Ide Jualan Bawang Goreng yang Menguntungkan Ibu Rumah Tangga di Karanganyar

hot5 Dilihat

DermayuMagz.com – Memanfaatkan bahan pangan sederhana seperti bawang merah, seorang ibu rumah tangga di Karanganyar, Jawa Tengah, berhasil membangun usaha bawang goreng yang kini meraup omzet jutaan rupiah setiap bulannya.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seringkali bermula dari ide-ide sederhana yang muncul dari kebutuhan sehari-hari. Saryati (49), seorang ibu rumah tangga dari Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, membuktikan hal ini dengan usaha bawang gorengnya yang diberi nama SW Brambang Goreng Jawa.

Awalnya, Saryati tidak memiliki pengalaman bisnis di bidang kuliner. Ia hanya melihat potensi dari pasokan bawang merah segar yang didapatkan dari rekan kerja suaminya. Dari situ, muncul ide untuk mengolah bawang merah yang melimpah menjadi produk yang lebih tahan lama dan praktis.

Ide tersebut kemudian diwujudkan dengan mencoba berbagai resep di dapur rumahnya. Saryati bertekad untuk menemukan rasa dan tekstur bawang goreng yang sempurna. Proses ini tidak mudah, namun ia pantang menyerah.

Bawang merah mentah yang seringkali cepat rusak jika tidak segera diolah, mendorong Saryati untuk menciptakan bawang goreng. Produk ini dinilai lebih awet dan dapat menjadi pelengkap berbagai hidangan.

Usaha SW Brambang Goreng Jawa ini dirintis sejak akhir tahun 2019. Saryati memulai dengan mengolah sekitar lima kilogram bawang merah segar yang didapatkan dari kenalannya yang bertani bawang merah.

Produk bawang gorengnya tersebut kemudian ia tawarkan dari rumah ke rumah dan kepada tetangga. Dari interaksi ini, Saryati menyadari bahwa banyak pembeli hanya membutuhkan bawang dalam jumlah sedikit untuk kebutuhan dapur mereka.

Sisa bawang yang tidak terpakai seringkali akhirnya rusak. Pengamatan ini memperkuat keyakinan Saryati untuk mengolah bawang mentah menjadi produk yang lebih tahan lama dan mudah disimpan.

“Awalnya memang tidak sengaja. Saya waktu itu cuma jual bawang mentah dulu, lah terus kepikiran kenapa tidak dibuat bawang goreng saja supaya lebih tahan lama pas disimpan dan tidak busuk,” ujar Saryati.

Dengan peralatan dapur seadanya, Saryati mulai mengiris dan menggoreng bawang merah. Proses awal ini juga dibantu oleh anggota keluarga lainnya, termasuk suami dan anak-anaknya.

Ia melakukan banyak percobaan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tingkat kematangan, tekstur yang renyah, hingga rasa yang pas menjadi fokus utamanya.

Beberapa kali ia menghadapi kendala, seperti produk yang terlalu berminyak atau kurang renyah saat disimpan. Namun, Saryati terus belajar dan mencoba hingga menemukan formula yang tepat.

Untuk menghasilkan kualitas terbaik, Saryati memilih jenis bawang merah khusus, yaitu bawang Jawa dari Brebes dan Nganjuk. Ia menilai jenis bawang ini memiliki aroma dan rasa yang lebih kuat saat digoreng dibandingkan bawang dari daerah lain.

Setelah proses produksi dirasa cukup matang, SW Brambang Goreng Jawa mulai diperkenalkan ke pasar yang lebih luas. Saryati sempat menitipkan produknya ke toko-toko oleh-oleh.

Namun, di awal perjalanannya, produk bawang goreng dalam kemasan toples kecil masih memiliki satu kelemahan, yaitu kandungan minyak yang cukup banyak. Hal ini membuat tampilannya kurang menarik bagi para pemilik toko.

Menghadapi kendala ini, Saryati tidak menyerah. Ia kembali menyempurnakan proses produksinya, fokus untuk mengurangi kadar minyak, dan memastikan bawang goreng tetap renyah dalam jangka waktu yang lama.

“Waktu awal saya merasa produk ini belum layak masuk toko. Jadi pernah, minyaknya itu masih banyak dan terlihat di bawah toplesnya itu, jadi saya cari cara lagi supaya hasilnya lebih kering,” tuturnya.

Seiring waktu, usaha Saryati mulai berkembang pesat. Dari produk rumahan, SW Brambang Goreng Jawa kini telah bertransformasi menjadi UMKM yang menawarkan beragam varian.

Varian produknya kini tidak hanya bawang goreng original, tetapi juga bawang goreng pedas, bawang putih goreng, bawang goreng dalam kemasan saset, hingga minyak bawang.

Produk-produk ini dipasarkan melalui berbagai kanal, termasuk toko oleh-oleh, penjualan online, dan pelanggan setia. Menariknya, Saryati juga memanfaatkan limbah produksi berupa kulit bawang merah.

Kulit bawang merah yang biasanya dibuang, ternyata memiliki nilai jual karena dicari untuk keperluan pupuk, pewarna alami, hingga bahan penelitian.

“Kalau sekarang, omzet usahanya itu rata-ratanya sih bisa Rp4 juta sampai Rp5 juta gitu per bulan. Kadang juga bisa meningkat di momen-momen khusus, seperti Ramadan,” ungkap Saryati.

Keberhasilan ini tak lepas dari komitmen Saryati untuk menjaga kualitas produknya agar tetap alami dan tanpa campuran bahan tambahan. Ia memastikan hanya menggunakan bawang pilihan, garam, dan minyak goreng berkualitas.

Harga produk SW Brambang Goreng Jawa yang ditawarkan di toko oleh-oleh berkisar antara Rp30.000 hingga Rp40.000 untuk kemasan 600 ml atau seberat 110 gram.

Perkembangan usahanya semakin signifikan setelah Saryati mengikuti program BRIncubator Lokal 2025 yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN Solo.

Melalui program inkubator tersebut, ia mendapatkan bekal pengetahuan baru mengenai manajemen keuangan, strategi pengemasan produk, pemasaran digital, hingga teknik presentasi produk di hadapan calon mitra bisnis.

Pelatihan ini sangat membantu Saryati dalam menata usahanya. Ia mulai aktif mempromosikan produknya melalui media sosial, mencoba teknik siaran langsung untuk penjualan, serta memperluas jaringan melalui partisipasi dalam pameran UMKM.

“Setelah ikut inkubator, saya banyak mendapat ilmu dari berbagai pelatihan yang diberikan BRI, mulai dari cara packaging, manajemen keuangan, cara menarik konsumen, membuat story telling untuk promosi sampai membuat konten yang isinya ajakan untuk membeli, atau mengenalkan produk bawang goreng kita,” jelasnya.

Selain itu, Saryati juga merasakan kemudahan transaksi berkat penggunaan QRIS BRI. Hal ini memudahkannya dalam menerima pembayaran tanpa perlu repot menyiapkan uang kembalian.

“Jadi memang penggunaan QRIS BRI ini sangat memudahkan sekali ya, tinggal scan saja kalau mau transaksi. Terus, memang saya juga memakai fasilitas BRI Mobile Banking (BRIMO), bayar pajak jadi mudah, bayar keperluan rumah lainnya juga tidak sulit, tinggal transfer saja,” imbuhnya.

Produk SW Brambang Goreng Jawa kini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Karawang, Jakarta, Semarang, Bali, Palembang, hingga Lampung.

Bahkan, produk ini juga pernah dibawa oleh pelanggan sebagai oleh-oleh ke luar negeri, seperti Malaysia, Jepang, dan Dubai, meskipun belum melalui jalur ekspor resmi.

“Kalau pengembangan penjualan sih saat ini Alhamdulillah, produk bawang goreng ini sudah bisa sampai ke Malaysia, Jepang dan Dubai. Ya, ini masih secara personal, sih, dan belum skala ekspor besar mandiri gitu, sebagai oleh-oleh TKW di sana,” ungkapnya.

Bagi Saryati, pencapaian ini merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Dari sekadar mencoba mengolah lima kilogram bawang merah, kini produknya dikenal luas dan menjadi sumber pendapatan keluarga.

“Harapannya, mudah-mudahan SW Brambang Goreng Jawa ini bisa semakin berkembang lagi. Karena saya memang inginnya melakukan ekspor ke luar negeri lebih maksimal lagi, tetapi sekarang kan sebagian besar masih saya kerjakan sendiri,” tambahnya.

Rumah BUMN Solo menyambut baik perkembangan usaha SW Brambang Goreng Jawa. Condro Rini, Koordinator Rumah BUMN Solo, mengapresiasi Saryati sebagai salah satu contoh UMKM yang mampu memaksimalkan potensi produknya.

Condro Rini menyoroti semangat Saryati untuk terus maju dan inovasinya dalam meminimalkan limbah produksi. Pemanfaatan kulit bawang merah untuk berbagai keperluan menjadi bukti konsep zero waste yang diusung.

“Brambang Goreng SW merupakan salah satu Alumni BRIncubator Lokal 2025, dengan keunikan produknya yang mengusahakan zero waste. Sehingga tidak hanya menghasilkan produk brambang goreng saja, namun juga produk turunannya, seperti minyak brambang, dan yang lainnya,” jelas Condro.

Ia mengajak UMKM di wilayah Soloraya untuk mengikuti jejak SW Brambang Goreng Jawa dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan Rumah BUMN Solo.

Baca juga : Bupati Lucky Hakim: Ujikom JPT & JPA Bangun Birokrasi Profesional

“Kami akan terus berupaya memberikan fasilitas pendampingan, pelatihan sesuai kebutuhan UMKM. Kami selalu memberikan edukasi agar para pemilik usaha bisa berkesempatan melakukan upgrade skill, karena usaha yang sukses adalah mereka yang mau dan mampu terus beradaptasi serta bertahan dengan perubahan pangsa pasar,” pungkas Condro.