DermayuMagz.com – Adang Haedaroh, seorang kreator konten gaming yang lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 27 Juni 1998, kini tengah menikmati popularitasnya yang meroket di TikTok. Dengan nama panggung Danx Lynxie, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 60 ribu pengikut berkat konten-konten gameplay Mobile Legends yang menarik.
Perjalanan Adang ke dunia gaming bukanlah sesuatu yang instan. Sejak kecil, ia sudah memiliki ketertarikan pada permainan digital. Kecintaannya pada game mendorongnya untuk terus mengikuti perkembangan industri, meskipun kala itu ia belum memiliki perangkat yang memadai untuk bermain secara maksimal.
Keterbatasan yang dialaminya justru menjadi motivasi besar baginya untuk terus berkembang dan meraih impian menjadi seorang gamer yang dikenal luas. Ketika Mobile Legends mulai populer di Indonesia, Adang Haedaroh melihat peluang emas untuk mengasah kemampuan bermainnya.
Ia mulai mempelajari berbagai strategi permainan, mendalami karakteristik setiap hero, serta meningkatkan kemampuan mekaniknya agar dapat bersaing dengan pemain lain. “Awalnya saya hanya main untuk hiburan,” ujar Adang saat berbincang dengan Showbiz Liputan6.com pada 15 Juni 2026.
Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan untuk terus meningkatkan kemampuan dan bermain lebih kompetitif semakin terasa. “Makin lama saya merasa tertantang untuk terus meningkatkan kemampuan dan mencoba bermain lebih kompetitif,” tambahnya.
Seiring dengan membaiknya kondisi finansial, Adang akhirnya mampu membeli perangkat gaming yang lebih memadai, memungkinkannya untuk berlatih dan bermain dengan lebih optimal.
Aksi Permainan, Momen Lucu, dan Strategi
Dengan perangkat yang lebih baik, Adang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memaksimalkan kemampuannya sebagai seorang gamer sejati. Ia tidak hanya fokus pada permainan itu sendiri, tetapi juga mulai membagikan momen-momen gameplay-nya ke media sosial.
Keputusan kreatif ini terbukti menjadi langkah penting dalam kariernya sebagai kreator konten. “Berbagai video konten aksi permainan, momen lucu, dan strategi bermain mulai rutin diunggah ke TikTok,” ungkapnya.
Konten-konten yang dibagikannya secara konsisten perlahan mulai menarik perhatian para pengguna TikTok, terutama para penggemar Mobile Legends. Hal ini menunjukkan bahwa dedikasi dan kreativitasnya dalam membuat konten membuahkan hasil.
Terus Belajar dan Perbaiki Kualitas
Memiliki puluhan ribu pengikut di TikTok tidak membuat Adang Haedaroh berpuas diri. Ia menyadari bahwa dunia konten kreator membutuhkan konsistensi dan kemauan untuk terus belajar. Tidak semua video yang diunggah akan mendulang views yang besar, sehingga perbaikan kualitas konten menjadi kunci utama.
“Dulu saya bermimpi bisa jadi gamer yang dikenal banyak orang. Sekarang saya bersyukur bisa fokus main Mobile Legends sekaligus bikin konten yang ditonton banyak orang,” ucap Adang Haedaroh dengan rasa syukurnya.
Ia menekankan pentingnya terus belajar dan memperbaiki kualitas konten agar tetap relevan dan disukai oleh audiensnya. Dedikasi ini menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan popularitasnya.
Mengembangkan Skill
Meskipun telah meraih popularitas, Adang Haedaroh memiliki target lain yang ingin dicapai. Ia berambisi untuk terus mengembangkan skill-nya sebagai pemain Mobile Legends sekaligus memperluas jangkauan kontennya agar dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.
Adang ingin memberikan inspirasi kepada generasi muda bahwa berkarier di dunia gaming dan e-sports dapat membawa kesuksesan. Ia berharap dapat memotivasi teman-teman sebayanya yang sedang mengejar impian di bidang yang sama.
“Saya ingin terus berkembang sebagai pemain dan kreator konten. Semoga saya bisa memotivasi teman-teman yang lagi mengejar impian di dunia gaming,” tuturnya dengan penuh semangat.
Perjalanan Adang Haedaroh, atau Danx Lynxie, menjadi bukti bahwa dengan tekad, kerja keras, dan kreativitas, impian di era digital dapat diraih, bahkan dari latar belakang yang sederhana.
Liputan6.com, Jakarta – Keseruan The Icon Indonesia persembahan SCTV terus berlanjut pada Senin (15/6/2026) kemarin. Delapan finalis terbaik tampil memukau tadi dalam babak “Top 8 Final Special Million Views” dengan tantangan menyanyikan lagu-lagu hits yang telah ditonton jutaan pemirsa. Titi DJ, Afgan, Isyana Sarasvati, dan Andien duduk sebagai jajaran juri, semakin menambah kemeriahan sekaligus ketegangan kompetisi.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, ada satu hal yang berbeda dibandingkan babak-babak sebelumnya. Pada “Top 8 Final” ini dukungan dari pemirsa melalui Virtual Gift sangat menentukan kelanjutan nasib finalis di panggung “The Icon Indonesia”.
Kompetisi semalam dibuka dengan meriah lewat penampilan kedelapan finalis menyanyikan lagu “Diam-Diam Suka” dilanjutkan “Eee A” yang sukses mengajak seluruh pemirsa di Studio 6 EMTEK City bergoyang bersama.
Selanjutnya, Vedra (Batam) tampil sebagai finalis pertama menyanyikan lagu “Hanya Memuji” yang dipopulerkan oleh Shanty. Penampilan Vedra (Batam) sukses mendapat tiga standing ovation dari juri.
“Terima kasih Vedra sudah membuka malam ini dengan mengagumkan. Aku juga mengapresiasi kamu karena dapat menempatkan kekuatan-kekuatan kamu di posisi yang sangat tepat”, puji Andien. Isyana Sarasvati sebagai satu-satunya juri yang tidak memberikan standing ovation tetap memberi pujian untuk Vedra (Batam). “Vedra tidak perlu membuktikan lagi kalau suara kamu sudah sangat bagus, jadi menurutku tadi terlalu banyak improvisasi”, ungkap Isyana Sarasvati.
Penampilan Vedra (Batam) juga mendapat dukungan dari Shanty melalui video.
Penampilan Gerald dan Silvia
Penampilan berikutnya datang dari Gerald (Ambon) yang membawakan lagu hits era 2000-an, “Masih Ada”, yang dipopulerkan oleh Ello. Momen tersebut semakin berkesan karena Gerald mendapat dukungan spesial dari Ello melalui tayangan video yang memberikan semangat untuk penampilannya di panggung “The Icon Indonesia”.
“Kemampuan koreo kamu semakin baik, namun sayangnya kamu jadi kurang kontrol saat bernyanyi. Mungkin kamu terlalu fokus koreo, sehingga di beberapa part lagu kurang on point. Mudah-mudahan kalau kamu lolos, bisa lebih baik lagi karena sebenarnya aku suka dengan suara kamu”, komentar Titi DJ.
Suasana Studio 6 EMTEK City seketika berubah saat Silvia (Bandung) tampil dengan lagu “Suara (Ku Berharap)” karya grup band Hijau Daun. Silvia (Bandung) sukses membuat Titi DJ memberikan standing ovation.
“Silvia is back! Kamu itu memiliki kemampuan bercerita lewat bernyanyi. Saya salut sekali dengan kegigihan kamu karena kamu beberapa kali berada di zona merah, tapi kamu terus meningkatkan kemampuan kamu”, ungkap Titi DJ yang langsung ditambahkan oleh Isyana Sarasvati.
“Silvia jujur ini penampilan terbaik kamu di The Icon. Kamu mengubah cara menyanyi kamu. Perubahan kamu signifikan sekali”, puji Isyana Sarasvati. Sama seperti penampilan peserta sebelumnya, Silvia juga mendapat dukungan penuh dari Dide vokalis Hijau Daun melalui tayangan video.
Malam itu, Felicia dari Tangerang juga mencuri perhatian. Ia membawakan lagu “Rindu” yang pernah dipopulerkan oleh Agnes Monica. Penampilannya tidak hanya memukau para juri, tetapi juga mendapatkan standing ovation dari seluruh juri.
“Felicia, kamu sudah membuktikan bahwa kamu layak berada di sini. Suara kamu luar biasa, penyampaian kamu juga sangat bagus. Saya tidak bisa berkata-kata lagi, penampilan kamu malam ini sempurna,” ujar Titi DJ dengan penuh kekaguman.
Puncak kemeriahan malam itu terjadi ketika Felicia mendapatkan kesempatan berharga untuk berduet dengan salah satu juri, Afgan. Keduanya membawakan lagu hits Afgan, “Sadis”, dengan harmoni yang memukau. Penampilan duet ini disambut tepuk tangan meriah dan decak kagum dari seluruh penonton.
Keberhasilan Felicia tidak hanya berkat penampilannya yang memukau, tetapi juga dukungan besar dari penggemarnya yang memberikan Virtual Gift terbanyak. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh dukungan penonton dalam kompetisi ini.
Sementara itu, Gerald (Ambon) berhasil lolos ke babak selanjutnya berkat perolehan Virtual Gift yang menyelamatkannya. Ia menunjukkan perjuangan dan semangat pantang menyerah untuk terus bersaing di panggung “The Icon Indonesia”.
Acara “The Icon Indonesia” ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi menyanyi, tetapi juga platform bagi para talenta muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dan mendapatkan pengakuan dari publik serta para profesional di industri musik.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6






