DermayuMagz.com – Dunia perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang mengeksplorasi kekayaan mitologi lokal. Kali ini, giliran kisah tentang “Suanggi: Ilmu Kutukan” yang akan segera menyapa penikmat layar lebar. Film horor ini tidak hanya menjanjikan ketegangan, tetapi juga sebuah perjalanan mendalam ke dalam kepercayaan dan kearifan lokal masyarakat Papua.
Proses penggarapan film yang dijadwalkan tayang pada 10 September 2026 ini rupanya menyimpan berbagai tantangan unik, terutama bagi sang sutradara, Dom Dharmo. Salah satu aspek yang paling menantang adalah upaya untuk menghadirkan otentisitas dialog para pemain agar selaras dengan logat khas Timur, khususnya Papua.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Rabu, 15 Juli 2026, Dom Dharmo menceritakan bagaimana ia dan timnya berupaya keras untuk menangkap nuansa linguistik daerah tersebut. Meskipun film ini tetap menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, penekanan pada penggunaan logat Papua menjadi elemen krusial untuk membangun atmosfer yang kuat dan realistis.
“Film ini sebenarnya masih berbahasa Indonesia, tapi kami bermain dengan logatnya. Kami banyak belajar dari orang sana dengan ngobrol sama mereka,” ujar Dom Dharmo, menjelaskan pendekatan yang diambil timnya. Ia menambahkan bahwa interaksi langsung dengan masyarakat setempat menjadi kunci utama dalam proses adaptasi ini.
Tantangan adaptasi logat ini semakin terasa mengingat tidak semua aktor yang terlibat dalam film ini berasal dari wilayah Timur Indonesia. Dom Dharmo mengakui bahwa hal ini menjadi salah satu poin penting yang harus dihadapi selama proses syuting. Namun, ia mengapresiasi kemampuan para aktornya dalam beradaptasi dengan cepat.
“Paling sulit memang menyesuaikan logat ya. Tapi, itu tidak butuh waktu lama karena adaptasinya luar biasa. Mereka begitu sampai di Sorong, langsung adjust ngomong pakai bahasa Papua. Ngobrol, membuka diri, dan bergaul sama orang-orang di Papua. Itu sebenarnya kunci dari seorang aktor, bagaimana mereka bisa beradaptasi secepat mungkin,” ungkap Dom Dharmo dengan nada bangga pada malam konferensi pers tersebut.
Adaptasi logat yang cepat ini menunjukkan dedikasi para aktor dalam mendalami peran mereka dan menghormati budaya yang menjadi latar belakang cerita. Kemampuan untuk menyatu dengan lingkungan dan masyarakat setempat menjadi bukti profesionalisme mereka.
Melakukan Riset Mendalam Tentang Suanggi
Di balik upaya adaptasi bahasa, Dom Dharmo juga menekankan pentingnya riset mendalam mengenai mitos Suanggi itu sendiri. Ia dan timnya tidak hanya mengandalkan cerita dari luar, tetapi juga berusaha menggali informasi langsung dari sumbernya, yaitu masyarakat asli Papua.
“Kita sempat cek ke lokasi. Ada salah satu pemain kita juga yang dekat dengan budaya sana. Kita banyak tanya-tanya bagaimana suanggi ini ada, ternyata suanggi itu seperti dukun saja sebenarnya, seperti di Jawa, cuma di sana namanya suanggi. Mereka awalnya tertutup, karena menyebut suanggi saja mereka takut sekali. Tapi pelan-pelan akhirnya kita dapat informasi,” tutur Dom Dharmo, menjelaskan kesulitan awal dalam mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Tingkat kerahasiaan dan ketakutan yang melekat pada mitos Suanggi menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan ini di kalangan masyarakat Papua. Upaya tim film untuk membangun kedekatan dan kepercayaan menjadi langkah krusial agar penggambaran Suanggi dalam film dapat dilakukan dengan akurat dan penuh penghormatan.
Kesan Carissa Perusset dengan Keindahan Indonesia Timur
Salah satu aktris yang turut membintangi film ini, Carissa Perusset, yang memerankan karakter Gia, berbagi pengalamannya selama menjalani proses syuting di Papua. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan alam dan keramahan masyarakat di sana.
“Syuting berasa liburan, indah banget Papua. Sampai sekarang kayak kangen banget sama Papua, pengen balik lagi. Makananannya juga enak banget. Seru banget deh pokoknya,” ujar Carissa dengan antusias, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Kesan positif dari Carissa ini tidak hanya menambah daya tarik film, tetapi juga menjadi promosi tersendiri bagi keindahan pariwisata Indonesia Timur. Pengalaman syuting di lokasi yang eksotis seperti Papua tentu memberikan inspirasi dan kenangan tak terlupakan bagi para pemain dan kru.
Sinopsis Film Suanggi: Ilmu Kutukan
Film Suanggi: Ilmu Kutukan akan membawa penonton menyelami kisah Beni, seorang mantan penyanyi yang hidupnya tengah dilanda krisis. Kariernya yang meredup membuatnya terjerat utang dalam jumlah besar, memaksanya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Sorong demi merawat ibunya yang sakit.
Namun, di balik niat mulia untuk merawat sang ibu, tersimpan agenda tersembunyi. Beni berencana untuk menguasai harta ibunya. Niat buruk inilah yang kemudian menjadi gerbang bagi Beni untuk menghadapi teror-teror mengerikan. Ia mulai diteror oleh sihir Aroba, seorang tokoh yang dikenal sebagai Suanggi.
Pertanyaan besar yang menggantung adalah, akankah Beni mampu keluar dari jeratan teror sihir Aroba yang mengancam jiwanya? Film ini menjanjikan ketegangan psikologis dan horor yang akan membuat penonton terpaku di kursi mereka.
Film Suanggi: Ilmu Kutukan dibintangi oleh jajaran aktor berbakat, di antaranya Pangeran Lantang sebagai Beni, Carissa Perusset sebagai Gia, Stany Imbiri sebagai Maria, Obimesak Nubatonis sebagai Salem, serta rapper ternama Iwa K yang akan memerankan karakter Aroba. Kehadiran para aktor ini diharapkan dapat memberikan performa terbaiknya dalam menghidupkan kisah mistis ini.






