Harga Kendaraan Listrik di Tiongkok Meroket, Ini Biang Keroknya

Otomotif6 Dilihat

DermayuMagz.com – Pasar kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) di Tiongkok tengah menghadapi fenomena baru. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perang harga yang ketat, para produsen kini mulai umumkan penyesuaian harga akibat melonjakaknya biaya rantai pasok.

Liputan6.com memberitakan, sedikitnya 15 produsen otomotif di Negeri Panda melakukan penyesuaian harga dalam periode ini. Merek-merek ternama seperti BYD, Xiaomi, hingga sejumlah merek joint venture diketahui turut mengerek banderol produk mereka, seiring terus naiknya biaya komponen vital.

Penyebab utamanya tak lain adalah melambungnya harga chip penyimpanan DRAM dan bahan baku baterai, terutama lithium carbonate. Kenaikan biaya produksi ini akhirnya dirasakan langsung oleh para pelaku industri, yang selama ini gencar menawarkan kendaraan listrik dengan harga kompetitif.

Perubahan ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap industri mobil listrik Tiongkok. Jika sebelumnya pasar NEV identik dengan strategi harga agresif untuk merebut pangsa pasar, kini tekanan biaya memaksa para produsen mengurangi kebijakan diskon besar-besaran yang selama ini menjadi andalan.

Banyak produsen memilih untuk memangkas insentif penjualan sebagai langkah penyelamatan, alih-alih terus menanggung beban produksi yang semakin berat. Langkah ini menjadi pilihan pragmatis di tengah kondisi ekonomi rantai pasok yang tidak kondusif.

Salah satu ilustrasi nyata datang dari BYD. Produsen asal Tiongkok tersebut diketahui telah menaikkan harga untuk paket sistem bantuan berkendara berbasis LiDAR atau Advanced Driver Assistance System (ADAS). Paket teknologi canggih itu kini dibanderol sekitar 1.660 dolar AS atau setara 27 juta rupiah.

Kenaikan harga paket ADAS BYD itu disebut memiliki kaitan erat dengan lonjakan harga DRAM, komponen esensial dalam sistem komputasi kendaraan modern. Komponen semikonduktor ini menjadi fondasi berbagai fitur pintar yang semakin banyak disematkan pada mobil masa kini.

Tekanan biaya pun tak hanya datang dari sektor semikonduktor. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi produsen di Tiongkok telah mencapai level tertinggi dalam 45 bulan terakhir. Berbagai komponen mulai dari logam non-ferrous, minyak, gas, hingga suku cadang teknologi mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.

Baca juga : Alumni Jogja IKAPMI Resmi Dilantik, Siap Bersinergi Kawal Kemajuan Indramayu

Pengaruh langsungnya terasa pada biaya produksi kendaraan listrik dan hibrida yang menggunakan teknologi plug-in. Kenaikan biaya bahan mentah global ini menjadi tantangan serius bagi para produsen yang berusaha menjaga keseimbangan antara kualitas dan harga jual.

Meskipun demikian, pasar mobil listrik di Tiongkok tetap menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Tingkat penetrasi NEV di negara tersebut bahkan telah melampaui 61 persen pada April 2026, menunjukkan adopsi masyarakat yang sangat kuat terhadap kendaraan hemat energi.

Artinya, lebih dari separuh mobil baru yang terjual di Tiongkok saat ini merupakan kendaraan listrik murni maupun plug-in hybrid (PHEV). Kondisi ini mencerminkan keberhasilan kebijakan transisi energi yang diterapkan pemerintah Tiongkok selama beberapa tahun terakhir.

Lonjakan permintaan baterai dan komponen elektronik ini pun turut memperberat tekanan pada rantai pasok global. Produsen baterai dan suku cadang di seluruh dunia kini bersaing ketat untuk memenuhi kebutuhan industri NEV yang terus berkembang pesat.

Dinamika ini menciptakan siklus baru dalam industri kendaraan energi baru. Di satu sisi, permintaan tinggi mendorong perluasan produksi. Di sisi lain, keterbatasan rantai pasok dan melonjaknya harga bahan baku memaksa para pemain industri untuk melakukan penyesuaian harga.

Bagi konsumen, kondisi ini berarti era kendaraan listrik dengan harga sangat terjangkau di Tiongkok tampaknya mulai memasuki fase baru. Para pemangku kepentingan di industri harus menemukan titik keseimbangan baru antara aksesibilitas harga dan keberlanjutan bisnis.

Industri kendaraan energi baru global akan terus memantau perkembangan ini dengan seksama. Transformasi yang sedang berlangsung di pasar Tiongkok memiliki potensi untuk membentuk dinamika harga dan strategi bisnis di berbagai pasar lainnya, termasuk Indonesia yang tengah gencar mendorong adopsi kendaraan listrik.