Alasan Iran Tak Membawa Sardar Azmoun ke Piala Dunia 2026 Terkait Isu Politik

bola5 Dilihat

DermayuMagz.com – Keputusan mengejutkan datang dari Timnas Iran menjelang Piala Dunia 2026, dengan dicoretnya striker andalan mereka, Sardar Azmoun, dari skuad sementara.

Pemain berusia 31 tahun ini, yang merupakan pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah timnas Iran, mendadak tidak masuk dalam daftar 30 pemain yang dirilis pelatih Amir Ghalenoei pada Jumat, 20 Maret 2026.

Absennya Azmoun sontak memicu kontroversi dan perdebatan sengit di kalangan publik Iran. Banyak pihak menduga ada motif politik di balik pencoretan tersebut, yang berpotensi membelah dukungan antara penggemar dan otoritas sepak bola Iran.

Media pemerintah Iran, seperti IRNA, memang menyebutkan alasan cedera sebagai penyebab resmi. Namun, spekulasi mengenai keterlibatan isu politik semakin menguat di kalangan masyarakat.

Azmoun dikenal tidak hanya karena kiprahnya di lapangan hijau, tetapi juga karena sikapnya dalam menyuarakan isu-isu sosial dan politik yang sensitif di negaranya.

Kehilangan pemain sekaliber Azmoun tentu menjadi pukulan telak bagi Iran, yang berambisi untuk mencetak sejarah dengan lolos dari fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Pencoretan Kontroversial dari Skuad Timnas

Keputusan pelatih Amir Ghalenoei untuk tidak memasukkan Sardar Azmoun dalam skuad sementara Piala Dunia 2026 menimbulkan kebingungan dan kekecewaan di kalangan penggemar sepak bola Iran.

Ghalenoei sendiri menggambarkan pemilihan skuad ini sebagai “keputusan teknis paling sulit” dalam kariernya. Ia menekankan bahwa semua pemain dipilih murni berdasarkan kriteria teknis dan kebutuhan tim.

Namun, klaim Ghalenoei tersebut tidak sepenuhnya meyakinkan publik Iran. Banyak yang melihat adanya agenda lain di balik pencoretan Azmoun, terutama mengingat rekam jejaknya yang seringkali bersinggungan dengan isu-isu sensitif.

Azmoun, yang pernah bermain untuk klub-klub Eropa ternama seperti Bayer Leverkusen, AS Roma, dan Zenit St Petersburg, memiliki pengalaman dan kualitas yang tak terbantahkan. Kehilangan pemain dengan pengalaman internasional sebanyak itu tentu akan berdampak besar pada kekuatan lini serang Iran.

Para pengamat sepak bola menilai bahwa kontribusi Azmoun di lapangan jauh melampaui potensi masalah non-teknis yang mungkin melatarbelakangi keputusannya dicoret.

Latar Belakang Dukungan Politik Azmoun

Keputusan pencoretan Sardar Azmoun tampaknya sangat erat kaitannya dengan pandangan politiknya yang vokal. Pada tahun 2022, Azmoun secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada para pengunjuk rasa anti-pemerintah di Iran.

Peristiwa ini terjadi menyusul kematian Mahsa Amini, yang memicu gelombang protes besar di seluruh Iran. Azmoun bahkan sempat mengungkapkan di media sosial bahwa ia rela dikeluarkan dari tim nasional demi membela hak-hak perempuan Iran.

Ketegangan semakin memuncak pada Maret 2026, ketika Azmoun mengunggah foto pertemuannya dengan penguasa Dubai, Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Momen ini terjadi di tengah ketegangan militer antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA).

UEA dipandang sebagai negara antagonis oleh Teheran, terutama setelah serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026. Iran sendiri telah melancarkan serangan balasan ke wilayah UEA.

Tindakan Azmoun tersebut kemudian diinterpretasikan oleh media Iran sebagai bentuk ketidaksetiaan kepada pemerintah. Kantor Berita Fars, yang memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam, melaporkan bahwa Azmoun dicoret karena dianggap tidak loyal.

Baca juga : 9 Inspirasi Rumah Desa Kombinasi Kayu dan Roster untuk Hunian Sejuk dan Estetik

Bahkan, seorang komentator sepak bola Iran, Mohammed Misaghi, secara terbuka mengkritik Azmoun di televisi. Ia menyatakan bahwa sang striker “tidak pantas mengenakan seragam tim nasional.”

Reaksi Publik dan Pejabat Iran

Absennya Sardar Azmoun dari skuad Piala Dunia 2026 telah memicu reaksi beragam di Iran. Keputusan ini memecah belah opini publik, antara yang mendukung pemerintah dan yang menyayangkan kehilangan pemain bintang.

Banyak warga Iran yang merasa kecewa dan tidak terima dengan pencoretan Azmoun, mengingat kontribusinya yang signifikan bagi timnas selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, sebagian masyarakat mendukung langkah pemerintah dan pelatih, menganggap tindakan Azmoun sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara.

Azmoun sendiri telah menyampaikan pesan emosional melalui media sosial. Ia menegaskan kecintaannya yang mendalam kepada Iran dan kesiapannya untuk berjuang demi negaranya.

Dalam pesannya, Azmoun menyatakan, “Di mana pun saya bermain sepak bola, identitas saya, hati saya, dan kebanggaan saya tetap Iran.” Ia juga menambahkan bahwa dirinya pernah menolak tawaran finansial besar dari negara lain demi bisa membela rakyat Iran.

Bahkan, Wakil Presiden Iran, Abdolkarim Hosseinzadeh, secara terbuka mendesak agar Azmoun dikembalikan ke tim nasional. Ia menekankan pentingnya persatuan bangsa dan tidak mengabaikan loyalitas yang telah ditunjukkan Azmoun.

Meskipun demikian, pelatih Amir Ghalenoei tampaknya tetap berpegang pada keputusannya, dengan alasan yang diklaim murni bersifat teknis.

Dampak dan Tantangan Iran di Piala Dunia 2026

Kehilangan Sardar Azmoun diprediksi akan memberikan dampak signifikan bagi Timnas Iran di Piala Dunia 2026. Peran Azmoun sebagai ujung tombak serangan sangat krusial, dan absennya akan mempengaruhi kekuatan tim secara keseluruhan.

Selain itu, moral para pemain lainnya kemungkinan juga akan terpengaruh oleh situasi ini. Iran memiliki target ambisius untuk bisa lolos dari fase grup, sebuah pencapaian yang belum pernah mereka raih dalam enam kali partisipasi sebelumnya.

Partisipasi Iran di turnamen akbar ini juga dibayangi oleh ketegangan politik yang sedang berlangsung. Konflik dengan Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah, menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan dan perlakuan terhadap delegasi Iran.

Iran dijadwalkan akan bermain di Amerika Serikat pada fase grup, menghadapi Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Situasi ini menambah kompleksitas persiapan tim.

Masalah visa menjadi salah satu isu krusial yang dihadapi federasi sepak bola Iran. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, telah meminta jaminan perlindungan dari FIFA. Permintaan ini terkait dengan isu simbol nasional Iran dan potensi masalah visa, mengingat adanya insiden penolakan delegasi Iran di Kanada.

FIFA kini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga netralitas olahraga di tengah tekanan politik dari negara tuan rumah dan regulasi yang ketat.