Jejak Gemblengan Tjokroaminoto pada Sukarno dari Peneleh hingga Istana

News4 Dilihat

DermayuMagz.com – Bangunan bersejarah di Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya, kini menjadi saksi bisu perjalanan seorang pemuda bernama Sukarno yang ditempa oleh HOS Tjokroaminoto. Lebih dari sekadar tempat tinggal dan pendidikan politik, kediaman Tjokroaminoto menjadi ruang krusial dalam membentuk cara pandang dan pemikiran Sukarno muda.

Bagi Sukarno, Tjokroaminoto adalah sosok panutan yang tak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan hidup. Pengaruhnya terasa mendalam, membentuk fondasi intelektual dan spiritual sang proklamator.

“Pak Tjok mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat’.

Di bawah bimbingan Tjokroaminoto, Sukarno muda mendapatkan akses istimewa terhadap koleksi buku berharga milik gurunya. Waktunya dihabiskan untuk membaca dan merenung, terlibat dalam dialog batin dengan berbagai gagasan yang ditemuinya.

Ia membayangkan percakapan mendalam dengan tokoh-tokoh besar dunia. Sukarno merasa dekat dengan Thomas Jefferson, mendiskusikan Deklarasi Kemerdekaan, bahkan menelaah kehidupan George Washington dan Abraham Lincoln.

Perbincangan imajiner ini juga melibatkan figur-figur seperti Gladstone dari Britania, Sidney dan Beatrice Webb, Mazzini, Cavour, Garibaldi dari Italia, serta Otto Bauer dan Adler dari Austria.

Tak ketinggalan, ia juga berdialog dengan pemikir revolusioner seperti Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin dari Rusia. Bahkan, ia berdiskusi dengan tokoh-tokoh Prancis seperti Jean-Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaurès.

Pelajaran tentang sistem pengadilan rakyat di Yunani kuno, yang ia terima di bangku Hoogere Burger School (HBS), bertransformasi menjadi lebih dari sekadar materi akademis.

Dalam benaknya, kisah itu menjadi sebuah panggung imajiner yang dipenuhi para filsuf, negarawan, dan orator ulung yang saling bertukar gagasan tentang keadilan dan kebebasan.

“Aku membayangkan pemikir-pemikir yang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan semboyan-semboyan seperti ‘Persetan dengan Penindasan’ dan ‘Hidup Kemerdekaan’. Hatiku terbakar menyala-nyala,” kenang Sukarno.

Kamar sempitnya seringkali berubah menjadi mimbar pidato dadakan. Dengan penuh semangat, ia menyampaikan kata-kata dengan penghayatan mendalam, seolah tengah berbicara di hadapan ribuan pendengar.

Ia menggambarkan suasana ketika teman-temannya menganggapnya “gila” karena obsesinya menyelamatkan dunia, namun ia tetap larut dalam idealismenya.

Suatu ketika, ia merasakan momen di mana pintu-pintu seolah menutup, meninggalkannya sendiri dalam kegelapan, namun semangatnya tak pernah padam.

Bertemu Tokoh Pergerakan

Sukarno. ©2015 Merdeka.com/ Ridwan Kamil Facebook

Seiring bertambahnya usia, dunia Sukarno muda tak hanya dibentuk oleh buku. Rumah Tjokroaminoto di Peneleh membukakan pintu baginya untuk berinteraksi langsung dengan para tokoh pergerakan nasional yang kerap berkunjung.

Hampir setiap hari, para pemimpin Sarekat Islam dari berbagai daerah maupun tokoh dari organisasi lain singgah, bahkan menginap selama beberapa waktu.

Saat teman-temannya asyik menonton pertandingan sepak bola, Sukarno memilih untuk tetap di rumah. Ia duduk menyimak percakapan para tamu Tjokroaminoto, menyerap cerita, perdebatan, dan pengalaman mereka.

Tak jarang, ia berbagi tempat tidur dengan salah seorang tokoh yang menginap, menghabiskan malam hingga dini hari untuk mendengarkan kisah dan pandangan mereka tentang perjuangan bangsa.

Momen yang paling dinantikannya adalah saat makan bersama. Di meja makan, para tamu dan penghuni rumah duduk layaknya sebuah keluarga. Di sanalah diskusi politik mengalir bebas, dan Sukarno muda dengan cermat menyerap setiap percakapan, sesekali memberanikan diri bertanya.

“Sekali pada waktu makan malam mereka mempersoalkan kapitalisme dan barang-barang yang diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaya Negeri Belanda. Di saat itulah aku bertanya pelan,”

“Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?”

“Anak ini sangat ingin tahu,” senyum Pak Tjok, kemudian menambahkan, “De Vereenigde Oost-Indische Compagnie menyedot—atau mencuri—kira-kira 1.800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag.”

“Apa yang tinggal di negeri kita?” Kali ini aku bertanya sedikit lebih keras.

“Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, yaitu orang yang memperkenalkanku kepada Marxisme.

“Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa,” sela kawannya yang bernama Musso.

“Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi-mosi kepada pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan tampak senang karena mempunyai murid yang begitu bersemangat. “Pengurangan pajak dan serikat-serikat pekerja hanya dapat digerakkan dengan kerja sama dengan Belanda, sekalipun kita membenci kerja sama ini.”

Berbagai gagasan yang diperolehnya dari buku dan percakapan dengan para tokoh pergerakan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata. Sukarno muda mulai merangkai semuanya dalam benaknya, menghubungkan apa yang dibacanya dengan apa yang didengarnya setiap hari.

Dari perenungan-perenungan itulah tumbuh kesadaran baru. Kekaguman terhadap tokoh-tokoh dunia perlahan bertransformasi menjadi kecintaan yang mendalam terhadap tanah airnya sendiri.

Sejarawan Ingatkan Pentingnya Keteladanan di Tengah Gempuran Medsos

Sejarawan Adrian Perkasa menyoroti pentingnya pelajaran dari hubungan guru-murid antara HOS Tjokroaminoto dan Sukarno, yang dinilai sangat relevan bagi generasi muda Indonesia saat ini, khususnya dalam menumbuhkan semangat belajar dan membentuk karakter.

“Sosok Sukarno muda mempelajari sangat detail apa yang diajarkan oleh Pak Tjokro, yang diajarkannya bukan secara langsung dan verbal, tapi non verbal, bagaimana memahami, melihat, kemudian meniru apa yang dilakukan Pak Tjokro, misalnya gaya pidatonya, pemikiran-pemikirannya,” ujar Adrian kepada Liputan6.com.

Dosen Universitas Airlangga ini menekankan bahwa proses pembelajaran yang membentuk karakter dan cara berpikir seperti yang dialami Sukarno tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh media sosial. Oleh karena itu, generasi muda perlu mencari ruang belajar yang lebih mendalam dan interaktif.

“Karena keteladan yang sifatnya non verbal itu hanya bisa dipelajari, hanya bisa dipahami, diresapi dengan seksama apabila diikuti langsung, dan sang pelajar itu konsisten secara fisik, jadi ada contact in person,” jelasnya.