Wamen LH: Menjaga Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Bersama, Bukan Hanya Pemerintah dan Perusahaan

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Isu pelestarian lingkungan hidup sering kali terjebak dalam dikotomi tanggung jawab antara pemerintah dan sektor korporasi. Namun, Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menegaskan bahwa menjaga bumi bukanlah beban yang dipikul oleh segelintir pihak saja, melainkan kewajiban kolektif seluruh lapisan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Diaz dalam acara Gerak Hijau 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Minggu (26/7/2026). Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberlanjutan

Menurut Diaz, paradigma lama yang menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya aktor pelindung lingkungan, atau perusahaan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan, harus segera diubah. Kesadaran untuk menjaga lingkungan perlu diintegrasikan ke dalam gaya hidup masyarakat sehari-hari.

“Selama ini kita sering mendengar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab pemerintah. Ada juga yang mengatakan itu tanggung jawab perusahaan. Padahal jawabannya sederhana. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Diaz dalam sambutannya.

Ia memaparkan bahwa peran pemerintah terletak pada perumusan kebijakan yang regulatif, sementara dunia usaha diwajibkan menjalankan praktik operasional yang etis dan bertanggung jawab. Masyarakat, di sisi lain, memegang peranan krusial melalui perubahan kebiasaan kecil yang berdampak besar bagi kelestarian alam.

Sektor Pertambangan dan Lingkungan

Salah satu poin menarik yang disoroti oleh Wamen LH adalah hubungan antara industri pertambangan dan pelestarian lingkungan. Diaz optimistis bahwa kedua hal tersebut dapat berjalan beriringan, asalkan pemanfaatan sumber daya alam dibarengi dengan komitmen nyata untuk memberikan kontribusi balik terhadap ekosistem.

Ia memberikan apresiasi kepada PT ANTAM yang dinilai telah melakukan langkah progresif dalam manajemen lingkungan. Beberapa capaian yang disorot meliputi keberhasilan perusahaan dalam melampaui target reklamasi lahan, efisiensi penurunan emisi karbon, serta peningkatan penggunaan energi terbarukan dalam operasional perusahaan.

Dalam momentum tersebut, ANTAM juga melakukan aksi simbolis dengan membagikan ribuan bibit pohon kepada masyarakat. Diaz berharap langkah ini tidak sekadar menjadi aktivitas seremonial, melainkan benar-benar ditanam dan dirawat oleh warga untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi penghijauan lingkungan.

Strategi Dekarbonisasi

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, memaparkan strategi perusahaan dalam mendukung visi keberlanjutan. ANTAM saat ini tengah mengakselerasi program dekarbonisasi melalui efisiensi energi dan transisi ke sumber energi baru terbarukan.

Hasil dari langkah strategis tersebut tercermin dalam performa perusahaan sepanjang tahun 2025, di mana ANTAM berhasil menurunkan emisi karbon sebesar 9,43 persen. Angka ini secara signifikan melampaui target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tren positif tersebut berlanjut hingga pertengahan tahun 2026. Perusahaan terus mengoptimalkan penggunaan teknologi ramah lingkungan, termasuk implementasi solar PV (panel surya) dan penggunaan biosolar di berbagai wilayah operasional tambang mereka.

Acara Gerak Hijau 2026 ini sendiri menjadi wadah edukasi penting bagi publik mengenai pentingnya konsep keberlanjutan atau Green Economy. Diharapkan, melalui keterlibatan aktif berbagai pihak, target Indonesia untuk mencapai masa depan yang lebih hijau dapat terwujud lebih cepat. Jika pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat mampu bergerak selaras, dampak positif bagi bumi akan terasa jauh lebih nyata.