VW Desak Uni Eropa Naikkan Tarif PHEV China, Ini Alasannya

Otomotif5 Dilihat

DermayuMagz.com – Dominasi produsen otomotif asal China di pasar Eropa kini memicu kekhawatiran serius dari para raksasa industri otomotif benua biru, salah satunya Volkswagen Group. CEO Volkswagen, Oliver Blume, secara terbuka menDesak Uni Eropa (UE) untuk segera meninjau kembali kebijakan tarif impor, khususnya yang menyasar kendaraan berteknologi plug-in hybrid (PHEV) asal Tiongkok.

Langkah ini dianggap krusial oleh pihak Volkswagen sebagai upaya menciptakan iklim kompetisi yang lebih adil. Saat ini, Uni Eropa memang telah menerapkan kebijakan tarif tambahan bagi mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV), namun regulasi tersebut belum mencakup kategori PHEV, sehingga menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh merek-merek asal China untuk memperluas pangsa pasar mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari InsideEVs, Blume menegaskan bahwa Volkswagen sebenarnya cukup percaya diri dengan daya saing mereka di segmen BEV berkat regulasi yang sudah berjalan efektif. Namun, ia menyoroti bahwa kesenjangan aturan pada sektor PHEV telah membuat posisi produsen lokal tertekan.

Blume mengusulkan agar Uni Eropa menerapkan tarif tambahan hingga mencapai 35 persen untuk PHEV asal Tiongkok. Jika usulan ini disetujui dan digabungkan dengan bea masuk standar sebesar 10 persen yang sudah ada, maka total beban pajak impor untuk kendaraan tersebut bisa melonjak hingga 45 persen. Kebijakan proteksionis ini diharapkan mampu membendung laju serbuan kendaraan China yang dinilai memiliki keunggulan kompetitif dalam hal harga.

Kekhawatiran Volkswagen ini bukanlah tanpa alasan. Data menunjukkan bahwa selama enam bulan pertama tahun 2026, produsen asal Tiongkok berhasil menguasai 28,3 persen pangsa pasar PHEV di Eropa. Dampak dari penetrasi ini sangat terasa bagi pemain lama; model Volkswagen Tiguan yang sebelumnya memegang takhta sebagai PHEV terlaris, kini terlempar dari posisi tiga besar, digeser oleh model-model dari pabrikan China yang mencatatkan angka penjualan lebih masif.

Pentingnya Segmen PHEV bagi Industri Eropa

Penting untuk dipahami bahwa teknologi plug-in hybrid memegang peranan strategis bagi produsen otomotif di Eropa. Kendaraan jenis ini menawarkan solusi transisi yang ideal bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke mobil listrik murni (BEV), namun tetap menginginkan efisiensi bahan bakar dan emisi yang lebih rendah.

Secara teknis, PHEV menggabungkan mesin pembakaran internal dengan sistem penggerak listrik. Kombinasi ini tidak hanya menjadi pilihan favorit konsumen, tetapi juga membantu pabrikan otomotif dalam memenuhi target ambisius pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) yang ditetapkan oleh otoritas Uni Eropa.

Ke depan, Volkswagen berharap agar Uni Eropa segera merespons desakan ini untuk memperkuat posisi industri otomotif lokal. Persaingan dengan merek-merek China kini menjadi ujian berat bagi produsen Eropa, terutama saat kendaraan elektrifikasi seperti PHEV telah menjadi medan tempur utama dalam memperebutkan loyalitas konsumen di pasar otomotif global.

“Peraturan yang berlaku untuk BEV berjalan dengan baik. Di segmen tersebut, kami kompetitif dalam hal harga. Namun, hal yang belum berjalan dengan baik adalah untuk PHEV,” ujar Oliver Blume, CEO Volkswagen Group.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari pihak Uni Eropa terkait desakan penyesuaian tarif tersebut. Namun, desakan dari pemain besar seperti Volkswagen diprediksi akan menjadi pertimbangan serius bagi para pengambil kebijakan di Brussels dalam upaya menjaga keseimbangan industri otomotif di tengah arus elektrifikasi global.