DermayuMagz.com – Forum pemasaran berskala internasional, MMA IMPACT Indonesia 2026, resmi diselenggarakan pada Kamis (5/11/2026) dengan menghadirkan para pemimpin bisnis, eksekutif C-level, hingga pemilik usaha untuk mengupas tuntas transformasi strategi pemasaran di era digital. Pertemuan ini menjadi wadah strategis bagi lebih dari 30 pakar senior untuk membagikan wawasan berbasis data mengenai implementasi kecerdasan artifisial (AI) dan efektivitas pemasaran dalam mendorong pertumbuhan perusahaan.

Fokus utama dalam gelaran ini adalah pergeseran posisi pemasaran dari sekadar fungsi pendukung menjadi penggerak utama nilai bisnis. Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan perilaku konsumen, para pelaku industri dituntut untuk mampu membuktikan kontribusi pemasaran terhadap performa finansial perusahaan secara terukur, bukan sekadar mengejar popularitas atau jangkauan semata.

Potensi Ekonomi Digital dan Peran AI

Indonesia saat ini berada di posisi kunci dalam lanskap ekonomi digital Asia Tenggara. Proyeksi ekonomi digital nasional diperkirakan menyentuh angka US$600 miliar atau sekitar Rp9.900 triliun pada tahun 2030. Integrasi AI diprediksi menjadi katalis penting yang berpotensi menyumbang peningkatan PDB sebesar 12% atau senilai Rp6.039 triliun dalam periode yang sama.

Sektor ekonomi kreatif juga menunjukkan performa yang solid dengan nilai investasi mencapai US$11,32 miliar atau setara Rp186,78 triliun. Sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,86% yang melampaui rata-rata pertumbuhan nasional, sekaligus menjadi penyerap tenaga kerja yang signifikan dengan total 27,4 juta pekerja.

Beberapa poin krusial yang dibahas dalam forum tersebut meliputi:

Autentisitas dalam Narasi Bisnis

Dalam sesi khusus bertajuk “The Power Of Human Storytelling In A World Hungry For Meaning”, Prof. D.Sc Ir. Mohammed Ali Berawi M.Eng.Sc., Ph.D, Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, menekankan bahwa meskipun teknologi AI mampu mempercepat produksi konten, esensi dari ekonomi kreatif tetap terletak pada narasi autentik manusia.

Ia menambahkan bahwa ekonomi kreatif Indonesia yang mencakup sektor fesyen dan kriya telah memberikan kontribusi ekspor yang besar. Strategi ke depan difokuskan pada pemberdayaan kekayaan intelektual lokal agar mampu menjadi penggerak ekonomi yang berkelanjutan.

Pemasaran sebagai Mesin Pertumbuhan

Global Chief Executive Officer MMA, Greg Stuart, yang hadir langsung dari New York, menegaskan bahwa era pemasaran berbasis opini sudah berakhir. Ia mendorong para Chief Marketing Officer (CMO) untuk bertransformasi menjadi pemimpin yang berbasis bukti (evidence-based) dan mampu mengukur dampak pemasaran secara presisi.

Senada dengan hal tersebut, Sutanto Hartono, CEO EMTEK Media & Vidio sekaligus Chairperson MMA Indonesia, menyatakan bahwa pemasaran harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa bisnis yang dimengerti ruang rapat direksi. Hal ini mencakup kemampuan dalam membuka segmen pasar baru, menciptakan proposisi nilai yang unik, hingga mengembangkan model pendapatan baru yang terukur.

Shanti Tolani, Country Head dan Board Director MMA Indonesia, menutup rangkaian diskusi dengan menekankan pentingnya sinergi antara sains dan seni dalam pemasaran. Menurutnya, pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu mengoptimalkan AI untuk pertumbuhan bisnis tanpa kehilangan kedekatan dengan konsumen, serta tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap merek yang mereka kelola.

MMA IMPACT Indonesia 2026 menjadi penegasan bahwa kolaborasi antara brand, agensi, dan platform menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing industri pemasaran di Indonesia. Dengan memanfaatkan data dan teknologi secara bijak, pemasaran diposisikan untuk memberikan dampak nyata terhadap kapitalisasi pasar dan keberlangsungan bisnis perusahaan.