Produksi Mobil Thailand Capai Titik Terendah dalam Lima Tahun Terakhir

Otomotif9 Dilihat

DermayuMagz.com – Produksi mobil di Thailand dilaporkan mengalami penurunan signifikan, mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir pada April 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang menghambat aktivitas industri otomotif.

Menurut data dari Federasi Industri Thailand (FTI), jumlah produksi kendaraan pada April 2026 tercatat sebanyak 103.794 unit. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,44 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan bulan Maret 2026, di mana industri otomotif Thailand sempat menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan produksi sebesar 2,69 persen secara tahunan. Penurunan pada April lalu menandakan adanya tantangan baru yang dihadapi sektor tersebut.

Pelemahan produksi kendaraan di Thailand tidak hanya disebabkan oleh masalah geopolitik global. Kenaikan harga energi global juga turut memberikan tekanan pada biaya operasional industri otomotif, yang pada akhirnya berimbas pada volume produksi.

Meskipun produksi dan ekspor mengalami tekanan, data menunjukkan bahwa penjualan mobil di pasar domestik Thailand justru masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Hal ini memberikan sedikit angin segar bagi industri otomotif negara tersebut.

FTI melaporkan bahwa penjualan kendaraan di pasar lokal mengalami kenaikan sebesar 2,54 persen. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh tingginya minat konsumen yang terlihat pada acara Bangkok Motor Show.

Pameran otomotif tersebut berhasil mencatatkan pemesanan kendaraan sebanyak 48.394 unit. Angka ini menunjukkan bahwa minat masyarakat Thailand terhadap kendaraan baru masih cukup kuat.

Minat konsumen yang tinggi ini juga didukung oleh berbagai strategi promosi yang ditawarkan oleh para produsen otomotif. Banyak merek yang menghadirkan model-model elektrifikasi terbaru dan berbagai penawaran menarik selama pameran berlangsung.

Di sisi lain, sektor ekspor kendaraan Thailand juga mengalami penurunan yang cukup berarti. Pada April 2026, ekspor mobil dari Thailand tercatat turun sebesar 8,43 persen, mencapai 60.190 unit.

Baca juga : Motor Honda Supra Hilang Misterius, Sorotan Warga Desa Ranjeng Losarang

Faktor Penyebab

Penurunan dalam sektor ekspor ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan total produksi otomotif Thailand. Hal ini penting mengingat Thailand selama ini dikenal sebagai salah satu basis produksi dan ekspor kendaraan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Thailand memiliki peran strategis sebagai pusat manufaktur bagi berbagai produsen otomotif global terkemuka. Merek-merek seperti Toyota, Honda, serta produsen asal Tiongkok seperti BYD dan Great Wall Motors, memiliki fasilitas produksi di negara ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, para produsen asal Tiongkok secara khusus terus meningkatkan investasi mereka di Thailand. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik Tiongkok sekaligus memperluas jangkauan ekspor ke pasar regional.

Secara historis, Thailand dan Indonesia selalu bersaing ketat dalam memperebutkan posisi sebagai pusat industri otomotif terbesar di Asia Tenggara. Kedua negara ini sama-sama menjadi basis produksi yang krusial bagi berbagai merek otomotif global.

Namun, lanskap industri otomotif regional kini dihadapkan pada tantangan serius. Tekanan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta perlambatan dalam sektor ekspor menjadi isu-isu yang perlu diatasi.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, FTI tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek industri otomotif Thailand untuk keseluruhan tahun 2026. Federasi tersebut memproyeksikan bahwa produksi mobil di Thailand masih dapat tumbuh sekitar 3 persen.

Target pertumbuhan tersebut diharapkan dapat membawa total produksi mobil Thailand mencapai 1,5 juta unit pada tahun ini. Angka ini merupakan target yang ambisius mengingat kondisi pasar saat ini.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, produksi kendaraan di Thailand tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 0,9 persen, dengan total produksi mencapai 1,455 juta unit. Angka tersebut menjadi patokan penting dalam memproyeksikan pertumbuhan di tahun berikutnya.