Festival Media 2025 Ditutup: AJI Soroti Perlindungan Jurnalis

Nasional15 Views

DermayuMagz.com – Setelah tiga hari penuh hiruk pikuk diskusi, kolaborasi, dan refleksi, Festival Media (Fesmed) 2025 yang megah di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya resmi ditutup pada Minggu (14/9/2025) malam.

Acara akbar yang mempertemukan para pegiat media, jurnalis, akademisi, dan publik ini, telah menjadi panggung penting untuk membahas tantangan serta masa depan dunia jurnalistik di era digital yang terus berubah.

Pentingnya Perlindungan Jurnalis Menjadi Sorotan Utama

Di balik kemeriahan dan berbagai diskusi panel yang mencerahkan, satu benang merah yang terus digaungkan oleh penyelenggara, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), adalah urgensi perlindungan jurnalis. Dalam penutupan yang berlangsung khidmat, Ketua Umum AJI Indonesia, Nenden Sekar A., secara tegas menekankan bahwa kebebasan pers tidak akan pernah bisa terwujud sepenuhnya tanpa adanya jaminan keamanan bagi para pewarta di lapangan.

Beliau menggarisbawahi bagaimana para jurnalis kerap kali menjadi sasaran intimidasi, kekerasan, bahkan ancaman hukum ketika menjalankan tugasnya untuk menyajikan informasi yang akurat dan berimbang kepada publik. “Perlindungan jurnalis bukan hanya tanggung jawab organisasi pers, tetapi juga negara dan seluruh elemen masyarakat. Tanpa perlindungan ini, independensi pers akan terancam, dan pada akhirnya, hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar akan tercederai,” ujar Nenden dengan nada serius.

Fesmed 2025 ini memang menjadi momentum yang sangat tepat untuk mengangkat isu ini. Mengingat, beberapa waktu terakhir, berbagai kasus kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis masih kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari perampasan alat kerja, pemukulan, hingga ancaman yang membuat para pewarta merasa tidak aman dalam menjalankan profesinya.

Benteng Rotterdam: Saksi Bisu Perjuangan Jurnalistik

Pemilihan Benteng Rotterdam sebagai lokasi Fesmed 2025 bukan tanpa alasan. Bangunan bersejarah yang sarat makna ini seolah menjadi pengingat akan perjuangan panjang dalam meraih dan mempertahankan kebebasan berekspresi di Indonesia. Di tengah dinding-dinding kokohnya, para peserta diajak untuk merenungkan kembali akar dari kebebasan pers, serta komitmen yang harus terus dijaga agar cita-cita tersebut tetap hidup.

Selama tiga hari penyelenggaraannya, Benteng Rotterdam dipenuhi oleh rangkaian acara yang padat. Mulai dari sesi diskusi panel yang mendalam, lokakarya praktis, pameran karya jurnalistik, hingga pertunjukan seni yang merefleksikan isu-isu media. Ribuan peserta dari berbagai penjuru negeri hadir, membawa ide-ide segar dan semangat kolaborasi.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah diskusi tentang “Jurnalisme di Era Disinformasi”. Para pakar media sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar di tengah derasnya arus berita bohong dan hoaks yang semakin canggih. Di sinilah peran jurnalis yang kredibel menjadi semakin krusial.

Peran Media Lokal dan Tantangan Era Digital

Fesmed 2025 tidak hanya berfokus pada isu-isu nasional, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar bagi media-media lokal untuk berbagi pengalaman dan tantangan. Banyak diskusi yang mengangkat bagaimana media lokal dapat bertahan dan tetap relevan di tengah dominasi media daring berskala nasional maupun internasional.

Para perwakilan media lokal dari berbagai daerah memaparkan strategi mereka dalam menggali cerita-cerita unik dari komunitas mereka, serta bagaimana mereka beradaptasi dengan teknologi baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Jujur sih, perjuangan mereka patut diacungi jempol.

Selain itu, isu keberlanjutan ekonomi media juga menjadi topik hangat. Bagaimana media bisa tetap independen secara finansial tanpa harus mengorbankan etika jurnalistik? Berbagai model bisnis baru, mulai dari langganan digital, penggalangan dana dari pembaca, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak, dibahas secara terbuka.

Harapan untuk Masa Depan Jurnalisme Indonesia

Penutupan Fesmed 2025 ini meninggalkan banyak catatan penting dan harapan. AJI dan seluruh pegiat media yang hadir bertekad untuk terus memperjuangkan lingkungan yang lebih aman dan kondusif bagi para jurnalis. Upaya advokasi kepada pemerintah untuk penguatan payung hukum perlindungan jurnalis akan terus digalakkan.

Di samping itu, para jurnalis dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi. Menguasai teknologi baru, memahami tren disinformasi, dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip jurnalistik yang etis adalah kunci untuk tetap relevan di masa depan.

Festival Media 2025 di Benteng Rotterdam ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak. Sebuah pengingat bahwa jurnalisme yang sehat dan bertanggung jawab adalah pilar penting bagi demokrasi yang kuat. Semoga semangat Fesmed terus membekas dan membawa perubahan positif bagi dunia pers Indonesia.

Baca juga di sini: Pelantikan KONI Indramayu 2026-2030: Resmi & Netral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *