Gibran Berkomitmen Perbaiki Manajemen MBG dan Kopdes Merah Putih

News5 Dilihat

DermayuMagz.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan komitmen pemerintah untuk memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Langkah ini bertujuan untuk memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat serta menghindari pemborosan.

Pemerintah bertekad agar pelaksanaan program-program ini menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan efisien. Selain itu, upaya ini juga diarahkan untuk memberantas praktik-praktik korupsi.

“Pemerintah berkomitmen agar eksekusi program bisa lebih tepat sasaran, lebih efektif, efisien, serta terbebas dari praktik-praktik korupsi,” tegas Gibran dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2026).

Perbaikan tata kelola ini sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah. Hal ini juga akan berdampak positif pada peningkatan kemampuan fiskal negara.

Dengan demikian, kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional diharapkan dapat semakin solid. “Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional,” tandasnya.

Program MBG belakangan ini memang menjadi sorotan publik. Hal ini menyusul penangkapan tiga pimpinannya oleh Kejaksaan Agung terkait dugaan kasus korupsi. Ketiga pimpinan yang dimaksud adalah Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewijk Pusung.

Sementara itu, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga mendapat perhatian serius dari masyarakat. Program strategis nasional ini dinilai belum menunjukkan arah yang jelas hingga saat ini. Beberapa temuan visual bahkan menunjukkan pembangunan yang janggal, seperti lokasi yang berada di tepi tebing curam atau di atas bukit yang sulit diakses.

KDMP sempat menjadi viral karena pemberitaan mengenai adanya penggeseran bangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) demi mendapatkan posisi yang lebih strategis bagi koperasi tersebut.

Di sisi lain, Wapres Gibran juga mengingatkan generasi muda untuk menguasai teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan bagian integral dari kehidupan saat ini.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat menuntut generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pemain aktif dalam menguasai teknologi tersebut. “AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut,” ujar Gibran.

Ia mendorong para pelajar untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam proses belajar. AI dapat berfungsi sebagai asisten pribadi yang membantu mencari informasi, mempelajari bahasa asing, hingga memahami konsep-konsep rumit secara lebih sederhana.

Namun, Gibran mengingatkan agar penguasaan teknologi tidak mengurangi kemampuan berpikir kritis. AI seharusnya digunakan untuk mendorong kreativitas dan produktivitas, bukan menggantikan fungsi kognitif manusia.

Gibran menyoroti banyaknya teknologi AI yang bersifat open source, yang membuka peluang besar bagi talenta muda Indonesia untuk berkembang dan berinovasi. “Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia. Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian,” ucapnya.

Selain generasi muda, Gibran juga memberikan perhatian kepada para guru dan orang tua. Ia memahami adanya kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi yang cepat, namun meminta para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi diri.

Guru yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki kemampuan lebih dalam mendukung proses pembelajaran. Teknologi ini dapat membantu tugas administratif, penyusunan soal, penyederhanaan materi, hingga penyajian contoh yang lebih mudah dipahami siswa.

“Dengan demikian, guru dapat memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan perhatian pada aspek pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan kepada siswa,” kata dia.

Kepada orang tua, Gibran menekankan pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan teknologi digital. Orang tua perlu terus belajar agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi yang diakses oleh anak-anak mereka.

“Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses,” wanti Gibran.

Lebih lanjut, Gibran menegaskan bahwa etika merupakan aspek krusial yang harus mendampingi penguasaan teknis AI. Teknologi tanpa etika dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyebaran hoaks, plagiarisme, dan pelanggaran privasi.

Oleh karena itu, pemanfaatan AI harus didasarkan pada integritas dan tanggung jawab. Teknologi seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mempermudah kehidupan, bukan untuk menipu atau merugikan orang lain.

“Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab,” ucap Gibran.

Pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) untuk AI yang disusun UNESCO. Instrumen ini berfungsi sebagai alat diagnosis untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI Indonesia sesuai dengan pedoman etika yang berlaku.

“Dengan demikian, Indonesia memiliki potensi besar dan sumber daya manusia yang mampu bersaing di bidang teknologi. Pemerintah bertugas menyiapkan ekosistem yang mendukung, sementara masyarakat perlu terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu memanfaatkan peluang yang ada,” ucap dia.

“Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat,” Gibran menandasi.