DermayuMagz.com – Aktor kenamaan asal Inggris, Rowan Atkinson, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Mr. Bean, baru-baru ini membagikan pandangannya mengenai industri film dan bagaimana ia kini menilai sebuah karya. Atkinson secara terbuka mengakui bahwa ia telah lama berhenti membaca ulasan atau kritik film. Keputusannya ini diambil sejak akhir tahun 1990-an, menandai pergeseran fokusnya dalam mengevaluasi keberhasilan sebuah produksi.
Bagi Atkinson, metrik utama kesuksesan sebuah film atau serial kini tidak lagi terletak pada penilaian para kritikus. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya data penonton sebagai tolok ukur yang sesungguhnya. Ia berpendapat bahwa jumlah orang yang menonton sebuah karya dan antusiasme mereka untuk menyaksikan lebih banyak produksi serupa adalah indikator keberhasilan yang paling relevan.
“Satu-satunya hal yang menarik minat saya adalah berapa banyak orang menonton ini, dan apakah mereka ingin menonton lebih banyak. Itulah tes penentu, tanda kesuksesan bagi saya,” ungkap Atkinson saat menghadiri acara pemutaran perdana serial terbarunya di Netflix, Man Vs Baby, di London. Pernyataannya ini dikutip oleh Variety pada Kamis lalu.
Atkinson juga sempat menyinggung karakter-karakter yang kerap ia perankan, yang seringkali memiliki sifat yang tidak selalu menyenangkan. Ia mengakui bahwa jika ia berada di posisi seorang pengulas, ia mungkin akan memberikan pandangan kritis terhadap karakter seperti Mr. Bean. Menurutnya, Mr. Bean bisa saja dinilai sebagai tokoh yang egois dan cenderung anarkis.
“Saya tidak menyukai Mr. Bean sebagai pribadi. Saya tentu tidak ingin makan malam bersamanya,” ujarnya dengan nada bercanda, menunjukkan jarak antara dirinya dengan karakter ikoniknya tersebut. Pernyataan ini menyoroti bagaimana ia mampu memisahkan identitas pribadi dari peran yang ia bawakan.
Meskipun Atkinson memiliki pandangan pribadi yang demikian terhadap karakternya, Mr. Bean tetap menjadi salah satu ikon komedi terbesar dari Inggris. Sejak debutnya pada tahun 1990, karakter ini telah berhasil menembus pasar global, ditayangkan di lebih dari 190 negara. Popularitasnya juga terlihat jelas di platform digital, di mana kanal YouTube resminya telah mengumpulkan lebih dari 35 juta pelanggan dan mencapai 12 miliar penayangan.
Baca juga di sini: Perayaan Patah Hati Babak 2: for Revenge Menutup Kisah Kehilangan dengan Penerimaan
Atkinson mengemukakan bahwa tingkah laku Mr. Bean yang seringkali kekanak-kanakan, meskipun mungkin tidak mencerminkan sosok yang “baik” dalam artian konvensional, justru menjadi daya tarik utamanya bagi banyak penonton. Keunikan inilah yang membuatnya dicintai oleh khalayak luas di seluruh dunia.
“Mungkin dia sedikit mirip saya saat berusia 10 tahun, dengan ego kekanak-kanakan dan cara menyelesaikan masalah yang aneh. Tapi tetap saja, saya tidak ingin dia berada di rumah saya,” tutur Atkinson, kembali menegaskan sisi humorisnya dalam memandang karakter yang telah membesarkan namanya.
Selain Mr. Bean, Atkinson juga merefleksikan karakter-karakter lain yang pernah ia perankan. Ia melihat Blackadder sebagai sosok yang sinis dan cenderung negatif, sementara Johnny English digambarkannya sebagai karakter yang sia-sia dan kurang memiliki daya tarik yang mendalam. Berbeda dengan karakter-karakter tersebut, dalam serial terbarunya, Man Vs Baby, Atkinson merasa memerankan Trevor Bingley yang memiliki sifat lebih hangat dan menyenangkan.
“Saya cukup menikmati berperan sebagai orang baik, sesuatu yang jarang saya lakukan,” akunya, menandakan apresiasi terhadap kesempatan untuk mengeksplorasi sisi peran yang berbeda dalam kariernya. Hal ini menunjukkan kedalaman artistiknya dalam berakting.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya kelanjutan dari seri komedi yang ia bintangi, Atkinson menegaskan kembali prinsipnya. Ia menyatakan bahwa semua keputusan terkait masa depan sebuah proyek akan sangat bergantung pada data penonton. Jika penonton menunjukkan minat yang kuat dan keinginan untuk melihat lebih banyak, maka kelanjutan seri tersebut akan menjadi pertimbangan utama.






