PFI Minta Operasi Pencarian Jurnalis dan Kru Kapal Dilanjutkan

News3 Dilihat

DermayuMagz.com – Penemuan jenazah salah satu kru kapal KM Arupadhatu I, Surakman, di pesisir Pulau Enggano, Bengkulu Utara, memicu desakan baru dari komunitas pers. Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) secara resmi meminta otoritas terkait untuk membuka kembali operasi pencarian yang sebelumnya telah dihentikan.

Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, menyatakan bahwa temuan jenazah tersebut merupakan bukti autentik pertama sejak hilangnya rombongan kapal. Ia menegaskan bahwa penemuan ini mematahkan berbagai spekulasi dan memberikan petunjuk krusial mengenai keberadaan kapal serta para korban lainnya.

Operasi pencarian gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, dan Polri sebelumnya telah resmi ditutup pada 17 September 2026. Namun, PFI mengingatkan adanya komitmen awal dari otoritas SAR bahwa operasi akan diaktifkan kembali secara otomatis jika ditemukan petunjuk atau tanda baru terkait keberadaan korban.

PFI mendesak agar penyisiran dilakukan lebih intensif dengan fokus pada area sekitar lokasi ditemukannya jenazah Surakman serta jalur perairan yang membentang dari Selat Sunda menuju Pulau Enggano. Pihaknya berharap negara dapat hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan lima jurnalis dan dua kru kapal lainnya yang hingga kini masih berstatus hilang.

Adapun kelima jurnalis yang masih dalam pencarian adalah Yudistiro Pranoto (iNews), Donal Husni (Jurnalis Lepas), Arie Basuki (Merdeka.com), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Muhammad Bagus Khoirunas (LKBN Antara). PFI memastikan akan terus melakukan pendampingan penuh kepada pihak keluarga hingga proses pencarian menemui titik terang.

Kronologi dan Upaya Pencarian

Sebelum penghentian operasi pada 17 September 2026, tim SAR gabungan telah menempuh upaya panjang dalam menyisir perairan. Pencarian pada hari-hari awal difokuskan pada rute perjalanan rombongan menuju Gunung Anak Krakatau, mencakup area dari Carita hingga sejumlah pulau di sekitarnya.

Dalam operasi tersebut, tim membagi wilayah pencarian ke dalam lima unit Search and Rescue (SRU) yang dilengkapi dengan berbagai armada laut, antara lain:

  • KN SAR Tetuka dengan jangkauan 68 NM.
  • KAL Anyer milik TNI AL dengan jangkauan 69 NM.
  • Armada RIB 01 dan 03 dari Basarnas Lampung.
  • KP Sanjaya milik Polairud Polda Banten.

Sepanjang masa pencarian, tim sempat menemukan beberapa benda seperti life jacket, helm proyek, dan jeriken. Namun, hingga operasi ditutup, belum ada konfirmasi resmi yang memastikan keterkaitan benda-benda tersebut dengan KM Arupadhatu I.

Kondisi cuaca, termasuk kecepatan angin yang tinggi dan ancaman debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, menjadi tantangan besar bagi tim di lapangan. Meski telah memperluas cakupan area hingga 8.508 mil laut persegi dan mengerahkan 24 kapal di hari ke-10, operasi tetap ditutup karena tidak adanya tanda-tanda keberadaan korban.

Kini, dengan ditemukannya jenazah Surakman, pihak keluarga dan organisasi profesi berharap otoritas SAR segera merespons dengan langkah konkret. Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, pada penutupan operasi sebelumnya memang telah memberikan celah bagi pembukaan kembali pencarian jika ditemukan material atau bukti yang relevan dengan kapal yang hilang tersebut.