Ustadz Abdul Aziz: Jaga Lisan di Era Digital, Jalan Surga/Neraka

Indramayu4 Dilihat

DermayuMagz.com – Lisan, sebuah anugerah sekaligus amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia, memiliki kekuatan luar biasa. Dalam ajaran Islam, perkataan yang terucap dari bibir tidak hanya sekadar alat komunikasi sehari-hari, melainkan sebuah pertaruhan besar yang akan menentukan nasib seseorang di akhirat kelak, apakah akan membawanya menuju surga atau justru terjerumus ke dalam jurang neraka.

Ustadz Abdul Aziz, seorang tokoh agama yang kerap memberikan pencerahan spiritual, mengingatkan umat muslim akan urgensi menjaga lisan, terutama di era digital yang serba cepat dan rentan terhadap penyebaran informasi tanpa filter.

Beliau menekankan bahwa lisan bukan hanya sekadar organ pengucap, melainkan cerminan dari isi hati dan pikiran seseorang. Setiap kata yang terucap memiliki konsekuensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, menjaga lisan menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim yang mendambakan keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam sebuah kesempatan kajian keagamaan, Ustadz Abdul Aziz mengutip berbagai dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menegaskan betapa pentingnya menjaga ucapan. Salah satu pesan yang paling fundamental adalah bahwa setiap perkataan manusia akan dicatat oleh malaikat dan menjadi saksi di hari perhitungan kelak.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa lisan memiliki dimensi spiritual yang sangat mendalam. Ia bukan hanya alat untuk berinteraksi sosial, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta atau justru menjauhkan diri dari rahmat-Nya.

Ustadz Abdul Aziz menjelaskan lebih lanjut bahwa lisan yang terjaga adalah lisan yang senantiasa digunakan untuk kebaikan. Ia bisa menjadi jalan menuju surga ketika digunakan untuk berdakwah, mengajak pada kebaikan, memberikan nasihat yang membangun, mengucapkan kalimat thayyibah seperti zikir dan doa, serta berkata jujur dan benar.

Namun, sebaliknya, lisan yang tidak terkontrol dapat menjadi senjata makan tuan. Ucapan yang kasar, fitnah, adu domba, kebohongan, ghibah (menggunjing), dan perkataan sia-sia lainnya dapat menyeret pelakunya ke dalam dosa yang besar dan mengundang murka Allah.

Fenomena era digital saat ini semakin memperumit tantangan dalam menjaga lisan. Kemudahan akses internet dan platform media sosial seolah membuka keran lebar bagi siapa saja untuk menyuarakan pendapatnya tanpa batasan. Informasi, baik yang benar maupun salah, dapat menyebar dengan kecepatan kilat, seringkali tanpa verifikasi yang memadai.

Ustadz Abdul Aziz menyoroti bagaimana banyak individu tergelincir dalam dosa lisan melalui media sosial. Komentar pedas, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, dan bahkan perdebatan sengit yang tidak produktif menjadi pemandangan umum.

Perkataan yang diunggah di dunia maya, meskipun hanya berupa tulisan, tetap memiliki dampak yang sama besarnya dengan ucapan lisan secara langsung. Ia dapat menyakiti hati, merusak reputasi, memecah belah persatuan, dan menimbulkan fitnah yang luas.

Oleh karena itu, Ustadz Abdul Aziz memberikan beberapa panduan praktis bagi umat muslim dalam menghadapi tantangan menjaga lisan di era digital:

  • Berpikir Sebelum Mengetik: Sama seperti sebelum berbicara, penting untuk merenungkan setiap kata yang akan diketikkan. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ucapan ini bermanfaat? Apakah mengandung kebaikan? Apakah akan menyakiti orang lain?
  • Filter Informasi: Jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Lakukan verifikasi sumber dan hindari ikut serta dalam penyebaran hoaks.
  • Menahan Diri dari Perdebatan Sia-sia: Terkadang, lebih baik diam daripada terlibat dalam argumen yang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kemarahan dan dosa.
  • Menggunakan Media Sosial untuk Kebaikan: Manfaatkan platform digital untuk menyebarkan ilmu, berbagi inspirasi positif, mengajak pada kebaikan, dan membangun hubungan yang harmonis.
  • Memperbanyak Zikir dan Doa: Memohon perlindungan kepada Allah agar dijaga lisan dari perkataan yang buruk adalah salah satu cara yang paling efektif.

Ustadz Abdul Aziz juga mengingatkan bahwa lisan yang terjaga bukan berarti menjadi orang yang pasif atau tidak berani bersuara. Keberanian dalam menyampaikan kebenaran dan amar ma’ruf nahi munkar tetap penting, namun harus dilakukan dengan cara yang bijak, santun, dan berdasarkan ilmu.

Beliau mengibaratkan lisan sebagai pedang bermata dua. Jika digunakan dengan benar, ia bisa menjadi alat yang ampuh untuk kebaikan dan membawa keberkahan. Namun, jika disalahgunakan, ia bisa menjadi sumber kehancuran bagi diri sendiri dan orang lain.

Pesan Ustadz Abdul Aziz ini menjadi pengingat yang sangat relevan bagi seluruh umat muslim di era modern ini. Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan berkomunikasi, menjaga lisan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang akan menentukan kualitas keimanan dan nasib kita di kehidupan abadi.

Dengan kesadaran yang tinggi dan upaya terus-menerus, setiap individu dapat menjadikan lisannya sebagai jembatan menuju surga, bukan justru jurang neraka.