Atim Sawano: Pemanfaatan Material Galian Proyek Objektif

Indramayu8 Dilihat

DermayuMagz.com – Proyek pelebaran Jalan Provinsi Jangga–Cikamurang di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, terus menjadi sorotan publik, khususnya terkait pemanfaatan material galian dari proyek tersebut.

Atim Sawano, seorang tokoh masyarakat yang aktif mengamati pembangunan di wilayah tersebut, memberikan pernyataan tegas mengenai urgensi penilaian objektif terhadap penggunaan material galian. Ia menekankan bahwa keputusan mengenai pemanfaatan material tersebut tidak seharusnya didasarkan pada asumsi semata, melainkan harus melalui kajian yang cermat dan transparan.

Pernyataan ini muncul di tengah maraknya diskusi dan kekhawatiran masyarakat mengenai potensi penyalahgunaan atau pemanfaatan material galian yang tidak sesuai peruntukannya. Material galian, yang dihasilkan dari proses pengerukan dan pelebaran jalan, seringkali memiliki nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan pembangunan lain.

Namun, Atim Sawano menegaskan bahwa proses pemanfaatan tersebut haruslah diawasi dengan ketat. Penilaian objektif mencakup berbagai aspek, mulai dari identifikasi jenis material, kuantitas yang dihasilkan, hingga potensi penggunaan yang paling menguntungkan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Tanpa proses ini, dikhawatirkan terjadi pemborosan sumber daya atau bahkan potensi kerugian.

Ia menyoroti bahwa seringkali, dalam berbagai proyek pembangunan, muncul dugaan-dugaan atau asumsi liar mengenai pengelolaan material sisa. Asumsi-asumsi ini, meskipun kadang tidak berdasar, dapat menimbulkan spekulasi negatif di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan data dan fakta yang konkret.

“Kita harus melihat ini secara objektif. Material galian ini kan bukan barang buangan semata. Ada nilai dan potensi di dalamnya. Jangan sampai kemudian hanya karena asumsi, kita kehilangan kesempatan untuk memanfaatkannya secara maksimal, atau malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Atim Sawano, menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti.

Lebih lanjut, Atim Sawano menguraikan beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam menilai pemanfaatan material galian. Pertama, adalah soal identifikasi jenis material. Apakah material tersebut hanya tanah biasa, ataukah ada komponen lain yang bisa bernilai lebih, misalnya agregat atau batuan yang bisa digunakan sebagai bahan baku.

Baca juga: Puncak Macet, Ribuan Kendaraan Arah Puncak Diberlakukan Satu Arah

Kedua, adalah kuantitas. Mengetahui jumlah pasti material yang dihasilkan menjadi kunci untuk merencanakan pemanfaatannya. Data kuantitas yang akurat akan mencegah adanya praktik penimbunan atau penggelapan material dalam skala besar.

Ketiga, adalah potensi pemanfaatan. Material galian dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan, seperti pengurukan lahan, pembuatan tanggul, atau bahkan sebagai bahan baku untuk proyek pembangunan lainnya. Pilihan pemanfaatan harus didasarkan pada kajian kebutuhan dan kelayakan.

Atim Sawano berharap agar pihak pelaksana proyek, serta instansi pemerintah terkait, dapat membuka diri terhadap pengawasan masyarakat dan memberikan informasi yang transparan mengenai pengelolaan material galian. Keterbukaan ini penting untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa setiap proyek pembangunan berjalan sesuai dengan prinsip akuntabilitas.

Ia juga menyarankan agar dibentuk tim kajian independen yang melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, praktisi lingkungan, dan perwakilan masyarakat, untuk melakukan penilaian objektif terhadap pemanfaatan material galian tersebut. Dengan demikian, pengambilan keputusan akan lebih berimbang dan meminimalkan potensi konflik kepentingan.

“Jika semua dilakukan secara transparan dan berdasarkan data yang valid, masyarakat juga akan lebih tenang dan percaya. Proyek pembangunan ini kan tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat, jadi prosesnya pun harus mencerminkan prinsip tersebut,” tambahnya.

Pelebaran Jalan Provinsi Jangga–Cikamurang sendiri merupakan proyek strategis yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antar wilayah dan memperlancar arus transportasi. Namun, keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari rampungnya infrastruktur fisik, tetapi juga dari bagaimana seluruh prosesnya dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Dengan adanya penekanan dari tokoh masyarakat seperti Atim Sawano, diharapkan kesadaran akan pentingnya objektivitas dalam pengelolaan proyek pembangunan, khususnya terkait material galian, semakin meningkat. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa setiap pembangunan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Indramayu.