DermayuMagz.com – Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, menyoroti pentingnya penguatan basis dana murah bagi industri perbankan Indonesia di tengah kondisi likuiditas yang semakin ketat.
Dana murah, yang meliputi simpanan dalam bentuk tabungan dan giro, dianggap sebagai fondasi utama yang krusial bagi stabilitas dan daya saing bank. Hery Gunardi menekankan bahwa bank yang mampu menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk CASA (Current Account Savings Account) secara konsisten akan memiliki keunggulan kompetitif.
Hal ini dikarenakan dana murah memiliki biaya dana (cost of fund) yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen pendanaan lainnya. Dengan demikian, bank dapat lebih terlindungi dari dampak fluktuasi suku bunga yang mungkin meningkat tajam di pasar keuangan.
“Ketahanan likuiditas adalah non-negotiable,” tegas Hery Gunardi dalam pernyataannya yang dikutip dari Antara pada Jumat, 26 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa kemampuan bank dalam mengelola arus kas dan likuiditas menjadi penentu utama daya tahan mereka dalam menghadapi dinamika ekonomi global maupun domestik.
Perbanas mendorong agar bank tidak hanya fokus pada penghimpunan dana murah, tetapi juga senantiasa menjaga kedisiplinan dalam manajemen aset dan liabilitas (ALMA). Pengelolaan ALMA yang cermat menjadi semakin penting ketika ruang gerak likuiditas di industri perbankan mulai menyempit.
Dalam konteks ini, bank yang memiliki struktur dana murah yang kuat akan lebih mampu menghadapi tantangan ekonomi, termasuk potensi kenaikan suku bunga acuan yang dapat memengaruhi biaya dana. Ini juga menjadi strategi penting untuk menjaga margin keuntungan bank tetap stabil.
Penyaluran Kredit Harus Selektif dan Produktif
Selain memperkuat sisi pendanaan, Hery Gunardi juga menyoroti perlunya perombakan strategi dalam penyaluran kredit. Di tengah kondisi likuiditas yang mengetat, bank diminta untuk lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman.
Prioritas utama harus diberikan kepada sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi produktivitas tinggi dan daya tahan yang kuat terhadap gejolak ekonomi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan sebagai kredit dapat memberikan manfaat ekonomi yang maksimal dan meminimalkan risiko kredit macet.
Hery Gunardi memaparkan bahwa ekspansi kredit harus dilakukan dengan perhatian besar pada aspek mitigasi risiko. Industri perbankan wajib menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) secara ketat dan terukur dalam setiap proses pemberian kredit.
Ini mencakup penentuan *risk appetite* sektoral yang disesuaikan dengan perkembangan makroekonomi terkini. Bank diharapkan mampu mengidentifikasi sektor-sektor yang prospektif dan memiliki ketahanan yang baik.
Strategi lain yang direkomendasikan adalah pembangunan rantai pasokan pembiayaan (*credit pipeline*) yang berkualitas tinggi. Bank didorong untuk beralih dari pendekatan pembiayaan parsial menjadi pendekatan ekosistem bisnis yang lebih komprehensif, mencakup seluruh tahapan dari hulu ke hilir.
Manajemen Risiko dan Kesiapan Penagihan Kredit
Lebih lanjut, Hery Gunardi menekankan pentingnya proaktivitas manajemen perbankan dalam memantau kualitas portofolio aset mereka. Pengawasan dini terhadap potensi masalah pada aset jauh lebih efektif dibandingkan melakukan penanganan ketika kredit sudah terlanjur bermasalah.
Untuk menjaga kesehatan aset, bank perlu memperkuat proses asesmen pinjaman (*underwriting*) agar menjadi lebih ketat. Selain itu, penerapan sistem peringatan dini (*early warning system*) yang lebih granular dan mendetail sangat diperlukan.
Dengan sistem pemantauan yang sensitif, potensi peningkatan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dapat dideteksi dan diintervensi sejak dini. Kesiapan tim penagihan di lapangan juga menjadi krusial sebelum kualitas kolektibilitas nasabah menurun secara signifikan.
Hery menegaskan pentingnya, “kesiapan fungsi penagihan (*collection readiness*) apabila kualitas kolektibilitas mulai menurun.”
Melalui kombinasi antara manajemen likuiditas yang disiplin, penyaluran kredit yang selektif dan produktif, serta pengawasan kualitas aset yang ketat, Perbanas optimis bahwa industri perbankan Indonesia akan mampu mempertahankan kinerja yang solid hingga akhir tahun 2026.






