IMF Perkirakan Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2026

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional kembali menegaskan proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam laporan terbarunya, IMF memprediksi ekonomi Indonesia akan mencapai angka 5% pada tahun 2026, dan diperkirakan akan sedikit meningkat menjadi 5,1% pada tahun 2027.

Proyeksi ini tertuang dalam laporan bertajuk World Economic Outlook Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology yang dirilis pada bulan Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan stabilitas dari proyeksi sebelumnya yang juga telah ditetapkan dalam laporan World Economic Outlook (WEO) pada April 2026. Ini menandakan bahwa IMF melihat prospek ekonomi Indonesia tetap kuat dalam jangka menengah.

Lebih lanjut, laporan IMF juga memberikan pandangan mengenai pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN 5, yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Untuk tahun 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sebesar 4,1%. Angka ini diprediksi akan sedikit meningkat menjadi 4,3% pada tahun 2027. Perlu dicatat bahwa proyeksi pertumbuhan untuk ASEAN 5 di tahun 2026 tidak mengalami perubahan dari perkiraan sebelumnya di bulan April, sementara proyeksi untuk tahun 2027 mengalami sedikit penurunan sebesar 0,1%.

Dalam konteks global, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi mencapai 5% pada tahun 2026 ini jauh lebih optimis dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan. IMF memperkirakan ekonomi dunia hanya akan tumbuh sebesar 3% pada tahun 2026. Angka ini merupakan penurunan dari 3,5% pada tahun sebelumnya dan juga lebih rendah dari prediksi 3,1% yang dikeluarkan pada April 2026.

Penurunan proyeksi ekonomi global ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik dan dampaknya terhadap pasar energi. Laporan tersebut mengutip AP yang menyebutkan bahwa guncangan energi akibat konflik yang sedang berlangsung menjadi salah satu penyebab utama perlambatan ini. Namun, IMF juga mencatat bahwa dampak negatif tersebut sebagian diimbangi oleh peningkatan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi lainnya.

IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan sedikit membaik pada tahun 2027, mencapai 3,4%. Namun, situasi ekonomi global masih dibayangi oleh ketidakpastian. Khususnya, konflik yang terjadi telah memicu lonjakan harga energi, yang berimplikasi pada kenaikan harga barang dan jasa secara umum. IMF memperkirakan harga minyak akan mengalami kenaikan hampir 32% pada tahun ini, dan inflasi harga konsumen global secara keseluruhan diproyeksikan mencapai 4,7% pada tahun 2026. Angka ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam menekan inflasi yang telah dicapai selama dua tahun terakhir kini terhenti.

Gangguan Ekonomi Dunia

Perkiraan IMF mengenai prospek ekonomi global didasarkan pada beberapa asumsi kunci. Salah satunya adalah normalisasi kembali aktivitas perdagangan di Selat Hormuz pada akhir bulan ini. Meskipun ketegangan geopolitik masih berlangsung, IMF berupaya memproyeksikan skenario yang paling mungkin terjadi. Laporan tersebut juga mengasumsikan bahwa perdagangan melalui selat strategis tersebut akan kembali normal pada bulan Maret mendatang.

Wakil Direktur Departemen Riset IMF, Petya Koeva Brooks, menyatakan bahwa ekonomi dunia telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi guncangan akibat konflik. “Ekonomi dunia telah mengatasi guncangan akibat perang lebih baik dari yang dikhawatirkan,” ujarnya kepada wartawan pada Rabu. Ia menambahkan bahwa gangguan ekonomi akibat guncangan energi dapat dibatasi berkat pemanfaatan cadangan minyak yang ada serta peningkatan produksi oleh negara-negara pengekspor minyak di luar kawasan Teluk Persia.

Negara-negara yang memiliki sumber energi sendiri dan mendapatkan manfaat dari investasi di sektor AI disebut-sebut lebih terlindungi dari dampak ekonomi negatif akibat konflik. Amerika Serikat, sebagai ekonomi terbesar di dunia, diproyeksikan akan menunjukkan pertumbuhan yang solid sebesar 2,3% pada tahun ini. Angka ini sedikit meningkat dari 2,1% pada tahun 2025 dan tidak berubah dari perkiraan bulan April. Faktor-faktor seperti pemotongan pajak yang diinisiasi oleh pemerintahan Donald Trump pada tahun 2025, peningkatan produktivitas yang signifikan, dan pasar saham yang kuat turut memberikan dorongan bagi perekonomian Amerika Serikat.

Terpukul Harga Energi

Namun, tidak semua negara berada dalam posisi yang sama. Sebanyak 21 negara Eropa yang menggunakan mata uang euro, misalnya, diprediksi hanya akan mengalami pertumbuhan sebesar 0,9% pada tahun ini. Angka ini merupakan penurunan dari 1,4% yang diproyeksikan pada tahun 2025. Perlambatan ini sebagian besar disebabkan oleh dampak kenaikan harga energi yang memberatkan perekonomian mereka.

Di sisi lain, China, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,6% pada tahun ini. Angka ini sedikit menurun dibandingkan proyeksi 5% pada tahun 2025, namun sedikit lebih optimis dibandingkan perkiraan IMF pada bulan April. Perekonomian China, yang juga terbebani oleh harga energi yang lebih tinggi dan stagnasi pasar properti, mendapatkan dukungan dari pengeluaran proyek publik, lonjakan manufaktur berteknologi tinggi, dan pertumbuhan ekspor yang pesat.

Sementara itu, India diprediksi akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara utama, dengan laju pertumbuhan mencapai 6,4%. Pertumbuhan ini didorong oleh pengeluaran konsumen yang kuat di dalam negeri.