DermayuMagz.com – VinFast, perusahaan otomotif asal Vietnam, tengah bersiap melakukan restrukturisasi bisnis secara besar-besaran. Langkah strategis ini melibatkan penjualan aset produksi domestik dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 530 juta, atau sekitar Rp 9,3 triliun.
Keputusan ini merupakan bagian dari upaya VinFast untuk mengadopsi model bisnis yang lebih ramping, yaitu asset-light. Tujuannya adalah untuk mengurangi beban finansial perusahaan dan meningkatkan fleksibilitas operasionalnya.
Dokumen perusahaan mengungkapkan bahwa VinFast akan memisahkan aset produksinya dari anak usaha, VinFast Trading and Production JSC (VFTP). Selanjutnya, seluruh saham VFTP akan dialihkan kepada kelompok investor yang dipimpin oleh Future Investment Research and Development JSC (FIRD).
Menariknya, Pham Nhat Vuong, pendiri sekaligus CEO VinFast, juga turut serta dalam kelompok investor tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen kuat dari jajaran pimpinan terhadap arah baru perusahaan.
Dengan restrukturisasi ini, VinFast diharapkan dapat lebih memfokuskan sumber dayanya pada pengembangan produk, inovasi teknologi, penguatan merek, serta ekspansi pasar global. Model bisnis baru ini akan membebaskan perusahaan dari keharusan melakukan investasi besar pada fasilitas produksi.
Akibatnya, arus keuangan perusahaan diprediksi akan menjadi lebih sehat. Namun, VinFast menegaskan bahwa mereka tidak akan sepenuhnya meninggalkan bisnis produksi kendaraan.
Pabrik yang berlokasi di Vietnam akan tetap beroperasi untuk memproduksi mobil listrik VinFast. Hal ini akan dilakukan melalui perjanjian manufaktur antara VFVN dan VFTP, di mana desain dan standar teknis tetap di bawah kendali VinFast.
Perusahaan juga akan mempertahankan fasilitas perakitan di India dan Indonesia. Selain itu, hak kekayaan intelektual untuk generasi terbaru kendaraan listriknya juga akan tetap dipegang oleh VinFast.
Langkah restrukturisasi ini dinilai dapat meringankan tekanan finansial VinFast, terutama setelah perusahaan mengalami kerugian yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kerugian ini sebagian besar disebabkan oleh tingginya biaya produksi.
Selain itu, restrukturisasi ini juga mencakup pengalihan utang senilai sekitar US$ 6,9 miliar, atau setara Rp 122,1 triliun, kepada entitas baru yang akan mengambil alih bisnis manufaktur.
Dengan skema ini, VinFast berharap dapat bergerak lebih lincah dalam menghadapi persaingan ketat di industri kendaraan listrik global. Meskipun demikian, beberapa analis menyuarakan kekhawatiran mengenai kompleksitas transaksi ini, terutama terkait keterlibatan pihak-pihak yang masih memiliki hubungan dengan grup usaha Vingroup.
Baca juga : ITPB Indramayu: Kurban & Kepedulian Sosial Idul Adha 1447 H
Terlepas dari potensi tantangan, banyak investor melihat restrukturisasi ini sebagai fondasi penting bagi VinFast. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perusahaan menuju profitabilitas dan memperkuat posisinya dalam ekspansi global di masa depan.






