DermayuMagz.com – Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026). Mata uang Garuda harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat setelah mengalami pelemahan signifikan sebesar 74 poin atau sekitar 0,41 persen, yang membawa posisi rupiah ke level 18.083 per dolar AS, turun dari penutupan sebelumnya di angka 18.009.
Kondisi serupa juga terpantau pada data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia. Indikator ini mencatatkan pelemahan pada posisi 18.088 per dolar AS, dibandingkan dengan level 17.995 pada perdagangan sebelumnya.
Menanti Keputusan The Fed
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sikap investor yang tengah menanti kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS tersebut diprediksi secara luas akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada pertemuan yang dijadwalkan Rabu, 29 Juli 2026.
Berdasarkan data CME FedWatch, terdapat probabilitas sekitar 62 persen bahwa suku bunga akan tetap dipertahankan. Namun, situasi global yang tidak menentu, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menambah lapisan risiko baru. Harga minyak dunia sempat mengalami lonjakan sekitar 20 persen dalam dua pekan terakhir, dipicu oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran terkait penguasaan Selat Hormuz.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga memberikan perhatian khusus pada arah kebijakan Ketua Fed, Kevin Warsh. Sejak keputusan Juni lalu, pernyataan-pernyataan Warsh cenderung bersifat hawkish. Langkahnya dalam membentuk lima gugus tugas untuk meninjau operasional Fed—termasuk kerangka komunikasi dan target inflasi—menjadi sorotan utama para pelaku pasar dalam mengukur stabilitas kebijakan moneter ke depan.
Dinamika di Dalam Negeri
Di sisi domestik, pasar sempat bereaksi negatif terhadap pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia. Peristiwa mendadak ini menciptakan ketidakpastian jangka pendek, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang seperti depresiasi rupiah, arus keluar modal asing (outflow), serta bayang-bayang kenaikan suku bunga global.
Kendati demikian, Ibrahim menilai bahwa penunjukan Destry Damayanti sebagai sosok kunci memberikan secercah optimisme. Langkah ini diharapkan mampu meredam kekhawatiran pasar terkait komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan memastikan sistem keuangan tetap terjaga dengan baik.
Ke depan, pelaku pasar kini menunggu penunjukan Gubernur BI secara definitif. Proses transisi kepemimpinan yang diharapkan berjalan lancar ini menjadi krusial demi memelihara kredibilitas serta independensi lembaga moneter dalam menetapkan kebijakan di masa depan.
Respon juga datang dari lembaga internasional. S&P Global Ratings, melalui Sovereign Analyst-nya, Rain Yin, menyatakan bahwa mundurnya Perry Warjiyo tidak memiliki dampak langsung terhadap peringkat utang (sovereign rating) Indonesia. Meski begitu, lembaga tersebut mengakui bahwa peristiwa tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan ekonomi negara dalam jangka panjang.






