jika tidak ada], dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas kekompakan warganya. Beliau menekankan bahwa tradisi semacam ini perlu terus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang berharga.
“Acara seperti ini mengajarkan kita arti kebersamaan. Ketika ada suka, semua ikut merasakan suka. Ketika ada duka, semua turut merasakan duka. Inilah pondasi kuat desa kita,” ujar Bapak [Nama Kepala Desa].
Orang tua bayi yang berbahagia, Bapak [Nama Ayah Bayi] dan Ibu [Nama Ibu Bayi], mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh warga yang telah hadir dan memberikan dukungan. Mereka merasa sangat terbantu dan terharu melihat antusiasme serta kepedulian masyarakat.
“Kami tidak menyangka akan seramai dan sehangat ini. Bantuan dan doa dari semua warga membuat acara kami terasa sangat spesial. Ini adalah berkah bagi keluarga kami,” tutur Ibu [Nama Ibu Bayi] dengan mata berkaca-kaca.
Acara aqiqah dan puputan di Kedungwungu bukan sekadar ritual keagamaan atau adat. Lebih dari itu, ini adalah perayaan kehidupan, perayaan ikatan sosial, dan peneguhan nilai-nilai luhur yang telah lama tertanam di masyarakat. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa kebahagiaan akan terasa lebih lengkap ketika dibagi bersama.
Kehangatan yang tercipta dalam acara ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menginspirasi desa-desa lain untuk menjaga tradisi serupa. Di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga tradisi yang sarat makna seperti syukuran bayi ini menjadi penting untuk mempertahankan identitas dan kekompakan masyarakat.
Keluarga yang merayakan berharap sang buah hati kelak tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah, sehat, cerdas, dan menjadi kebanggaan keluarga serta masyarakat. Doa dan harapan terbaik juga mengalir dari seluruh warga yang hadir.
Acara yang dimulai sejak pagi hari ini ditutup dengan doa bersama dan makan bersama. Suara tawa dan canda masih terdengar hingga sore hari, menandakan betapa berkesannya momen silaturahmi yang terjalin.
Baca juga: Kesepakatan AS-Tiongkok untuk Tingkatkan Impor Pertanian
Desa Kedungwungu sekali lagi membuktikan bahwa tradisi lokal, ketika dijalankan dengan semangat kebersamaan, dapat menjadi perekat sosial yang luar biasa. Momen aqiqah dan puputan bayi ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap langkah kehidupan, dukungan dan kasih sayang dari komunitas adalah anugerah yang tak ternilai.






